Puisi Sigit Setyawan
untuk murid Amanda
Sepi
Sunyi
Kosong
Hampa
Limbung
Nanar
Aku mengaduh
Aku bersimpuh
Aku menangis
Aku mengais
Bukan bagaimana pergi
Tapi bagaimana tinggal
Bukan waktu
Tetapi arti
Apakah semua harus kupahami
Ataukah kurelakan
Sebab pada perasaan rela
Kutemukan kekuatan
Selamat jalan
Kulepas engkau pada Guru Sejati
Jakarta, 30 Maret 2011
Rabu, 30 Maret 2011
Rabu, 01 September 2010
Akhlak Mulia Jangan Sebatas Teori
Sebuah sharing. Merupakan makalah di bidang evaluasi dan pengukuran. Tulisan akademik tentunya.
Hermeneutika Cicak Buaya dan Perlawanan di Ruang Publik
Cicak melawan buaya yang bergulir beberapa waktu lalu.
Aplikasi Moodle dan Desknow dalam Pendidikan
Sekedar sharing makalah yang agak serius mengenai Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan.
Kamis, 08 Juli 2010
Kebenaran dalam Sepak Bola
Menyaksikan laga sepak bola melalui televisi membuka mata saya pada sebuah “kebenaran” di lapangan permainan. Sepak bola adalah sebuah “permainan manusia”, di dalamnya ada kesalahan dan ketidaksempurnaan. Sebagai contoh, pemain dalam posisi off side tidak dilihat oleh wasit, gol yang telah masuk dan memantul keluar dan wasit mengira memang itu bukan gol, keduanya adalah peristiwa yang dilihat “jelas” oleh kita yang berada di rumah.
Persoalannya adalah, kita di rumah melihat dengan mata kamera. Fakta itu diulang-ulang dalam gerak lambat dari berbagai sisi, sementara para wasit melihat dari mata mereka dalam sudut yang terbatas.
Ada wacana untuk menggunakan teknologi, sehingga keputusan wasit menjadi akurat. Namun, apa makna dari akurat itu?
Jika wasit menggunakan teknologi dan “kebenaran” yang sebenar-benarnya menjadi acuan, maka sepak bola menjadi kehilangan makna kemanusiaannya. Terlihat jelas bahwa paradigma bermain bola adalah semata-mata untuk sebuah kemenangan. Hal seperti itu adalah sebuah kemunduran bagi sepak bola karena keindahan permainan menjadi hilang.
Kemunduran itu muncul dari permainan beberapa kesebelasan yang bermain sangat pragmatis, yaitu bermain untuk menang. Hal itu mengingatkan saya pada belajar hanya untuk nilai. Saya juga teringat ada siswa yang bermain tidak untuk having fun, tetapi semata-mata untuk sebuah kompetisi. Betapa ruginya kita sebagai manusia telah gagal melihat keindahan dari sebuah kompetisi.
Itu semua membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh yang takut untuk gagal. Padahal, bukan hanya berhasil atau gagal sehingga seseorang akan diingat dalam sejarah, melainkan juga karena karakter dan bagaimana mereka melakukan semuanya dengan hati dan keindahan. (Sigit Setyawan)
Persoalannya adalah, kita di rumah melihat dengan mata kamera. Fakta itu diulang-ulang dalam gerak lambat dari berbagai sisi, sementara para wasit melihat dari mata mereka dalam sudut yang terbatas.
Ada wacana untuk menggunakan teknologi, sehingga keputusan wasit menjadi akurat. Namun, apa makna dari akurat itu?
Jika wasit menggunakan teknologi dan “kebenaran” yang sebenar-benarnya menjadi acuan, maka sepak bola menjadi kehilangan makna kemanusiaannya. Terlihat jelas bahwa paradigma bermain bola adalah semata-mata untuk sebuah kemenangan. Hal seperti itu adalah sebuah kemunduran bagi sepak bola karena keindahan permainan menjadi hilang.
Kemunduran itu muncul dari permainan beberapa kesebelasan yang bermain sangat pragmatis, yaitu bermain untuk menang. Hal itu mengingatkan saya pada belajar hanya untuk nilai. Saya juga teringat ada siswa yang bermain tidak untuk having fun, tetapi semata-mata untuk sebuah kompetisi. Betapa ruginya kita sebagai manusia telah gagal melihat keindahan dari sebuah kompetisi.
Itu semua membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh yang takut untuk gagal. Padahal, bukan hanya berhasil atau gagal sehingga seseorang akan diingat dalam sejarah, melainkan juga karena karakter dan bagaimana mereka melakukan semuanya dengan hati dan keindahan. (Sigit Setyawan)
Selasa, 08 Juni 2010
Luar Biasa
Puisi Sigit Setyawan
Kupandangi gedung tinggi
rumah tinggal di langit
mewah, agung, kejayaan
luar biasa pembangunan negeri ini
Kuamati mobil mewah
orang-orang gagah
luar biasa kayanya
Kudengar radio pagi ini
pejabat dan ahli kenyang berteori
merancang sejahteranya semua orang
kelak kemudian hari
luar biasa pintarnya mereka
Sambil aku kagum
aku bersyukur dalam hati
karena masih ada sisa roti
di tong sampah itu
pagi ini
Jakarta Metropolitan, Juni 2010
Kupandangi gedung tinggi
rumah tinggal di langit
mewah, agung, kejayaan
luar biasa pembangunan negeri ini
Kuamati mobil mewah
orang-orang gagah
luar biasa kayanya
Kudengar radio pagi ini
pejabat dan ahli kenyang berteori
merancang sejahteranya semua orang
kelak kemudian hari
luar biasa pintarnya mereka
Sambil aku kagum
aku bersyukur dalam hati
karena masih ada sisa roti
di tong sampah itu
pagi ini
Jakarta Metropolitan, Juni 2010
Jumat, 02 April 2010
Hidup ini Adil
Puisi Sigit Setyawan
Adil jika kita binasa, sebab kita tak layak hidup
sejak Adam memakan buah terlarang di taman Eden.
Tapi justru Sang Pencipta mencintai manusia yang telah melanggar
jelas-jelas perintahNya.
Jika aku adalah Dia, maka kuhapus saja. Untuk apa menciptakan sesuatu
tapi seenaknya melanggar perintah? Robot tak mau kerja dimusnahkan,
pot yang mencong dihancurkan, salah tulis dihapus.
Oh, itu bukti kalau yang diciptakan adalah: manusia.
Adil, jika manusia dimatikan saja. Tapi ternyata dicintaiNya juga.
Lalu, seorang tanpa tangan dan kaki melangkah depan kamera dan berkata,
hidup ini sungguh indah kawan, lihatlah, kita hidup!
Lalu, orang di pinggir jalan yang tadinya mengeluh karena mengorek sampah
hanya demi mengganjal perut berkata, benar juga.
Lalu, seorang remaja yang mau bunuh diri karena ditolak pujaan hati
mengurungkan niatnya.
Lalu, seorang yang sakit kanker tersenyum. Ia yang tadinya melihat kalau
hidupnya tinggal sebentar lagi, berubah melihat bahwa hidupnya ternyata
sudah lebih lama dari prediksi dokter menuju kematiannya.
Lalu, seorang yang dari kemarin iri melihat kekayaan tetangganya,
berkaca di depan cermin dan berkata,
apalah artinya, toh aku masih hidup juga.
Dikasih hati merogoh ampela,
dikasih hidup meminta kenikmatan
dikasih uang meminta korupsi
dikasih istri meminta selingkuh
dikasih kenikmatan meminta ekstasi
Lalu, ketika semua tak sesuai keinginan, yang dikasih itu
mencaci maki Penciptanya
yang seharusnya
telah membunuh ciptaan itu
sejak dahulu kala.
Awal April 2010
Adil jika kita binasa, sebab kita tak layak hidup
sejak Adam memakan buah terlarang di taman Eden.
Tapi justru Sang Pencipta mencintai manusia yang telah melanggar
jelas-jelas perintahNya.
Jika aku adalah Dia, maka kuhapus saja. Untuk apa menciptakan sesuatu
tapi seenaknya melanggar perintah? Robot tak mau kerja dimusnahkan,
pot yang mencong dihancurkan, salah tulis dihapus.
Oh, itu bukti kalau yang diciptakan adalah: manusia.
Adil, jika manusia dimatikan saja. Tapi ternyata dicintaiNya juga.
Lalu, seorang tanpa tangan dan kaki melangkah depan kamera dan berkata,
hidup ini sungguh indah kawan, lihatlah, kita hidup!
Lalu, orang di pinggir jalan yang tadinya mengeluh karena mengorek sampah
hanya demi mengganjal perut berkata, benar juga.
Lalu, seorang remaja yang mau bunuh diri karena ditolak pujaan hati
mengurungkan niatnya.
Lalu, seorang yang sakit kanker tersenyum. Ia yang tadinya melihat kalau
hidupnya tinggal sebentar lagi, berubah melihat bahwa hidupnya ternyata
sudah lebih lama dari prediksi dokter menuju kematiannya.
Lalu, seorang yang dari kemarin iri melihat kekayaan tetangganya,
berkaca di depan cermin dan berkata,
apalah artinya, toh aku masih hidup juga.
Dikasih hati merogoh ampela,
dikasih hidup meminta kenikmatan
dikasih uang meminta korupsi
dikasih istri meminta selingkuh
dikasih kenikmatan meminta ekstasi
Lalu, ketika semua tak sesuai keinginan, yang dikasih itu
mencaci maki Penciptanya
yang seharusnya
telah membunuh ciptaan itu
sejak dahulu kala.
Awal April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)