Kamis, 22 Mei 2008

Pendidikan untuk Kehidupan

Sigit Setyawan

Hirsch (Cultural Literacy, 1989:110) menulis bahwa sekolah adalah satu-satunya institusi paling penting untuk melatih dan menyiapkan anak-anak untuk berperan lebih luas dalam kehidupan nasional. Sayangnya, pendidikan kita masih jauh dari apa yang dikatakan Hirsch. Kita masih berkutat pada masalah administrasi, sertifikasi, dan hal-hal legal lain di atas kertas.

Peningkatan kualitas pendidikan kita dinilai dari angka-angka APBN sampai dengan angka-angka kelulusan. Praktik-praktik jalan pintas, dari bimbingan belajar agar sukses UN sampai dengan hal yang negatif seperti berbuat curang, tidak ada habisnya dilakukan oleh siswa. Sementara itu, kasus pemalsuan data sertifikasi oleh para guru, sampai pembocoran soal ujian, berulang kali kita baca di media massa. Kesemuanya itu merupakan sebagian dari banyaknya persoalan pendidikan.

Kotornya jalanan karena orang seenaknya membuang sampah, aksi vandalisme, semrawutnya orang berlalu-lintas, dan budaya suap untuk membuat KTP atau SIM seperti tidak ada kaitannya sama sekali dengan kurikulum atau sistem pendidikan kita. Maka, untuk meningkatkan mutu pendidikan, jalan pintasnya dikira semudah meningkatkan nilai kelulusan atau anggaran APBN. Seakan-akan, pendidikan di dalam kelas terpisah sama sekali dari realita kehidupan di jalanan. Kita berhenti pada “tahu” saja, bukan pada tahap aplikasi dan manivestasi pengetahuan.

Agaknya apa yang kita butuhkan sekarang ini mirip dengan apa yang dikemukakan Hirsch. Hirsch (hlm.126) menyatakan bahwa yang dibutuhkan adalah pendidikan untuk perubahan, bukan untuk menghasilkan kemampuan-kemampuan untuk bekerja secara statis semata-mata. Agaknya tidak ada pilihan lain, untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia, mau tidak mau, pendidikan kita harus menyentuh kebutuhan mendasar kehidupan kita sebagai Indonesia yang multikultur dan kompleks ini. Salah satu caranya adalah dengan masuknya kurikulum yang relevan dengan kehidupan itu sendiri agar terjadi perubahan nyata dalam hidup sehari-hari.

Sekolah sudah seharusnya menyiapkan siswa-siswinya untuk hidup bermasyarakat, mengenal kebudayaan nasional, hidup berlalu-lintas dan menjaga lingkungan hidupnya. Hal itu telah seharusnya diatur juga oleh negara. Jadi, selain kesejahteraan guru, kualitas pendidikan itu semestinya juga dilihat dari outcomes yang dihasilkan, yaitu bagaimana generasi muda kita itu dapat hidup bermartabat dalam bermasyarakat.

Namun, masuknya peran negara dalam mengatur masyarakatnya melalui sekolah semacam itu dapat diartikan secara salah sebagai sebuah “instruksi”. Kita masih ingat semasa Orde Baru, kesan instruksi, keseragaman, indoktrinasi, atau apapun istilahnya, ditengarai muncul dalam bentuknya yang sistematis dalam pelajaran moral di sekolah dan penataran-penataran di perguruan tinggi waktu itu.

Bukan hanya di Indonesia, hal serupa terjadi di Italia era 20-an, terekam dari tulisan-tulisan Gramsci (1971) bahwa pendidikan pada waktu itu bukanlah “education” melainkan “instruction”. Sekolah kemudian menjadi alat politik untuk melatih masyarakat tertentu sesuai dengan kepentingan sekelompok orang atau negara.

Itulah mengapa, setelah reformasi terjadi di Indonesia, segala hal yang berbau pelajaran moral dan penataran dari pemerintah untuk dilakukan di sekolah atau perguruan tinggi, dengan serta merta ditolak oleh institusi pendidikan. Terkesan, dunia pendidikan trauma atau anti terhadap peran negara dalam penentuan substansinya atau kurikulumnya karena mungkin pada waktu itu kesan indoktrinasi dan “instruksi” itu begitu kuatnya. Selain itu, mungkin juga karena sangat jauh bedanya antara apa yang diajarkan di kelas dengan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perlu dibuat sebuah garis tegas antara mengajarkan nilai-nilai berkehidupan sosial dengan memaksakan kepentingan politik praktis.

Pada kenyataannya, sekarang ini hidup kita mengalami banyak tantangan. Tantangan global yang paling nyata adalah bagaimana kita bisa bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura atau negara Asia kuat seperti China dan India. Sementara itu, tantangan dari dalam diri kita sendiri dalam berkehidupan sehari-hari perlu juga mendapat perhatian, seperti bagaimana mengelola lingkungan hidup kita, memilah sampah sampai menjaga hutan, mempertahankan identitas kebudayaan kita, mengatur kota kita, dan lain sebagainya.

Kualitas pendidikan jangan lagi dilihat dari angka-angka tinggi atau prestasi kompetisi saja. Hal itu hanya dicapai oleh sedikit siswa dari antara jutaan siswa. Kebutuhan kita adalah memberdayakan generasi muda kita pada umumnya, sehingga tidak ada lagi cerita tentang siswa yang belajar Bahasa Inggris selama enam tahun, yaitu sejak kelas satu SMP sampai tiga SMA, tetapi di perguruan tinggi tidak mampu lancar berbicara Bahasa Inggris, apalagi menulis esai dalam Bahasa Inggris.

Sudah saatnya ketika kita membicarakan soal kualitas pendidikan, kita memikirkan mengenai bagaimanakah sekolah berfungsi menyiapkan generasi muda itu untuk hidup di tengah masyarakat secara nyata. Selayaknya pelajaran di kelas mampu membawa perubahan di tengah-tengah masyarakat.

Daftar Pustaka
Gramsci, Antonio. 1971. Selection From the Prison Notebooks. Translated by Quintin Hoare and Geoffrey Smith, first edition. International Publishers: New York.
Hirsch, E.D. 1989. Cultural Literacy. Batam Books: Moorebank.

Selasa, 13 Mei 2008

Mawar Layu

Cerpen Sigit Setyawan

Bunga mawar itu tak lagi merah. Ia telah layu. Telah kusimpan selama tiga tahun, empat belas Februari tiga tahun lalu. Bukan keputusannya untuk menjadi layu. Alam telah menentukan begitu. Dan aku tahu, sebenarnya ia tak ingin layu.

“Sayang, aku mencintaimu,” kata suamiku.
Siapa tidak bahagia jika suami mengatakan kalimat cinta di ulang tahun pernikahan kesepuluh?
“Jadi kita ke Bali?” tanyaku.

Suamiku tidak menjawab, ia memelukku, menitikkan air mata secara diam-diam. Air mata itu mengalir di pipinya, sebagian berhenti di pundakku. Perasaanku berkata, ia ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Setelah hatinya teguh, ia berkata, “Apakah kamu marah kalau kita batal ke Bali?”
“Tidak, Say. Ada sesuatu?”
“Aku harus ke Jogja.”
“Di ulang tahun pernikahan kita?”
Suamiku menarik nafas panjang, itu yang dilakukannya sebagai kebiasaan kalau dia takut, tersudut, ada hal yang tidak diharapkan terjadi dan kalau hal-hal buruk menimpanya. Kali ini aku menafsirkannya sebagai hal yang tidak dia harapkan. Jadi, aku maklum.
“Kamu boleh ikut kalau kamu mau,” katanya sambil menatapku, lalu dia menatap mawar layu di tembok itu.

Aku mengikuti tatapan matanya, kemudian aku berkata kepadanya, “Aku ikut.”
Ia menarik nafas panjangnya lagi.
“Tapi Say, tidak akan ada yang akan menemanimu.”
“Nggak apa-apa. Setidaknya aku bisa menemanimu waktu malam.”
Lagi-lagi dia menarik nafas panjang . Akhirnya dia mengiyakan aku untuk ikut.

***
Hari pertama di Jogja aku minta diantar ke Malioboro.
“Aku drop kamu, lalu aku rapat, oke?”
“Oke.”
“Apa perlu dijemput?”
“No. Nggak usah,” kataku.

Dia menurunkanku di Malioboro, mobil langsung meninggalkanku. Ketika itulah kusadari bahwa aku tidak membawa uang sepeserpun. Dompetku tertinggal di hotel. Aku menyesal mengapa tidak menginap di hotel sekitar Malioboro saja, sehingga kalau hal ini terjadi, aku tidak perlu repot.

Jadi aku harus kembali ke hotel sekarang juga. Sebuah taksi yang kebetulan lewat, kuhentikan, ia mengantarku hingga hotel. Di kamar hotel aku terkejut melihat kamar sedikit berantakan. Cleaning service belum membersihkan kamar ini, mungkin karena tanda di depan kamar lupa kami cabut. Hingga saat ini masih do not disturb.
Agaknya suamiku juga melupakan sesuatu setelah mengantarku tadi. Ah, benarkah kami sama-sama meninggalkan sesuatu? Aku tersenyum sendiri, dasar jodoh, agaknya kami mengalami hal yang sama.

Aku segera menuju taksi yang menungguku ketika aku melihat sekelebat bayangan suamiku menyeberangi jalan, ia sedang menuju sebuah Rumah Sakit di depan hotel.
Ketika yakin bahwa itu suamiku, aku meminta sopir berhenti dan kubayar dia. Kutunda keinginan belanjaku dan memilih untuk menuruti naluri wanitaku.

Aku mengikutinya dari jauh. Kulihat ada seorang ibu yang menyalaminya sambil mengusap air mata dan memeluk suamiku. Aku tidak mengenalnya dan belum pernah melihatnya. Mengapa dia memeluk suamiku? Siapa dia?

Semakin penasaran, aku mengikutinya. Mereka berbelok ke bagian inap ibu dan anak. Ada sesuatu menyusup ke dalam hatiku. Bau minyak telon, mengingatkanku pada bau bayi. Tujuh tahun pernikahan tanpa kehadiran seorang anak membuat bau itu menusuk-nusuk perasaanku. Tapi, juga membuai khayalan akan kehadiran seorang anak. Itu yang selalu kubayangkan, kehadiran seorang darah daging kami sendiri untuk memateraikan cinta kami.

Aku teringat ketika suamiku menguatkanku waktu itu, agar aku tidak kecewa dan marah dengan Tuhanku. Suami istri sudahlah sempurna, Tuhan membentuk keluarga Adam dan Eve. Anak adalah tambahan. Aku mengangguk, tapi hatiku menangisinya.

Kini di lorong rumah sakit ini, aku diingatkan pada masa-masa penantian dan keguguran kandungan beberapa tahun lalu. Menyakitkan, tapi menjadi tonggak kekuatan cinta kami. Suamiku sangat setia menemaniku. Aku keguguran di hari ulang tahun pernikahan kami, empat belas Februari. Waktu itulah dia memberikan mawar merah itu.

Aku tidak ingin kehilangan jejak suamiku. Mataku mengawasinya dengan seksama. Di ujung lorong sana, ada seorang pria yang menyalaminya dan memeluknya. Tapi, kali ini lelaki itu tertawa bahagia.
Aku semakin penasaran. Lalu aku beranikan diri untuk mendekati kamar itu.
“Cantik sekali, seperti ibunya,” terdengar suara lelaki dari dalam.
“Ya,” suara suamiku terdengar.

Mengapa suamiku tidak menghubungiku kalau ada temannya melahirkan? Kalau toh berbelanjanya nanti sore, aku tidak akan keberatan. Bahkan aku mau memilihkan kado untuknya. Atau, setidaknya aku masuk dalam lingkaran teman-teman suamiku.
Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Bagaimana jika suamiku tahu aku ada di sini?

Ketika itulah sapaan seseorang tiba-tiba mengejutkanku.
“Chaterine? Kamu di sini?”
“Bobby?” melihat kehadiran sahabat suamiku di situ, sungguh membuatku merasa gundah.
“Suamimu sudah bercerita tentang apa yang terjadi?”
“Bercerita apa?” kukira ekspresi mukaku tidak dapat menyembunyikan ketidaktahuanku.
“Dia tidak bercerita?”
Aku menggeleng.
“Bahkan dia tidak tahu kalau aku ada di sini,” kataku setengah berbisik, “Aku harus pergi.”
Aku melangkahkan kakiku diiringi pandangan mata Bobby. Tapi, rupanya Bobby segera masuk ke ruangan dan memberi tahu suamiku, karena itu aku mendengar ada suara memanggil namaku.

“Chaterine!” teriak suamiku.
Aku menghentikan langkahku. Suamiku menuju ke arahku dan aku bingung bagaimana harus bersikap.
Aku membalikkan badan dan berkata, “Aku ketinggalan dompetku. Jadi, aku melihatmu...” tapi belum selesai kalimatku itu, dia telah berada di depanku dan tiba-tiba memelukku. Lagi-lagi air matanya meleleh dalam diam. Air mata itu untuk dirinya sendiri, aku merasakan sebagian tetesannya membasahi pundakku.

“Aku ingin mengatakan sesuatu,” katanya.
“Katakan, Say.”
Tangannya menggandeng tanganku. Dingin dan basah.
Taman dan bunga-bunga, bau bayi, suara dentingan mainan anak-anak, dan air mancur di taman menjadi saksiku.

“Sembilan bulan lalu waktu aku ke Eropa, aku melakukan kesalahan,” kata suamiku memulai pembicaraan, “Aku melakukan kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan oleh lelaki manapun, termasuk diriku. Seharusnya aku tidak boleh pergi bersama sekretarisku. Seharusnya aku pergi bersamamu,” dia menarik nafas panjangnya.
Sekarang aku tahu, nafas panjang itu adalah nafas beban. Beban berat yang selama ini tersembunyi di balik air matanya.
“Aku hanya melakukannya sekali saja. Tapi, itu kesalahan. Aku tahu, itu salahku.”

Jadi, selama ini dia menarik nafas panjangnya dan menyimpan air matanya. Dan air mata itu adalah karena ini. Ia telah menghamili seseorang?
“Jadi, kamu ke Jogja untuk melihat anakmu,” kataku lirih menahan gejolak perasaanku.
Dia mengangguk.

Aku terdiam. Air mataku meleleh, seperti lilin meleleh karena api. Tangannya menggenggam tanganku, tapi ingin rasanya kucampakkan.
Pria laknat. Teganya kamu mengkhianatiku, tidur dengan sekretarismu. Sekali katamu? Tidak mungkin. Tidak mungkin kamu melakukannya hanya sekali, kamu di sana selama lima belas hari.
Aku ingin mencampakkannya, membuangnya, menguburnya hidup-hidup, menginjaknya.

“Aku tahu saat ini akan terjadi. Aku telah merasa terhukum beberapa bulan ini. Aku rela kaucerai, tapi aku mencintaimu. Aku ingin bersamamu hingga kita tua. Itu sebuah kecelakaan yang tidak kuharapkan.”

Kecelakaan? Pria gombal. Semua pria di seluruh dunia ini gombal.
Tiba-tiba saja semua bau itu, semua suara itu, dan semua bunga yang kulihat membuatku merasa muak. Dunia ini telah memusuhiku.
Suamiku menatapku. Kini air matanya dibagikan juga untukku. Dia akan memelukku, tapi aku menampiknya.

“Aku pulang,” kataku.

***

Sesampainya di Jakarta, mawar layu itu kutatap begitu lama. Dia menjadi saksi dan bukti cinta kami. Perasaan hatiku mulai tenang dan berubah. Bagaimana kalau perempuan itu merayunya. Mungkin suamiku benar, perempuan itu merayu dan mereka melakukan sekali saja lalu hamil? Bagaimana kalau perempuan itu memang sengaja menjebak suamiku? Bukankah dia tampan, kaya, dan berkedudukan? Bukankah hatinya begitu lembut dan baik? Ya, perempuan itu telah merebut suamiku dengan cara memberinya anak.

Aku tidak boleh kalah. Aku ingin menjadikan anak itu sebagai anakku. Akan kurebut dia dari tangan ibunya. Aku membulatkan tekad. Mereka berdua harus menjadi milikku, akan kucampakkan perempuan itu.

Jadi, kuhubungi segera suamiku, “Halo, Say. Aku ingin bicara,” kataku di telepon, “Kalau anak itu kita bawa ke Jakarta dan menjadi anak kita, apa kau keberatan?”
“Kamu sungguh-sungguh?” katanya dengan nada keheranan bercampur kegembiraan.
“Ya, pulanglah ke Jakarta, aku akan menyiapkan kamar bayi untuk kita.”

Beberapa jam kemudian suamiku mengabarkan kalau dirinya sudah berada di pesawat, ia membawa seorang bayi. Anaknya, bukan anakku, tapi akan menjadi anak kami.
Dia mengatakan kepada ibu bayi itu bahwa dia boleh melihatnya kapanpun, meskipun sang ibu menangis dan menolak, tetap saja suamiku meninggalkannya dan mengisi tiga ratus juta di rekening perempuan itu.

Anak yang ingin kujadikan sebagai anak kami akan tiba. Perasaanku bercampur antara sedih, marah, cinta, benci, dan gembira.

Beberapa jam telah berlalu dan telepon bernyanyi. Nyanyian telepon itulah yang kutunggu dari tadi. Tapi, yang kulihat adalah nama Bobby yang muncul di sana.
“Kamu lihat tivi?”
“Kenapa?”

“Ada pesawat jatuh.”

Aku memindah tivi ke chanel berita, menyaksikan sebuah pesawat yang telah habis terbakar. Lalu presenter manampilkan daftar nama korban. Aku melihat nama suamiku di sana.
Tiba-tiba saja semua bayang-bayang memudar, melayang, menguap. Tak ada lagi suara, tak ada lagi rasa. Semua begitu gelap. Dan di dalam kegelapan yang dalam itu aku terdiam.
Kesadaranku terjaga ketika semua prosesi pemakaman telah usai. Ketika tanah telah memeluk kekasihku di dalamnya, merebutnya dariku, kuletakkan mawar layu itu di atasnya. (Sigit di Jakarta, Januari 2008).

Sebenernya Cerpen ini mau kukirimkan ke Majalah atau Koran, tapi bingung, mau dikirim ke mana. Ya Sudah... terbitkan saja di sini.

Rabu, 07 Mei 2008

Diari Jakarta

Diari Mini Sigit Setyawan

Jakarta, 16 April 2008
Klakson berbunyi, orang-orang marah. Waktu itu aku berada di dekat Slipi Jaya. Eh, ternyata ada seorang bapak pengendara sepeda motor jatuh di depan sebuah taksi. Bapak itu membawa bawaan berat di motornya, seperti karung-karung.
Satu orang yang membantunya berdiri, yaitu seorang petugas pengatur lalu lintas (DLLAJR). Nah, mobil yang lain meraung-raung dengan suara nyaring klaksonnya berteriak, seolah bapak yang jatuh itu melakukan kejahatan.
Dasar kota besar.
Tenggang rasa sudah mati.

Jakarta, 18 April 2008
Anakku dirawat di rumah sakit karena demam berdarah Dengue. Ini untuk kedua kalinya, setelah bulan lalu dirawat karena penyakit yang sama. Waktu masuk, trombosit 144 ribu, lalu kemarin 128 ribu. Ya Tuhan, turun lagi?
Nah, ketika dokter datang, dia tanya, sekarang berapa? “50 Dok,” katanya. Saya terkejut, lemas. Untunglah ada seorang dokter junior yang sedang belajar untuk praktik (KOAS) bilang, “150 dok”. Gawat! 150 ditulis 50. Gawat dan bahaya sekali...
Akhirnya kutulis di lembar evaluasi Rumah Sakit: lain kali hati-hati....

Jakarta, 6 Mei 2008
Hujan.
Hujan?
Ya Hujan.
Di bualan Mei?
Ya.
Global warming?
Entahlah.
Waktu saya kecil, kakek saya bilang kalau April itu singkatan dari Ana udan, tapi Pral-Pril (Ada hujan tapi kadang ada kadang tidak). Jadi, Mei biasanya tidak hujan. Namun, Mei sekarang seperti November, dan Februari seperti Desember.
Parahnya lagi, di Jakarta sampah memenuhi selokan dan sungai. Itu membuat banyak sumbatan dan banjir. Kalau tidak banjir, sungai akan bau sampah nan busuk.
2 Februari lalu saya kebanjiran. Komputer saya terendam air banjir. Rupanya, itu baru permulaan penderitaan. Selanjutnya: tempat tidur harus diganti, komputer tidak lagi bisa dipakai, bau busuk dan jamur tumbuh bagai benalu di mana-mana...
Sampah. Nyampah. Sungai dan Selokan. Bukan cuma sampah domestik (rumah tangga) tapi juga sampah kata-kata. Di jalan sampai di selokan.
Banyak ruang untuk berdosa. Sedikit ruang untuk berdoa.
Tapi, kepada siapa?

Selasa, 29 April 2008

Pak Guru Basuki

Cerpen Sigit Setyawan

Basuki menyeka keringat dingin di keningnya. Wajah kepala sekolah menyiratkan kekecewaan yang sangat kepadanya dan suaranya yang berat menunjukkan kemurkaan. Rencana Pengajaran Mingguan belum diserahkan oleh Basuki sejak enam bulan lalu, kisi-kisi soal untuk ujian belum juga sampai di meja kepala sekolah, formulir untuk sertifikasi guru pun belum diisi penuh, sementara minggu depan tim akreditasi departemen pendidikan akan datang. Kepala sekolah geram, kesal, dan marah.

“Sekolah ini bisa tutup gara-gara kamu, Bas,” kata kepala sekolah.

Suasana di ruangan kepala sekolah mencekam. Basuki yang tadi pagi begitu bersemangat, tiba-tiba lunglai. Sekujur tubuhnya lemas membayangkan dirinya akan segera dipecat. Padahal, tahun lalu dia sempat dicalonkan sebagai guru teladan tingkat provinsi.
Itu semua gara-gara seorang siswa bernama Tumiji yang tiga bulan lalu berkelahi. Tumiji memukul Baharudin di dalam kelas, Baharudin membalas sehingga terjadi baku hantam. Baik Tumiji maupun Baharudin sama-sama berdarah-darah. Sebagai seorang wali kelas, Basuki memiliki kewajiban untuk tahu duduk perkaranya.

“Tumiji, apa yang telah kamu lakukan?” tanya Basuki di ruang guru. Sementara Baharudin masih dirawat di UKS.
“Baharudin mengatai saya banci, Pak.”
“Cuma karena itu kamu naik pitam?”
“Bukan cuma itu, Pak. Coba saja bayangkan, sejak saya kelas satu di SMA ini, saya sering diledekin banci, banci, gitu Pak. Sebagai seorang lelaki, apa saya nggak marah, Pak. Apalagi Baharudin mengatai itu di depan cewek-cewek, apa saya tidak naik pitam?”
“Saya tahu, saya pun kalau dikatakan banci akan marah, tapi saya tidak akan memukul,” kata Basuki dengan nada tinggi, meskipun di dalam hatinya dia sendiri menyangsikan pernyataannya itu.

Tumiji diam saja. Siswa yang baru saja meraih juara tiga di kejuaraan Matematika tingkat kabupaten ini tidak mampu menyembunyikan kegeramannya.
Basuki dengan kesal kemudian berkata, “Sebagai wali kelasmu, saya sangat kecewa dengan perbuatanmu yang tidak mencerminkan seorang intelektual yang seharusnya berpikir sebelum bertindak. Sebagai guru Matematikamu, saya lebih kecewa lagi, karena itu mencoreng nama sekolah kita. Baru bulan lalu kamu menjadi juara tiga tingkat kabupaten, masa sekarang harus diskorsing gara-gara berkelahi?”

“Dia mengatai saya banci, Pak. Saya tidak terima,” kata Tumiji.
“Sudah-sudah. Saya tidak mau tahu alasanmu, siapa yang lebih dahulu memukul, dia yang salah.”

Tumiji kecewa, tapi apa daya, dia harus menerima konsekuensi skorsing selama seminggu dari sekolah. Tumiji keluar dari ruang guru dengan bersungut-sungut.

Setelah Tumiji keluar dari ruang guru, Bu Kristina menghampiri Basuki dan bertanya, “Pak, jadi bagaimana dengan lomba Olimpiade Matematika tingkat nasional? Kalau Tumiji diskorsing, apa sekolah kita tidak akan gagal?”

Basuki benar-benar lupa akan kompetisi bergengsi itu. Tapi, kepala sekolah telah memutuskan skorsing selama satu minggu. Keputusan itu tidak akan bisa dicabut begitu saja karena menyangkut kredibilitas sekolah dan kewibawaan kepala sekolah. Namun, di sisi lain, hanya Tumijilah satu-satunya siswa yang mampu menghadapi kompetisi bergengsi semacam itu.

“Saya akan datang ke rumahnya setiap hari untuk memberikan pelajaran khusus. Sepertinya hanya itu caranya agar kita bisa mendapat nomer di olimpiade nanti,” kata Basuki.
“Jadi, nggak ngelesin dong,” kata Kristina.
“Apa boleh buat,” kata Basuki sambil membayangkan bahwa dirinya akan kehilangan penghasilan tambahan dari les matematikanya dan mungkin juga dari perkerjaan sampingan sebagai tukang ojek.
***
Sehari setelah Tumiji diskors oleh sekolah, ayah Tumiji datang ke sekolah. Dengan menggebrak meja, ayah Tumiji yang itu berkata dengan suara lantang sambil menunjuk-nunjuk muka Basuki.

“Bulan lalu anakku sudah mengharumkan nama sekolah ini. Sekolah miskin saja belagu kalian ini, cuma berantem anak muda kan biasa. Apa sih istimewanya. Semua orang berkelahi, saya hampir tiap hari berkelahi, apa salahnya berkelahi? Itu kan ekspresi lelaki, apa kamu tidak tahu?” katanya sambil menunjuk hidung Basuki.

Sebelum Basuki sempat membela dirinya, ayah Tumiji kembali memuntahkan kata-katanya dan memukul meja lagi.

“Kalau keputusan skors tidak dicabut, anak saya yang akan saya cabut dari sekolah ini. Saya juga tidak akan membayar uang sekolah anak saya yang tujuh bulan belum saya bayar itu. Sekolah ini memang gila, anak sudah mengharumkan nama sekolah masa tidak dikasih keringanan biaya?! Katanya minggu depan anak saya akan dikirim untuk kompetisi matematika, mana kontribusi sekolah? Nol besar! Saya terlambat mbayar SPP saja ditagih-tagih kayak saya ini punya hutang jutaan.”

Kembali Basuki akan mengatakan sesuatu ketika ayah Tumiji mencengkeram krah Basuki, “Kalau sampai anakku tidak lulus atau nilainya jeblok awas kamu.”
Para guru di ruang guru terkesima dan kaku seperti patung. Kepala sekolah tidak ada di tempat, wakil kepala sekolah bersembunyi karena takut berhadapan dengan ayah Tumiji, hanya Basuki yang berani menerima dia.

Ayah Tumiji melangkah keluar dari ruang guru, membanting pintu hingga kaca pintu itu retak.
Meskipun pria bertato itu mengancam Basuki, tapi Basuki tidak gentar. Sore harinya, Basuki menemui Tumiji di pasar. Mengajaknya belajar Matematika di rumahnya, meskipun Tumiji menolak.

“Tidak mau,” katanya.
“Ayolah Ji, ini demi masa depan kamu.”
“Yang salah kan Bahar, Pak. Masa saya dihukum seminggu, sedangkan Bahar cuma dihukum tiga hari. Nggak adil itu. Padahal yang salah kan Bahar.”
“Yang salah bukan cuma Baharudin. Kamu juga salah. Dalam kasus ini, tidak ada yang benar, yang ada adalah kalian berdua salah. Kamu salah, Baharudin salah. Jadi, semua harus kena hukuman.”
“Tapi, mengapa Bahar cuma tiga hari sedangkan saya seminggu?”
“Karena kamu yang memukul lebih dahulu.”
“Tapi yang mengatai saya banci lebih dulu kan Bahar, saya cuma bereaksi!”
“Kamu dihukum karena kamu bereaksi dengan tidak benar.”
“Guru selalu benar,” kata Tumiji sambil ngeloyor pergi.

Basuki mengejar Tumiji dan memegang tangannya dengan kuat.
“Dengarkan saya. Bukan sebagai guru, tapi sebagai seseorang yang ingin melihat kamu sukses. Lihat mata saya, saya bersungguh-sungguh. Ji, kita ini hidup di lingkungan miskin, sekolah kita juga miskin, saya harus narik ojek sepulang sekolah untuk bisa hidup, sama seperti ayahmu harus di pasar setiap hari. Kita menjadi orang yang seperti ini karena keadaan. Di negeri ini tidak banyak kesempatan untuk orang-orang seperti kita. Lihat orang-orang sekelilingmu, semua pasrah dengan keadaan. Patah arang ketika melakukan kesalahan, menyalahkan orang lain. Putus asa ketika mendapat ketidakadilan. Tapi kamu ini Tumiji. Saya sudah kenal kamu tiga tahun, Ji. Kamu seperti anakku. Aku melihat potensi di dalam dirimu yang istimewa. Kamu pantang menyerah. Sekarang kesempatan ada di depanmu, apa kamu akan sia-siakan? Kamu bisa juara satu di olimpiade Matematika, apa kamu tidak akan bangga? Juara tiga atau harapan tiga Ji, bukan juara satu itu juga sudah istimewa. Nama kamu akan dicetak di koran nasional dan orang-orang akan mengenal kamu, terlebih kamu akan menyelamatkan sekolah kita yang terancam tutup. Kamu berbeda, Ji. Kamu istimewa.”

Pancaran mata Tumiji meredup.
“Baiklah, Pak. Tapi, sebaiknya di rumah Bapak,”
“Bagus,” tanpa sadar Basuki memeluk Tumiji.

Sejak saat itu Basuki memberikan pelajaran khusus untuk Tumiji tanpa sepengetahuan kepala sekolah. Basuki bahkan membelikan buku dan alat tulis dari gajinya yang minim itu. Istrinya menggerutu karena harus mencari tambahan hutang kepada tetangganya karena otomatis selama seminggu itu Basuki tidak narik ojek dan tidak dibayar untuk memberikan les Matematika.

Sementara itu di sekolah, Basuki menghabiskan waktu untuk membuat alat peraga. Sebelum dia datang ke sekolah ini, anak-anak sangat takut pelajaran matematika. Matematika adalah momok. Basuki membawa perubahan.

Anak-anak menyukai Basuki. Dia mengajarkan menghitung tinggi bangunan dan pohon dengan teknik yang menyenangkan. Energinya habis untuk mencari teknik-teknik yang tidak biasa di tengah para siswa yang memang “tidak biasa” itu. Sementara para guru lain berada di ruangan untuk mengisi berbagai form untuk persiapan akreditasi mulai dari rencana pengajaran mingguan, jurnal harian, sampai dengan formulir sertifikasi. Hampir semua guru berkonsentrasi penuh pada akreditasi dan keinginan untuk sertifikasi, kecuali Basuki.
***
“Jadi, Bas. Saya juga sangsi kamu akan lulus sertifikasi guru. Kamu tahu kan, tiga kali gagal, maka kamu tidak akan diperbolehkan mengajar.”
Kepala sekolah menatap Basuki dengan serius dan melanjutkan, “Sekolah kita ini bukan sekolah favorit. Sekolah-sekolah favorit dengan guru-guru bagus pun kabarnya kesulitan mencari muris, apalagi kita. Lagi pula program sertifikasi itu antri, Bas. Kalau yang besok ini kamu tidak bisa ikut, lalu kapan?”

“Entahlah, saya juga sedang memikirkan profesi lain.”
“Maksudmu?”
“Sepertinya lebih baik saya narik ojek saja.”
“Sayang Bas, kamu ini berbakat. Lihatlah, tiga tahun ini kamu pegang kelas dua belas dan matematikanya bagus. Kamu hebat sebagai guru.”
“Tapi kalau saya tidak lulus ujian sertifikasi?”
“Yang penting, sekolah kita diakreditasi dulu. Jadi, saya minta kamu melengkapi instrumen pembelajaran yang seharusnya sudah kamu serahkan beberapa minggu lalu itu.”
“Pak, besok saya harus mengantar Tumiji ke lomba tingkat nasional. Mungkin makan waktu tiga hari, Pak. Sementara, kalau harus menyerahkan semua formulir itu, saya harus lembur selama seminggu. Tidak ada waktu, Pak.”

Kepala sekolah terpekur.
“Jadi, bagaimana Pak?”
“Menurutmu, Bas. Bagaimana?” kepala sekolah balik bertanya.
“Saya tetap akan mendampingi Tumiji, Pak. Seandainya sekolah mau memecat saya, mohon setelah Tumiji menyelesaikan olimpiade Matematikanya. Atau, jika tidak keberatan, pecat saya setelah UN tahun ini.”
“Mengapa setelah UN?”
“Karena Tanti dan Denok sepertinya tidak akan lulus matematikanya. Saya khawatir mereka berdua gagal di UN, nilainya sangat rendah. Saya ingin mereka lulus dulu, baru saya bisa ikhlas jika saya dipecat.”
Kepala sekolah diam saja.

“Bas, bagaimana kalau yayasan memecat kamu?”
“Itu tadi permintaan saya, Pak.”
Kepala sekolah yang tadi marah, kini melunak. Dijabatnya erat tangan Basuki, dia tidak bisa lagi berbicara atau marah.

***
Seperti biasanya, sore itu Basuki sudah mangkal di pos ojek. Di atas sepeda motornya Basuki merenung. Dia memikirkan masa depan anak-anak didiknya. Berkelebat di bayangan, masa depan anaknya yang masih bayi dan masa depan dirinya sendiri. Silih berganti, bayangan itu mengganggu perasaan hatinya.

Mungkin lebih baik narik ojek saja sehari penuh, berjuang untuk keluarganya sendiri, untuk anaknya sendiri. Tetapi, bayang-bayang anak-anak di kelas tak mampu dilupakannya. Dia ingin bertahan jadi guru meski hanya beberapa minggu lagi. Dia ingin menjadi guru bagi Tumiji, Tanti, Denok, dan murid-murid lainnya.

“Eh, pak guru. Narik Pak?” suara Bu RT mengejutkan lamunannya, “Antar saya ke pasar, ya.”
Basuki tersenyum, “Mari, Bu.”
“Ramai, Pak?”
“Lumayan.”

Basuki menghidupkan motornya. Kali ini dia mengantar Bu RT menuju pasar, tapi besok pagi dia akan mengantar Tumuji menuju keberhasilan. Semoga.

Maret 2007

Rabu, 20 Februari 2008

UN, Apa Boleh Buat?

Ujian Nasional SD tak terelakkan, demikian pula dengan penambahan mata pelajaran dalam UN di tingkat SMP dan SMA. Lupakan proses kreatif dan inovatif di dalam kelas. Lupakan pula impian untuk mengalahkan negara-negara lain dalam hal sumber daya manusia, kita sedang akan menghadapi Ujian Nasional.

Meskipun UN ditentang, ditolak, dan dikritik pelaksanaannya, toh ketika para siswanya lulus seratus persen, sekolah akan bangga dengan “prestasi” kelulusan para siswanya itu. Guru-gurunya bangga, sekolahnya bangga, dan orangtua siswa akan berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sekolah itu dengan alasan siswanya lulus seratus persen. Seringkali, itu pula yang dijadikan sebagai “iklan” sekolah kepada masyarakat.

Pemerintah pun demikian. Dari tahun ke tahun meningkatkan standar nilai yang lebih tinggi. Sehingga, menurut logika pemerintah, semakin tinggi standar nilai kelulusannya semakin tinggi pula kualitas orang Indonesia.

Memang benar jika standar semakin tinggi, maka kemungkinan lulusan semakin pandai. Tetapi, pandai dalam hal apa? Apakah dalam hal critical and analytical thinking skills ataukah dalam hal menjawab soal pilihan ganda?

Tantangan global yang menghadang para siswa kita ke depan setidak-tidaknya ada dua hal penting. Yang pertama adalah persoalan persaingan teknologi. Kita membutuhkan siswa yang nantinya dapat bersaing dalam hal penguasaan dan inovasi teknologi. Jika berhadapan dengan bangsa lain, siswa kita nantinya harus memiliki kapabilitas untuk lebih inovatif dan kreatif. Persoalan lain adalah masalah penguasaan pasar global. Idealnya, nantinya kelas-kelas kita melahirkan para siswa yang mampu bernegosiasi dan berstrategi dalam hal perdagangan atau industri di tataran global. Atau, minimal regional. Dalam hal ini siswa harus memiliki kepekaan sosial dan budaya yang tinggi, kreativitas dan keuletan. Pertanyaannya, apakah kelas kita sudah demikian?

Yang kedua adalah persoalan pengembangan sumber daya alam. Kita kaya akan pertambangan, hutan, dan pertanian yang saat ini menuju ke kehancuran. Padahal, sesungguhnya itulah kekuatan kita. Apa yang telah terjadi di kelas kita, tidakkah para siswa belajar tentang hal itu? Idealnya di masa depan para siswa kita mampu mengambil langkah-langkah berani menyelamatkan sumber daya alam kita, bahkan secara terampil mengolahnya. Apakah kelas kita sudah menyiapkan hal yang demikian?

Pertanyaannyaa lain yang tak kalah penting adalah apakah UN menyiapkan siswa kita untuk menghadapi tantangan di atas?
Kenyataannya tidak. UN justru menjadi momok bagi siswa, orangtua, dan guru. Hal itu karena kurikulumnya dengan ujiannya berbeda. Darmaningtyas pernah mengatakan bahwa pendidikan kita ini kurikulumnya ke selatan, sedangkan model evaluasinya ke utara (Kompas, 18 Oktober 2007). Jadi, UN bukanlah ujung dari kurikulum itu. Hasilnya, UN menjadi sebuah tes khusus dari pemerintah yang harus disiapkan secara khusus pula. Jadilah para guru menyusun drill soal, membuat rumus-rumus pendek, dan mengakali bagaimana agar soal pilihan ganda itu dapat disiasati. Kelas jadi penuh siasat dan hafalan.

Kita butuh UN yang bermutu. Sebuah ujian yang merangsang kegiatan kelas agar lebih dinamis dan kreatif. Sesungguhnya modalnya sudah ada, yuitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu. Sayangnya, UN-nya justru berbeda.

Ambillah contoh UN ala Australia, khususnya negara bagian New South Wales. Kebetulan penulis telah mengalami mengajarkan kurikulum tersebut hampir selama lima tahun. Sejak awal dimulai pelajaran, siswa selalu diarahkan pada outcomes atau apa yang harus dikuasai oleh siswa. Outcomes itu pasti akan keluar pada saat ujian nantinya. Hal itu membuat guru di dalam kelas mengupayakan berbagai metode untuk membantu siswanya mencapai outcomes itu. Seringkali guru harus secara kreatif menggali potensi siswa untuk mencapai outcomes itu. Di sisi lain, siswa tahu apa yang akan dihadapi di ujian nantinya. Assessment Outcomes selalu menggambarkan apa yang dipelajari di dalam kelas.

Seandainya saja UN kita didasarkan pada KTSP dan merupakan ujung dari KTSP, maka sebenarnya UN kita dapat memicu kreativitas dan memetakan kemampuan siswa secara lebih akurat. Dapat dikatakan, jika hal itu terjadi, benang merah pendidikan kita akan mulai terlihat.
Namun, toh apa yang akan terjadi nanti dalam UN kita tentunya tidak akan jauh berbeda dari UN-UN sebelumnya. Semoga saja tidak terjadi kecurangan, sehingga kisah Air Mata Guru tahun lalu tidak perlu terulang lagi. Atau, jika terjadi kecurangan lagi, semoga air mata para guru terus mengalir di seluruh nusantara, agar bangsa kita memiliki guru-guru yang terus berani menjadi pahlawan, meskipun tanpa tanda jasa. Apa boleh buat, jika UN akhirnya dilaksanakan, lagi-lagi para guru harus bersama-sama dengan para siswa menghadapinya, meskipun dengan getir.

Selasa, 02 Oktober 2007

Ditunggu, Komunikasi Berbasis SMS di Dunia Pendidikan

Technology moves to meet those needs; and today technology moves at ever-increasing speeds; changes in taste, in some important respects, keep in step. (Hoggart, “Mass Media in a Mass Society”, 2004:10)

Di masa lalu orangtua mendapat laporan mengenai anak-anak mereka di akhir semester atau tahun ajaran. Melalui Rapor, orangtua mengetahui nilai dan kelakuan putra-putri mereka. Namun, seringkali informasi yang diterima orangtua terlambat.

Di masa kini sekolah-sekolah telah memanfaatkan Teknologi Informasi melalui internet. Informasi mengenai kehadiran, nilai, dan aktivitas siswa dapat diketahui melalui website. Seorang siswa tidak bisa berkelit ketika ditanya oleh orangtuanya mengenai Pekerjaan Rumah (PR) karena orangtua mereka telah mengetahuinya melalui website bahwa dia memiliki PR untuk dikerjakan.

Di Indonesia, sayangnya, tidak banyak orangtua yang terbiasa mengakses internet di rumah. Meskipun internet telah menjadi hal wajar, jumlah pemakai internet di kalangan orangtua masih relatif sangat sedikit. Karenanya, alternatif lain yang sebenarnya terbuka adalah melalui pesan singkat atau SMS. Orangtua yang memiliki handphone jauh lebih banyak dibandingkan dengan orangtua yang mengakses internet.

Penggunaan SMS dalam berkomunikasi dengan orangtua dapat menjadi sebuah terobosan baru bagaimana sekolah berkomunikasi dengan orangtua siswa. Bagi kebanyakan orangtua, terutama di kota besar, informasi melalui SMS merupakan hal yang semakin wajar. Selain wajar, informasi melalui layanan SMS dianggap lebih fleksibel, dan selain fleksibel, layanan SMS oleh sekolah akan menjadi prestise tersendiri bagi sekolah. Semakin banyak sekolah memakainya, sekolah yang tidak menggunakan teknologi ini akan dianggap sebagai sekolah yang ketinggalan zaman.

Di tingkat perguruan tinggi, aplikasi SMS ini telah digunakan antara lain untuk mengetahui nilai. Di tingkat sekolah, dari TK, SD, sampai dengan SMA, layanan SMS dapat menyentuh kebutuhan mendasar akan informasi mengenai anak mereka. Apa kegiatan mereka, apa yang mesti disiapkan besok, dan misalnya, apa yang perlu diperhatikan oleh orangtua?

Penggunaan informasi berbasis SMS lebih menguntungkan dan efektif dibandingkan dengan website atau cara-cara konvensional seperti surat karena Pertama, informasi disampaikan secara langsung kepada orangtua. Bandingkanlah dengan informasi di dalam website akan menunggu orangtua untuk membukanya dan dan hal itu tergantung pada koneksi internet. Atau, jika melalui surat yang dititipkan kepada siswa, ada kemungkinan surat tidak sampai kepada orangtua karena berbagai alasan, misalnya lupa atau hilang. Terlebih jika surat yang dimaksud adalah surat peringatan atau teguran, maka hal itu mudah “disembunyikan” oleh siswa bermasalah.

Kedua, informasi disampaikan dengan cepat, bahkan saat itu juga. Hal itu berguna untuk memberikan informasi darurat, selain juga sebagai basis informasi reguler tentang kehadiran, nilai, perilaku, dan lain-lain.

Ketiga, informasi disampaikan dan dibuka sesuai waktu yang dimiliki. Meskipun disampaikan langsung dan segera, informasi melalui SMS dapat dibuka ketika sempat. Bandingkan dengan telepon yang harus diangkat saat itu juga meskipun waktunya sedang tidak tepat.

Keempat, SMS dapat pula dijadikan sebagai reminder agenda-agenda penting sekolah secara otomatis. Di website memang kita dapat melihat agenda kegiatan sekolah dan ada beberapa aplikasi yang dapat membuat reminder, tetapi hal itu tergantung pada waktu kita membuka koneksi ke internet. Reminder dalam bentuk printed juga memiliki kelemahan seperti hilang atau lupa untuk membaca. Oleh karena itu, informasi melalui SMS menjadi salah satu alternatif yang baik karena langsung diterima oleh orangtua pada saatnya.

Ke depan, ada puluhan ribu sekolah di Indonesia dan jutaan orangtua siswa yang dapat terlibat dalam hubungan langsung sekolah – orangtua ini. Hal itu serupakan peluang bagi provider telepon seluler Indonesia untuk membangun sistem komunikasi berbasis SMS. Tantangan pula bagi sekolah-sekolah untuk menyediakan sumber daya manusia dan infrastrukturnya. Sebuah tantangan baru untuk memberikan informasi dan layanan maksimal bagi orangtua siswa dengan cepat, langsung, dan murah.

Inilah saatnya sekolah, melalui teknologi informasi, menempatkan peran kemitraan orangtua dalam pendidikan sebagai partner sekolah dalam mendidik anak-anak mereka. Di sisi lain, secara langsung maupun tak langsung, informasi dan komunikasi berbasis SMS akan menuntut vitalitas sekolah, transparansi, dan kecepatan. Perhatian terhadap siswa akan lebih personal dan intens dan itu merupakan suatu hal yang positif bagi sekolah dan masyarakat.

Kita berharap, dengan munculnya aplikasi informasi dan komunikasi berbasis SMS ini, kualitas pendidikan kita akan semakin setara dengan bangsa lain. Tentu saja, orangtua akan sangat siap dan menunggu-nunggu munculnya informasi dan komunikasi berbasis SMS ini. Masalahnya, jika masyarakat telah siap, telah siapkah sekolah-sekolah kita? (Sigit Setyawan).

Senin, 01 Oktober 2007

Indonesia Milik Siapa

Dalam tugas artikel bahasa, siswa membuat survey tentang kebiasaan membuang sampah. Mereka menemukan bahwa kebanyakan siswa SMP dan SMA tahu bahwa mereka harus manjaga kebersihan. Namun, sangat banyak dari mereka, yang meskipun tahu, tetapi membuang sampah sembarangan. “Polisi aja buang puntung rokok sembarangan, Pak,” celetuk seorang siswa.

Ada juga siswa yang mengangkat tangan dan mengatakan bahwa pendidikan kita cuma sebatas teori saja. Misalnya, menyeberang di zebra cross, berjalan di trotoar, tanda dilarang stop, semua itu tidak banyak gunanya lagi. Sebagai guru, saya terkesan dengan respon dan keberanian mereka mengutarakan pendapat, tetapi pada saat yang sama, gelisah memikirkan bagaimana merespon siwa-siswa kritis ini di depan kelas.

Saya tidak hendak mengkritisi oknum atau institusi, tetapi lebih ingin menyoroti fenomena dibalik semua itu. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan para siswa kalau hingga saat ini pendidikan kita cuma sebatas teori yang mengawang-awang. Di sisi guru, muncul permasalahan lain, yaitu bagaimana dirinya terjepit diantara sebuah realitas sosial yang berbeda dengan apa yang disampaikan di dalam kelas. Guru seperti terjepit antara dua kehidupan. Dunia kehidupan sehari-hari dan sebuah buku teks yang harus disampaikan di dalam kelas.

Tidak usah jauh-jauh, di kota besar mana pun di Indonesia, kita melihat persoalan yang nyaris sama: perempatan yang semrawut, angkot yang nge-tem dan menaikkan penumpang sembarangan, penyeberang jalan yang seenaknya menyeberang di manapun dan kapanpun dia mau, sampah, rokok, bungkus permen, bungkus makanan di halte, stasiun, dan terminal. Semua sudah biasa.

Di sekolah, alih-alih dianggap memberikan teladan, para guru bisa saja dianggap sok suci, sok baik, atau munafik ketika memberikan contoh. Generasi muda telah menjadi skeptis melihat kenyataan hidup sehari-hari. Dan anehnya, hampir semua orang menganggap permasalahan ini sebagai hal biasa.

Pertanyaannya adalah, apakah hal “sepele” ini harus masuk ke dalam kurikulum? Sementara, persoalan budi pekerti yang sempat dibahas media masa beberapa tahun lalu seperti lenyap begitu saja dari arena diskusi publik, apalagi persoalan membuang sampah, atau mnyeberang pada tempatnya, atau naik bis harus dari halte. Mungkin ini terlalu sepele untuk dibahas.
Namun, bukankah hidup kita memang setiap hari dibangun dari hal-hal “sepele” ini? Rutinitas bangun pagi, sarapan, bekerja, berinteraksi sosial, dan berkebudayaan. Di kota besar seperti Jakarta, macet menjadi makanan sehari-hari. Tanyakan kepada orang Jakarta, komentar mengenai Jakarta, maka jawabnnya adalah, “Ah, biasa.”

Tidakkah semua insan Indonesia menginginkan ketertiban dan kenyamanan? Mungkin jawabannya adalah “ya”. Namun, kembali seperti sikap para siswa, meskipun tahu, mereka tidak mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mampu karena memang tidak ada panutan di dalam sekolah sendiri maupun di dalam masyarakat kita.
Belum lagi kalau kita membicarakan masalah korupsi, “menembak” ketika membuat KTP dan SIM. Hal-hal tak dapat dielakkan, menyulitkan pendidik, baik guru maupun orangtua, dalam mananamkan nilai-nilai kejujuran dan keagungan budaya bangsa kita. Ketika kita membicarakan soal kejujuran dan integritas misalnya, remaja kita mempertanyakan soal kecurangan yang dilakukan orangtuanya, Pak RT, atau Pak Lurah. Juga ketika kita membicarakan tentang moralitas, mereka membicarakan para pejabat yang korupsi. Semua itu didapatnya dari media massa dengan sangat terbuka.

Ketika pemerintah membuat peraturan atau Perda atau Undang-Undang, lalu tidak dijalankan dengan konsisten, di sekolah, siswa yang kritis akan menjadikan itu sebagai referensi bagi mereka untuk melanggar peraturan sekolah. “Undang-undang aja dilanggar kok, Pak,” dan guru Bimbingan Penyuluhan tidak lagi memkai kata-kata mendidik, melainkan hukuman.
Mau tidak mau, disadari atau tidak, institusi sekolah telah menjadi sebuah institusi yang menanggung beban yang sangat berat. Di mana lagi anak-anak kita “mengenal” peraturan, bertingkah laku baik, dan hal-hal yang “seharusnya”, kalau bukan di sekolah? Dari jam tujuh pagi sampai sore hari mereka berada di sekolah dan bagi remaja, hidupnya adalah untuk sekolah.

Ironisnya, sekolah-sekolah kita seperti “kelebihan beban”, sehingga bekerja seperti sebuah mesin yang menyampaikan kurikulum semata. Asal semua materi habis, habis sudah tanggung jawabnya. Kita hanya dapat menghitung dengan jari, sekolah-sekolah yang telah menyadari hal ini dan menjadi sekolah favorite atau unggulan. Namun, jumlah tersebut tidaklah signifikan untuk menjadi agen perubahan di tengah-tengah masyarakat kita.

Maka, apa yang harus dikatakan oleh seorang guru di depan kelas ketika membicarakan tentang moralitas, misalnya. Atau, apa yang harus dikatakan seorang guru apabila siswa mengeluhkan kekecewaan mereka terhadap negerinya setelah menonton Discovery Chanel, National Geography, dan buku-buku referensi tetang negara-negara maju negara tetangga terdekat kita, Malaysia dan Singapura.

Pertanyaannya kemudian adalah apa dasar-dasar kebanggaan mereka kelak atas Indonesia kita, jika kita tidak cepat-cepat memperbaiki keadaan-kedaan “sepele” ini. Alih-alih berjuang bagi bangsa, mereka akan memilih bekerja di luar negeri dengan gaji tinggi dan kebanggaan hidup di negara maju dan merasa telah memenangkan dunia. Akan tetapi, tempat mereka sesungguhnya adalah di negeri mereka sendiri.

Agaknya kita dapat memakai pengandaian ini. Anak makan tidak perlu diajari, bisa sendiri. Anak berjalan perlulah kita tuntun sedikit demi sedikit. Namun, menyeberang jalan dan berperilaku santun, bukanlah alami. Orang tua, guru, dan masyarakat-lah yang harus mengajari.

Dari sisi pendidikan, perlulah kita menimbang sebuah kurikulum mengenai bagaimana seseorang harus hidup menjadi warga negara yang baik. Bagaimana prosedur mengurus KTP yang benar. Bagaimana berperilaku di depan publik dan memperlakukan orang tua, juga penyandang cacat. Semuanya itu akan sangat baik dipelajari sejak dari SMP, bila perlu sejak SD. Biarkan siswa-siswi bereksplorasi dimulai dari lingkungan terdekatnya, tempat di mana dia hidup.

Bagi kebanyakan pendidik, bangga bila siswa-siswinya berhasil, apalagi mengharumkan nama bangsa. Namun, sekarang di tengah-tengah permasalahan bangsa kita ini, pendidik terjepit antara realita dan utopia nasionalisme Indonesia. Sayangnya, sekolah tidak mampu menyediakan sebuah program untuk membuat anak sadar bahwa merekalah kelak yang akan membawa negara mereka di tengah-tengah pergaulan bangsa di seluruh dunia. Ataukah semua ini hanya impian seorang guru yang gelisah semata-mata? (Sigit Setyawan)