Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2016

Sabda Raja Singa

Puisi Sigit

Wahai penghuni hutan dengarkan sabdaku,

Kepada burung:

Engkau memang telah kepakkan sayapmu
ingin terbang tinggi katamu
keluarlah dari sarang
terbanglah ke langit biru
sebab kau tak mungkin terbang tinggi
selama kau dalam kungkungan itu.

Kepada kuda kukatakan:

Kau ingin lebih kuat lagi,
tanggalkan kereta kencanamu
yang hanya mengangkut satu orang raja.
Gantilah menghamba pada rakyat jelata,
tanggunglah beban berat mereka
niscaya engkau menjadi kuda terkuat di dunia.

Dan kepada anjing kutitahkan:

Berhentilah menjilat muka tuanmu.
Mulailah menggonggong ketika para kucing
mencuri perbendaharaan tuanmu.
Koyakkan dan gigit,
mereka yang pura-pura baik
tapi tangannya menggerayang segala harta benda.
Itulah tugasmu.

Sebab kita ini bukan manusia.

Rabu, 30 Maret 2011

Selamat Jalan

Puisi Sigit Setyawan

untuk murid Amanda

Sepi
Sunyi
Kosong
Hampa

Limbung
Nanar

Aku mengaduh
Aku bersimpuh
Aku menangis
Aku mengais

Bukan bagaimana pergi
Tapi bagaimana tinggal

Bukan waktu
Tetapi arti

Apakah semua harus kupahami
Ataukah kurelakan
Sebab pada perasaan rela
Kutemukan kekuatan

Selamat jalan
Kulepas engkau pada Guru Sejati

Jakarta, 30 Maret 2011

Selasa, 08 Juni 2010

Luar Biasa

Puisi Sigit Setyawan

Kupandangi gedung tinggi
rumah tinggal di langit
mewah, agung, kejayaan

luar biasa pembangunan negeri ini

Kuamati mobil mewah
orang-orang gagah

luar biasa kayanya

Kudengar radio pagi ini
pejabat dan ahli kenyang berteori
merancang sejahteranya semua orang
kelak kemudian hari

luar biasa pintarnya mereka

Sambil aku kagum
aku bersyukur dalam hati
karena masih ada sisa roti
di tong sampah itu
pagi ini

Jakarta Metropolitan, Juni 2010

Jumat, 02 April 2010

Hidup ini Adil

Puisi Sigit Setyawan

Adil jika kita binasa, sebab kita tak layak hidup
sejak Adam memakan buah terlarang di taman Eden.
Tapi justru Sang Pencipta mencintai manusia yang telah melanggar
jelas-jelas perintahNya.

Jika aku adalah Dia, maka kuhapus saja. Untuk apa menciptakan sesuatu
tapi seenaknya melanggar perintah? Robot tak mau kerja dimusnahkan,
pot yang mencong dihancurkan, salah tulis dihapus.

Oh, itu bukti kalau yang diciptakan adalah: manusia.

Adil, jika manusia dimatikan saja. Tapi ternyata dicintaiNya juga.

Lalu, seorang tanpa tangan dan kaki melangkah depan kamera dan berkata,
hidup ini sungguh indah kawan, lihatlah, kita hidup!

Lalu, orang di pinggir jalan yang tadinya mengeluh karena mengorek sampah
hanya demi mengganjal perut berkata, benar juga.

Lalu, seorang remaja yang mau bunuh diri karena ditolak pujaan hati
mengurungkan niatnya.

Lalu, seorang yang sakit kanker tersenyum. Ia yang tadinya melihat kalau
hidupnya tinggal sebentar lagi, berubah melihat bahwa hidupnya ternyata
sudah lebih lama dari prediksi dokter menuju kematiannya.

Lalu, seorang yang dari kemarin iri melihat kekayaan tetangganya,
berkaca di depan cermin dan berkata,
apalah artinya, toh aku masih hidup juga.

Dikasih hati merogoh ampela,
dikasih hidup meminta kenikmatan
dikasih uang meminta korupsi
dikasih istri meminta selingkuh
dikasih kenikmatan meminta ekstasi

Lalu, ketika semua tak sesuai keinginan, yang dikasih itu
mencaci maki Penciptanya
yang seharusnya
telah membunuh ciptaan itu
sejak dahulu kala.

Awal April 2010

Senin, 08 Maret 2010

Puisi dalam UN: Soal Objektif yang Sangat Subjektif

Izinkan saya menginterpretasikan puisi berikut ini.

Lentera Hati
(Puisi Desi Yunita)

Bening kristal
Lentera hati
Kala deras rinai hujan
Kelabu menutup langit

Percikan laut
Selaksa peristiwa hilir mudik
Di dasar relungku
Ketika cakrawala menyentuh langit
Dalam dentingan waktu menghiba

Aku bosan
Menebar asa binasa
Dalam kejam dunia
(Diambil dari Soal UN Bahasa Indonesia SMA 2008/2009)

Puisi ditutup dengan pernyataan yang merupakan pernyataan akhir si aku dalam puisi “Aku bosan/Menebar asa binasa/Dalam kejam dunia”. Jika diparafrasekan akan berbunyi “Aku (telah) bosan (untuk) (menyebarkan keinginan) untuk (mati) dalam dunia yang kejam.” Jadi, si aku dalam puisi merasa tidak lagi ingin mati karena kejamnya dunia.

Mengapa dia “tidak jadi ingin mati”? Jawabannya ada di bait kedua dan pertama.

Di bait kedua, “Ketika cakrawala menyentuh langit” (ketika dia melihat jauh di tepi pantai, tatapannya ke arah cakrawala)/ “Dalam dentingan waktu menghiba” (ketika dia memikirkan tentang kesedihannya), dia mendengar suara deru ombak yang digambarkan pengarang sebagai “Percikan laut” yang mengingatkan dirinya tentang peristiwa yang terjadi di dalam kehidupannya yang sedang dipikirkannya di dalam lubuk hatinya (“Di dasar relungku”). Apakah itu membuatnya ingin mati? Tidak.

Di bait pertama, “Kala derai rinai hujan/ Kelabu menutup langit” yang jika diartikan dalam lapis makna pertama, “Saat itu sedang hujan dan langit sangat mendung”, si aku menemukan sesuatu yang sangat kontras, yaitu “Bening kristal/ Lentera hati”. Sesuatu yang kontras terlihat di sini, yaitu di tengah derai hujan turun dan langit mendung, dia seperti menemukan “pencerahan”. Jadi, “Bening kristal/ Lentera hati” itu adalah suatu pencerahan yang dialami si aku di dalam puisi yang sedang terpuruk dalam kesedihan. Si aku ini tiba-tiba merasa menemukan sesuatu yang sangat “bening” yang dapat menuntun dia ke arah lain dalam kehidupannya. Sesuatu yang bening itu adalah “Lentera hati”, yaitu sesuatu ilham yang menerangi hatinya.

Sungguh sayang, di UN SMA 2008/2009 lalu ada soal seperti ini…

No. 23
Makna lambang kata bening Kristal pada puisi tersebut adalah
A. Kekecewaan
B. Kesedihan
C. Kemarahan
D. Kebosanan
E. Kekejaman
Buat saya, bening kristal adalah sebuah kontras, sebuah penemuan, sebuah pencerahan. Jawaban A s.d. E sama sekali tidak masuk akal.

No. 24
Maksud isi puisi tersebut adalah…
A. Seseorang yang telah merasa bosan hidup di dunia.
B. Seseorang yang dendam karena berbagai persoalan dalam hidup.
C. Seseorang yang berada dalam kesedihan dan keputusasaan.
D. Kekelaman dan selaksa peristiwa yang silih berganti.
E. Suasana bosan menghadapi kelamnya dunia.

Buat saya, jawaban A s.d. E sama sekali tidak mewakili maksud maupun isi. Selain “maksud” maupun “isi” itu perkara berbeda, jawaban di atas sama sekali tidak masuk dalam intrepretasi saya.

Puisi Diobjektifkan?
Puisi ingin diukur dengan A, B, C, D, dan E? Sungguh tidak dapat dimengerti dari sisi teori pengkajian puisi manapun. Jadi, terlepas dari pro dan kontra UN diadakan atau tidak, nasib ratusan ribu bahkan jutaan siswa disandarkan pada soal yang menurut saya tidak valid sebagai sebuah soal yang objektif. Semoga di tahun-tahun mendatang, soal Objektif hanya untuk hal-hal yang objektif saja. (Sigit, alumnus Fakultas Sastra UGM)

Jumat, 07 Agustus 2009

Teror

Puisi Sigit Setyawan

Dar-der-dor teror
Mati kamu ditembak peneror
Hilang kamu karena teror

Bum-bum-jleger
Ada bom teroris di hotel
Ada pula di tempat-tempat encer

Di sini teror di sana teror
Di mana-mana teror
Jadi biasa, biar dibom tetap aja molor

Kalau aku takut pada teror
Menang juga peneror
Kalau aku tak peduli padanya
Percumalah saja usahanya

Dhut-dhut-dhut
Wah yang ini bom kentut
Menghabisi hidungku
Hilang pula lahap makanku

Ruuum-ruuum-rumm
Yang ini bukan bom
Tapi suara motor
Bikin copot jantungku

Anjing-sialan-setan
Yang ini adalah bom
Dari mulut sopir sialan
Yang memecah gendang telingaku
Dan telah membunuh nuraniku.

Jakarta, Agustus 2009

Sabtu, 21 Februari 2009

Australia

Puisi Sigit Setyawan

Satu negeri
Satu benua
Satu bahasanya

Satu luasnya daratan
Hampir sama dengan luasnya
Tujuh belas ribu pulaunya negeriku

Mengapa pula jauh ke sana
Melewati samudera dan gurun luas
Tapi kita mengatakan sebagai tetangga

Negeri Barat di sebelah Timur
Negeri Selatan di sebelah Tenggara

Aku menyebutnya negeri di ujung dunia
Di mana kanguru menyembunyikan
Mungil bayi di dalam sakunya
Dan koala bersembunyi di dalam tidurnya

Kukira
Satu warna
Satu budaya
Rupanya menyimpan ragam pula

Ada orang dari berbagai bangsa di sana
Memainkan peran sama sebagai manusia

Orang Indonesia di negeri Australia
Membawa buku duduk di universitasnya
Menyimak ilmu belajar tepat waktu

Kapan-kapan cobalah ke Australia
Negeri tetangga tapi jauh tempatnya
Sama seperti rumah kita di desa
Yang harus berjalan sekilo jauhnya
Hanya untuk meminta sedikit gula
Atau sekedar minum teh bersama.

Jakarta, Februari 2009

Singapura

Puisi Sigit Setyawan

Ada negara satu kota saja
Kau bisa hafalkan lekukan jalannya
Dan menyelami ujung-ujungnya

Lihatlah gedung-gedungnya
Mengapa mahal harganya
Tapi ada yang berkata kalau ada pula
Milik orang Jakarta

Ada juga tempat belanja
Dan orang Indonesia tersenyum tertawa
Menenteng tas kertas di tepi jalan raya

Ada pemuda Indonesia tergegas
Sebab dia harus pergi ke universitas
Untuk mendengarkan dosen berbicara

Negeri tetangga di dekat Sumatra
Dari Batam menyeberang saja
Tapi bagi orang Papua
Terlalu jauh tempatnya

Di negeri singa putih
Orang-orang belajar dan berlatih

Membuang sampah bisa didenda
Menyeberang harus pada tempatnya
Naik bis ada waktunya
Tidak seperti kita, bebas semaunya

Itulah negeri singapura
Tempat te ka i juga ikut bekerja
Mencari uang untuk keluarga.

Jakarta, Februari 2009

Jumat, 30 Januari 2009

Yes, We Can

Puisi Sigit Setyawan

Obama menjadi presiden
Yes, we can

Sebab sesungguhnya semua manusia adalah sederajat
Yes, we can

Sebab mimpi itu dapat diwujudkan jika kita berjuang meraihnya
Yes, we can

Sebab yang pertama kali menghambat mimpi-mimpi itu adalah
Diri kita sendiri

yang mengatakan aku tidak bisa adalah diriku sendiri

yang pertama kali mengatakan aku akan gagal adalah diriku sendiri

yang tidak berbuat apa-apa untuk dunia adalah aku sendiri

yang seharusnya berbuat untuk dunia adalah aku ini

Yes, We Can

Obama jadi presiden.

(Obama Menjadi Presiden, Januari 2009)

Kebenaranku

Puisi Sigit Setyawan

Seorang lelaki berseru, “Kebenaran adalah warna Jingga!”
Sebab lelaki itu seluruh tubuhnya berwana Jingga.

Tetapi ada seorang lelaki lain berwarna biru berkata,
“Akulah kebenaran karena kebenaran adalah warna biru.”

Lelaki berwarna Jingga itu menghunus pedangnya,
Matanya membara, dagingnya serentak mengeluarkan bara,
Ia berubah menjadi merah dan berkata,
“Tidak, kebenaran adalah warna Jingga.”
Lalu dibenamkannya pedang itu ke dada lelaki biru.
Lelaki biru itupun meregang nyawa, lalu berubah menjadi hitam

Lelaki berwarna jingga itu kembali berseru, “Kebenaran adalah Jingga!”
Tetapi seorang lelaki berwarna merah melintas di depannya.

“Mengapa engkau berwarna merah, padahal sudah kukatakan
bahwa kebenaran harus jingga!”

Lelaki merah itu mengatakan, “Sebab kebanaran adalah merah.”
Lelaki jingga itu berubah menjadi merah, dari tubuhnya keluar api, ia
Menghunus pedang,
“Tidak! Kamu harus menjadi jingga!”
Lalu dibenamkannya pedang itu ke dada lelaki merah itu.
Seketika itu juga lelaki merah itu berubah menjadi hitam.

Lelaki jingga yang tadi menjadi merah itupun kemudian kembali menjadi jingga,
Setelah ia menyarungkan pedangnya.

Tetapi, tanpa diketahuinya, seorang lelaki merah dan seorang lelaki biru lain
Serentak membenamkan pedangnya di punggung lelaki jingga itu
sehingga lelaki jingga meregang nyawa.
Ia pun berubah menjadi hitam.

Tiba-tiba langit tertutup.
Gelap gulita menyelimuti bumi.
Suara-suara terhenti.
Semua mata menjadi buta
Sebab tidak ada lagi cahaya.

Semua telah menjadi hitam.

Dalam hitamnya hitam, suara terdengar
KEBENARAN ADALAH AKU
BUKAN WARNAMU

Jakarta, Januari 2009

Senin, 03 November 2008

Famili Kota Ini

Puisi Sigit Setyawan

Papa pulang membawa marah
Mama pulang membawa membawa diam
Upik diam membawa buku pelajaran
Buyung menggeleng tertawa, di telinga ada nyanyi suka-suka

Telepon bernyanyi, pembantu berlari
Nyonya, ada telepon dari bapak guru, si Upik mendapat nilai satu
Telepon bernyanyi lagi, pembantu berlari lagi
Tuan, ada telepon dari ibu guru, si Buyung berkelahi

Papa mama, tuan dan nyonya memaki-maki
Untuk apa bekerja kalau hasilnya begini
Dasar anak tak tahu diri

Esok pagi Buyung berkelahi lagi
Upik dapat nilai satu lagi

Papa pulang membawa diam
Mama pulang membawa marah
Upik menggeleng tertawa, di telinga ada nyanyi suka-suka
Buyung diam membawa buku pelajaran

Pak guru meminta papa mama menghadap pak kepala
Sopir tiba-tiba menjadi wali
Mengaku-aku menjadi famili
Soalnya setiap bulan sudah digaji

Papa pulang membawa diam
Mama pulang membawa diam
Upik diam, Buyung pun diam
Televisi tak tahu diri berbunyi
Komputer memainkan em pe tri

Sampai besok pagi,
Seperti berita di televisi,
Papa mama jadi selebriti,
Tak mampu bersama lagi,
Karena cinta tak ada lagi.

Esok pagi Buyung berkelahi lagi
Upik dapat nilai satu lagi
Siapa yang peduli?

(Jakarta, November 2008)

Kamis, 25 September 2008

Di Sydney

Puisi Sigit Setyawan

Inikah dunia barat
Ataukah dunia tenggara?

Inikah pulau
Ataukah benua?

Di sini kuterdiam di pantainya
Menikmati tubuh terbuka
Di Bondi katanya tidak boleh merekam dalam kamera
Maka kurekam saja di kepala.

Sesampainya aku di rumah putih
Aku kagum dibuatnya.

O, itulah kebanggaan dunia.

Tunggu aku sampai menyeberang jalannya,
Tombol kutekan
Menunggu lampu hijau merah menyala
Meski tak ada mobil lewat di sana.
Di tempat asalku, aku menguasai jalan raya.

Lalu sekelompok teman bercanda
Berjanji makan bersama
Di restoran
Tapi semua membayar sesuai yang dimakannya.
Di tempat asalku, akulah yang membayarinya
Jika aku mengajaknya.

Ah,
Mungkin inilah negeri multi baru.
Ada putih, ada kuning, ada hitam.

“How are you mate?”
tepuk seorang temanku di pundak.
Aku tersenyum sipu dan membungkukkan badanku.

(Jakarta Sept 2008)

Teman Sejati

Puisi Sigit Setyawan

Tahun kuhitung satu dua tiga
Kita terus bersama
Saat suka saat duka
Susah senang kita bersama

Tahun kuhitung empat dan lima
Kadang ada canda
Kadang ada tawa
Tapi ada pula derita

Tidak selalu kita rukun
Kadang kita saling menjauh
Tapi kita Satu
Berteman selalu

Hingga kita tua nanti
Meski kadang ada benci
Tapi kamu selalu di hati

Teman sejati
Tak ada ganti
(Jakarta 2007, untuk kelas 7.1)