<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958</id><updated>2012-02-13T12:27:02.655+07:00</updated><category term='Kehidupan'/><category term='Puisi'/><category term='Solo Batik Carnival'/><category term='Esai Budaya'/><category term='Cerpen'/><category term='Esei Pendidikan'/><category term='Bahasa Gaul'/><category term='Diari Mini'/><category term='filsafat'/><title type='text'>Sigit Setyawan - Puisi, Esai, Artikel</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>84</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6307935175154831241</id><published>2012-01-20T07:42:00.003+07:00</published><updated>2012-01-20T09:59:59.035+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Retak</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu melihat&lt;br /&gt;karena ia cantik&lt;br /&gt;Cinta itu mengecap&lt;br /&gt;karena ia manis&lt;br /&gt;Cinta itu mendengar&lt;br /&gt;karena ia merdu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta retak bagaikan vas bunga&lt;br /&gt;jatuh karena terlalu ditimang&lt;br /&gt;tapi enggan mengganti dengan yang baru&lt;br /&gt;sebab merusak berarti membeli&lt;br /&gt;sedangkan barang yang sudah dibeli tak bisa ditukar kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retakan cinta itu semu&lt;br /&gt;sebab cinta itu tumbuh&lt;br /&gt;tak seperti vas bunga yang retak selamanya&lt;br /&gt;karena ia melihat&lt;br /&gt;karena ia mengecap&lt;br /&gt;karena ia mendengar&lt;br /&gt;maka retakan cinta&lt;br /&gt;itu cuma sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6307935175154831241?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6307935175154831241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6307935175154831241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6307935175154831241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6307935175154831241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2012/01/retak.html' title='Retak'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2188046728607220567</id><published>2011-09-16T08:27:00.001+07:00</published><updated>2011-09-16T08:27:15.208+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Aku, digital imigrant Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku mungkin akan mengerutkan dahi kalau dengar ceritaku tentang masa lalu. Jadi, ini kutulis agar anak-anak zaman ini, yang oleh &lt;a href="http://www.marcprensky.com/writing/Prensky%20-%20Digital%20Natives,%20Digital%20Immigrants%20-%20Part1.pdf"&gt;Marc Prensky&lt;/a&gt; disebut sebagai &lt;em&gt;digital native&lt;/em&gt;, memahami masa lalu orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu 1988, aku duduk di bangku SMP kelas 7. Sebuah surat cinta kutulis di atas kertas yang kuning nan wangi. Temankulah yang memberikannya kepada cewek itu, soalnya aku nggak berani. Maklum, cinta monyet. Dua hari kemudian, sebuah surat penolakan yang cukup panjang kuterima. Ah, kesal sekali rasanya. Surat penolakan cinta yang pertama itupun kusobek-sobek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis dengan tangan, panjang lebar, sudah biasa. Memilih kertas wangi untuk merayu, menjadi keasyikan tersendiri. Mau bagaimana lagi, memang begitulah lumrahnya. Namun, tahun 1994, waktu masuk kuliah, ceritanya agak lain. Berbeda dengan pengalaman di SMP nan wangi dan ditulis tangan, kali ini semua harus ditulis dengan mesin ketik. Mesin ketik adalah syarat mutlak bagi lancarnya kuliah, soalnya makalah dan tugas-tugas musti pakai mesin tik, nggak boleh ditulis tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang waktu itu komputer sudah cukup banyak. Aku pun beruntung karena bersekolah di SMA yang terbilang bagus yang sudah ada lab komputernya. Waktu itu, layar komputer &lt;em&gt;tuh&lt;/em&gt; warnanya hitam, tulisannya ijo. Lalu, keluar yang baru, layar hitam, tulisannya putih. Kalau mau ngetik, ada program &lt;em&gt;chiwriter&lt;/em&gt; yang bisa masuk ke disket gede, gunanya untuk ngetik, nulis. Lalu, muncul program &lt;em&gt;wordstar&lt;/em&gt; yang lebih “canggih” bersama dengan populernya disket kecil. &lt;em&gt;OS Windows&lt;/em&gt; belum ada, &lt;em&gt;mouse&lt;/em&gt; juga belum ada. Jadi masih pakai sistem &lt;strong&gt;kontrol+b&lt;/strong&gt; untuk tebal, &lt;em&gt;kontrol +i&lt;/em&gt; biar hurufnya miring. Celakanya, semua ketahuan benar atau salah waktu udah &lt;em&gt;diprint&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga komputer mahal banget. Sebagai mahasiswa miskin, aku cuma bisa beli mesin tik yang harganya enam puluh ribu. Pilihan lain adalah ke rental komputer, jadi bisa bawa disket (waktu itu nggak ada USB), lalu data disimpan di disket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar tahun 1994 kerasa banget kalau komputer mulai menjamur, rental-rental komputer dan warnet-warnet di Jogja muncul di mana-mana. Yang "gila", warnet-warnet itu sampai di tingkat RT. Aku minta diajarin temenku, apa sih internet? Lalu aku bikin akun e-mail untuk pertama kalinya. Masalahnya, temenku kan juga nggak banyak yang punya e-mail, jadi sebenernya waktu itu cuma ingin tahu. Lagian, waktu itu kalau yang namanya punya e-mail tuh &lt;em&gt;keren&lt;/em&gt;. Jadi, apa alamat e-mailmu? Adalah pertanyaan yang gaul. Begitulah, aku ingat waktu teman-teman punya e-mail, aku bisa berkirim e-mail ke temanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah e-mail jadi jamak dan hal lumrah, sekitar 97an sampai 99an itu, chatting di internet menjamur dan banyak yang kecanduan. Teman-temanku hampir tiap hari chatting di internet. Padahal, nama atau identitas di chatting itu kan bisa asal dan bahkan kita nggak ngerti yang kita ajak ngobrol itu siapa. Jadi cuman gini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gits&amp;gt; kamu di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djoes&amp;gt; di jogja….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun itu (sekitar tahun 97-98) hape mulai dikenal. Yang paling kuingat, dulu ada yang namanya AMPS, yaitu kayak hape tapi cuman bisa nerima doang. Temenku punya, tapi kalau ditelepon suaranya berisik seperti walkie-talkie. Lalu, hape gsm mulai bermunculan. Waktu itu temanku punya hape yang layarnya cuman bisa buat satu line text. Nggak banyak mahasiswa punya hape soalnya, untuk dapat nomor hp waktu itu musti antre dan harganya kalau nggak salah sampai 600an ribu (waktu itu dolar nggak nyampe berkisar Rp 2.450-an, nasi plus lauk lele goreng sekitar Rp 900). Untuk bisa punya nomor hape, hmmm mahal….jadi musti agak kaya gitu lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, alamat e-mail dan no hape adalah hal keren, status sosial: gaul, tajir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun itu pula aku suka fotografi. Jadi, kalau belajar memotret, musti catat diafragma-nya berapa di frame nomer berapa, lalu kecepatannya berapa. Masalahnya, kita musti nunggu sampai film-nya habis. Bisa seminggu, bahkan sebulan agar bisa ngeluarin klise dari kamera, lalu klise itu dicuci. Ada yang 24 dan 36 frame negative film. Muridku hari ini (tahun 2011) nggak ngerti apa itu klise dan apa itu afdruk foto. Dulu, di sekitar kampus di Jogja banyak tuh kios afdruk foto hitam putih. Kiosnya kecil ada tulisan “Afdruk Foto” lalu ada yang khas: lampu petromaks buat mempercepat proses pengeringan foto. Jadi aku musti menjelaskan kalau yang namanya klise atau negative film itu perlu diafdruk atau dicetak dan hasilnya adalah foto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik dari kisah memakai kamera dengan rol film itu. Dulu aku dan beberapa teman naik gunung Sumbing di Temanggung. Udah foto-foto tuh, gaya banget. Temenku (laki-laki) telanjang dada dan bergaya di atas gunung yang super dingin. Tragisnya, sesampainya di rumah ketahuan kalau rol filmnnya tuh nggak nyantol di tuas menggerak alias masangnya nggak bener. Jadi, kita udah ngira foto-fotonya keren habis…. Alamak, ternyata hangus semua. Kini Cuma tertiggal kenangan di otak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Migrasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Remaja sekarang mungkin nggak bakal menggunakan kertas warna kuning nan wangi untuk melamar kekasih hatinya agar jadi pacarnya. Jadi, mungkin para cewek juga tidak terbiasa menikmati “gombal” sang cowok lewat kata-kata berbunga-bunga nan puitis. Komputer juga sudah bukan teknologi heboh lagi, melainkan sudah merupakan bagian dari hidup. Itu sama seperti lampu neon lah, nggak ada yang istimewa. Dulu waktu lampu neon ditemukan, heboh banget, sekarang bahkan kita nggak sadar kalau itu istimewa. Sama, komputer dan foto digital juga seperti itu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mau tidak mau aku harus bermigrasi ke kebiasaan ini: dari yang serba manual dan cetak ke serba digital. Yang tadinya musti nulis surat panjang lebar, musti nulis SMS yang bahkan disingkat-singkat, misalnya “gw dh prgi ke rmh lu tp lu gk ada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dilahirkan di era ketika semua serba tercetak, serba sabar menunggu, sekarang sadar kalau era itu telah berlalu. Aku, digital imigran Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2188046728607220567?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2188046728607220567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2188046728607220567' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2188046728607220567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2188046728607220567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2011/09/aku-digital-imigrant-indonesia-anakku.html' title=''/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2782788404125303952</id><published>2011-04-25T11:05:00.000+07:00</published><updated>2011-04-25T11:05:39.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sampah</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah sumpah serapah sebab sampah adalah sampah&lt;br /&gt;sampah di sini sampah di sana sampah di jalan sampah di tong sampah&lt;br /&gt;Sumpah aku menyumpah sebab sampah tidak ada di tempat sampah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sumpah malah membangun sampah&lt;br /&gt;Di sampah malah membangun sumpah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang sibuk sekali sesekali sumpah serapah&lt;br /&gt;Di tempat yang bukan tempat sampah&lt;br /&gt;Sampah bisa busuk, sampah tak bisa busuk, sampah bisa dijual, sampah yang adalah sampah&lt;br /&gt;Sampah masyarakat, sampah dosa, sampah di tempat yang seharusnya bukan sampah&lt;br /&gt;Sebab kata-kata baik diucapkan oleh orang berdosa menjadi sampah di media massa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disumpahi tetapi malah menyanyi&lt;br /&gt;Disampahi tetapi malah tertawa&lt;br /&gt;Sebab sampah merasa dirinya bukan sampah&lt;br /&gt;Malah manusia merasa dirinya tidak membuang sampah&lt;br /&gt;Padahal hasil akhirnya adalah sampah&lt;br /&gt;Makan jadi sampah, minum jadi sampah, kentut adalah sampah&lt;br /&gt;Sampah selalu bau kecuali si sampah yang merasa bukan sampah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sampah dapat membersihkan dirinya yang adalah sampah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2782788404125303952?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2782788404125303952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2782788404125303952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2782788404125303952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2782788404125303952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2011/04/sampah.html' title='Sampah'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4253977479113368032</id><published>2011-04-25T10:57:00.000+07:00</published><updated>2011-04-25T10:57:15.035+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Menciummu bukan Mencintaimu</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duaribu tahun lalu di taman getsemani&lt;br /&gt;seorang murid mencium gurunya&lt;br /&gt;demi untuk membunuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab perkara cium mencium bukanlah barang baru&lt;br /&gt;demikian pula berkhianat demi keinginan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menciummu&lt;br /&gt;aku tidak mencintaimu&lt;br /&gt;aku mencintai diriku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat Agung, Mei &amp;nbsp;2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4253977479113368032?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4253977479113368032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4253977479113368032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4253977479113368032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4253977479113368032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2011/04/menciummu-bukan-mencintaimu.html' title='Menciummu bukan Mencintaimu'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6488399693187864992</id><published>2011-03-30T08:35:00.000+07:00</published><updated>2011-03-30T08:35:52.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Selamat Jalan</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;untuk murid Amanda&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi&lt;br /&gt;Sunyi&lt;br /&gt;Kosong&lt;br /&gt;Hampa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limbung&lt;br /&gt;Nanar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengaduh&lt;br /&gt;Aku bersimpuh&lt;br /&gt;Aku menangis&lt;br /&gt;Aku mengais&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bagaimana pergi&lt;br /&gt;Tapi bagaimana tinggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan waktu&lt;br /&gt;Tetapi arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua harus kupahami&lt;br /&gt;Ataukah kurelakan&lt;br /&gt;Sebab pada perasaan rela&lt;br /&gt;Kutemukan kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan&lt;br /&gt;Kulepas engkau pada Guru Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 30 Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6488399693187864992?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6488399693187864992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6488399693187864992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6488399693187864992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6488399693187864992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2011/03/selamat-jalan.html' title='Selamat Jalan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-523804153428218722</id><published>2010-10-31T12:56:00.000+07:00</published><updated>2010-10-31T12:56:19.266+07:00</updated><title type='text'>Merapi Hari Ini</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang terbakar,&lt;br /&gt;dan tangisan pilu nenek meronta,&lt;br /&gt;kutemukan pandangan mata penuh tanya,&lt;br /&gt;soal kenapa ia musti meninggalkan tanah darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak ingin pergi, &lt;br /&gt;aku tak ingin pergi," pekiknya&lt;br /&gt;digigitnya lengan tentara,&lt;br /&gt;dijambaknya penggendongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku di sini hanya memandang,&lt;br /&gt;dengan tatapan kabur saja,&lt;br /&gt;sebab,&lt;br /&gt;air mata ini menutup mataku&lt;br /&gt;sehingga yang kulihat adalah&lt;br /&gt;kegaduhan hati&lt;br /&gt;para sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab di sanalah telah ditanam,&lt;br /&gt;segala kenangan akan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Untuk para sahabatku di kaki Merapi).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-523804153428218722?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.puisigit.com' title='Merapi Hari Ini'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/523804153428218722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=523804153428218722' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/523804153428218722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/523804153428218722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/10/merapi-hari-ini.html' title='Merapi Hari Ini'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6993988665881308892</id><published>2010-09-10T06:42:00.000+07:00</published><updated>2010-09-10T06:42:25.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>puisi sigit setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu sulit terucap&lt;br /&gt;begitu sulit tertangkap&lt;br /&gt;jika hati terasa letih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ini hari berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku minta maaf padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab,&lt;br /&gt;hidup ini terlalu riang&lt;br /&gt;sehingga percuma lagi&lt;br /&gt;kita merasa letih&lt;br /&gt;oleh keangkuhan kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6993988665881308892?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6993988665881308892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6993988665881308892' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6993988665881308892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6993988665881308892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/09/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7617809925787041456</id><published>2010-09-01T15:11:00.000+07:00</published><updated>2010-09-01T15:11:56.673+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Akhlak Mulia Jangan Sebatas Teori</title><content type='html'>Sebuah sharing. Merupakan makalah di bidang evaluasi dan pengukuran. Tulisan akademik tentunya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7617809925787041456?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='https://docs.google.com/leaf?id=0ByTJGXpi0bmlZjRhYjg4OWItMzU3ZS00ZTlmLWFiYzUtNGJmZTk4OWE2OWUy&amp;hl=en' title='Akhlak Mulia Jangan Sebatas Teori'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7617809925787041456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7617809925787041456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7617809925787041456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7617809925787041456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/09/akhlak-mulia-jangan-sebatas-teori.html' title='Akhlak Mulia Jangan Sebatas Teori'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7309597652137291206</id><published>2010-09-01T14:44:00.002+07:00</published><updated>2010-09-01T14:44:58.350+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Hermeneutika Cicak Buaya dan Perlawanan di Ruang Publik</title><content type='html'>Cicak melawan buaya yang bergulir beberapa waktu lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7309597652137291206?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='https://docs.google.com/leaf?id=0ByTJGXpi0bmlYzM3NzA5OTktZjhiOS00ODYzLTk2ZDAtOTIzNmY2ZDllMjM3&amp;hl=en' title='Hermeneutika Cicak Buaya dan Perlawanan di Ruang Publik'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7309597652137291206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7309597652137291206' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7309597652137291206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7309597652137291206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/09/hermeneutika-cicak-buaya-dan-perlawanan.html' title='Hermeneutika Cicak Buaya dan Perlawanan di Ruang Publik'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7096714045860479209</id><published>2010-09-01T14:43:00.000+07:00</published><updated>2010-09-01T14:43:08.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Aplikasi Moodle dan Desknow dalam Pendidikan</title><content type='html'>Sekedar sharing makalah yang agak serius mengenai Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7096714045860479209?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='https://docs.google.com/leaf?id=0ByTJGXpi0bmlMzJjYTE5OGItNGY5Mi00NWQxLWJmMzktNzQ3ODcxODQ2YWVj&amp;hl=en' title='Aplikasi Moodle dan Desknow dalam Pendidikan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7096714045860479209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7096714045860479209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7096714045860479209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7096714045860479209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/09/aplikasi-moodle-dan-desknow-dalam.html' title='Aplikasi Moodle dan Desknow dalam Pendidikan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5538321350709627252</id><published>2010-07-08T07:48:00.003+07:00</published><updated>2010-07-08T07:50:39.754+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Kebenaran dalam Sepak Bola</title><content type='html'>Menyaksikan laga sepak bola melalui televisi membuka mata saya pada sebuah “kebenaran” di lapangan permainan. Sepak bola adalah sebuah “permainan manusia”, di dalamnya ada kesalahan dan ketidaksempurnaan. Sebagai contoh, pemain dalam posisi &lt;em&gt;off side&lt;/em&gt; tidak dilihat oleh wasit, gol yang telah masuk dan memantul keluar dan wasit mengira memang itu bukan gol, keduanya adalah peristiwa yang dilihat “jelas” oleh kita yang berada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah, kita di rumah melihat dengan mata kamera. Fakta itu diulang-ulang dalam gerak lambat dari berbagai sisi, sementara para wasit melihat dari mata mereka dalam sudut yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada wacana untuk menggunakan teknologi, sehingga keputusan wasit menjadi akurat. Namun, apa makna dari akurat itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika wasit menggunakan teknologi dan “kebenaran” yang sebenar-benarnya menjadi acuan, maka sepak bola menjadi kehilangan makna kemanusiaannya. Terlihat jelas bahwa paradigma bermain bola adalah semata-mata untuk sebuah kemenangan. Hal seperti itu adalah sebuah kemunduran bagi sepak bola karena keindahan permainan menjadi hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunduran itu muncul dari permainan beberapa kesebelasan yang bermain sangat pragmatis, yaitu bermain untuk menang. Hal itu mengingatkan saya pada belajar hanya untuk nilai. Saya juga teringat ada siswa yang bermain tidak untuk &lt;em&gt;having fun&lt;/em&gt;, tetapi semata-mata untuk sebuah kompetisi. Betapa ruginya kita sebagai manusia telah gagal melihat keindahan dari sebuah kompetisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh yang takut untuk gagal. Padahal, bukan hanya berhasil atau gagal sehingga seseorang akan diingat dalam sejarah, melainkan juga karena karakter dan bagaimana mereka melakukan semuanya dengan hati dan keindahan. (Sigit Setyawan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5538321350709627252?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5538321350709627252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5538321350709627252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5538321350709627252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5538321350709627252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/07/kebenaran-dalam-sepak-bola.html' title='Kebenaran dalam Sepak Bola'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6728301409457521649</id><published>2010-06-08T10:41:00.001+07:00</published><updated>2010-06-08T10:45:27.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Luar Biasa</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi gedung tinggi&lt;br /&gt;rumah tinggal di langit&lt;br /&gt;mewah, agung, kejayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luar biasa pembangunan negeri ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuamati mobil mewah&lt;br /&gt;orang-orang gagah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luar biasa kayanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar radio pagi ini&lt;br /&gt;pejabat dan ahli kenyang berteori&lt;br /&gt;merancang sejahteranya semua orang&lt;br /&gt;kelak kemudian hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luar biasa pintarnya mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil aku kagum&lt;br /&gt;aku bersyukur dalam hati&lt;br /&gt;karena masih ada sisa roti&lt;br /&gt;di tong sampah itu&lt;br /&gt;pagi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta Metropolitan, Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6728301409457521649?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6728301409457521649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6728301409457521649' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6728301409457521649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6728301409457521649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/06/luar-biasa.html' title='Luar Biasa'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6847885599395098461</id><published>2010-05-14T12:38:00.000+07:00</published><updated>2010-05-14T12:38:15.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Tentang Kamu</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah daun yang menggugur&lt;br /&gt;dan resah embun menembus kulitku&lt;br /&gt;di remang bulan malu-malu&lt;br /&gt;aku memikirkanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di basahnya tanah merah akibat hujan sore itu&lt;br /&gt;sudah kuputuskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini klise&lt;br /&gt;Mungkin ini ironi&lt;br /&gt;ini suara hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mengering bersamamu&lt;br /&gt;Aku ingin menggersang bersamamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6847885599395098461?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6847885599395098461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6847885599395098461' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6847885599395098461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6847885599395098461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/05/tentang-kamu.html' title='Tentang Kamu'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5545298951496397815</id><published>2010-04-16T15:12:00.000+07:00</published><updated>2010-04-16T15:12:14.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Rintihan Hati</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ini terluka, di tepian rumput yang menggersang,&lt;br /&gt;di guguran daun membusuk&lt;br /&gt;di situ kutemukan bau kegalauan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin mengalir di pipi, menghinaku dengan tamparannya&lt;br /&gt;seakan aku ini bukan seorang manusia,&lt;br /&gt;ia menggoda anganku untuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan gemericik air, yang dulu selalu menemaniku,&lt;br /&gt;sekarang bernyanyi sumbang,&lt;br /&gt;seakan aku ini seorang anak yang terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapakah aku menangis,&lt;br /&gt;ketika semua orang terluka,&lt;br /&gt;kepada siapakah aku meronta,&lt;br /&gt;ketika semua orang binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab yang bersemayam ini adalah gugusan goresan&lt;br /&gt;tersalib dalam paku-paku masa lalu&lt;br /&gt;yang terus mengancamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ini ada untuk siapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebam&lt;br /&gt;aku kusam&lt;br /&gt;hingga kulihat Dia yang tersalib itu&lt;br /&gt;meneteskan sedikit darahnya di kakiku&lt;br /&gt;kuraih dengan ujung jariku dan kumasukkan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang bukan manusia&lt;br /&gt;yang sanggup memberiku kuasa untuk membakar saja&lt;br /&gt;rumput kering yang membusuk&lt;br /&gt;di bawah rindangnya pohon takberdaun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5545298951496397815?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5545298951496397815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5545298951496397815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5545298951496397815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5545298951496397815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/04/rintihan-hati.html' title='Rintihan Hati'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7277825033387297313</id><published>2010-04-12T19:04:00.000+07:00</published><updated>2010-04-12T19:04:21.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hampa</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampa, oh hampa&lt;br /&gt;hidup tanpa arti, tanpa kata-kata&lt;br /&gt;Kata tanpa kata hati, hati tanpa kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh cinta&lt;br /&gt;Oh luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampa adalah kosong, dari tepian sungai ini kulihat&lt;br /&gt;aliran air menari, meriak ke tepi-tepi&lt;br /&gt;tapi batu hitam di sisi kiri, tak mau ikuti&lt;br /&gt;riangnya air di kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hatiku,&lt;br /&gt;hampa di sisimu yang menyanyi&lt;br /&gt;seperti batu di kali, dingin dan sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lebih mudah bagiku&lt;br /&gt;berduka bersama dengan mereka yang berduka&lt;br /&gt;bukannya menjadi senang dengan mereka yang senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh hampa&lt;br /&gt;Oh luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku tak mampu&lt;br /&gt;melihatmu tertawa?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7277825033387297313?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.puisigit.com' title='Hampa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7277825033387297313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7277825033387297313' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7277825033387297313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7277825033387297313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/04/hampa.html' title='Hampa'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7896023298691625300</id><published>2010-04-02T06:18:00.000+07:00</published><updated>2010-04-02T06:18:06.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hidup ini Adil</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adil jika kita binasa, sebab kita tak layak hidup&lt;br /&gt;sejak Adam memakan buah terlarang di taman Eden.&lt;br /&gt;Tapi justru Sang Pencipta mencintai manusia yang telah melanggar&lt;br /&gt;jelas-jelas perintahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku adalah Dia, maka kuhapus saja.&amp;nbsp;Untuk apa menciptakan sesuatu&lt;br /&gt;tapi seenaknya melanggar perintah? Robot tak mau kerja&amp;nbsp;dimusnahkan,&lt;br /&gt;pot yang mencong dihancurkan, salah tulis dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, itu bukti kalau yang diciptakan adalah: manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adil, jika manusia dimatikan saja. Tapi ternyata dicintaiNya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, seorang tanpa tangan dan kaki melangkah depan kamera dan berkata,&lt;br /&gt;hidup ini sungguh indah kawan, lihatlah, kita hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, orang di pinggir jalan yang tadinya mengeluh karena mengorek sampah&lt;br /&gt;hanya demi mengganjal perut berkata, benar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, seorang remaja yang mau bunuh diri karena ditolak pujaan hati&lt;br /&gt;mengurungkan niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, seorang yang sakit kanker tersenyum. Ia yang tadinya melihat kalau&lt;br /&gt;hidupnya tinggal sebentar lagi, berubah melihat bahwa hidupnya ternyata&lt;br /&gt;sudah lebih lama dari prediksi dokter menuju kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, seorang yang dari kemarin iri melihat kekayaan tetangganya,&lt;br /&gt;berkaca di depan cermin dan berkata,&lt;br /&gt;apalah artinya, toh aku masih hidup juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikasih hati merogoh ampela,&lt;br /&gt;dikasih hidup meminta kenikmatan&lt;br /&gt;dikasih uang meminta korupsi&lt;br /&gt;dikasih istri meminta selingkuh&lt;br /&gt;dikasih kenikmatan meminta ekstasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ketika semua tak sesuai keinginan, yang dikasih itu&lt;br /&gt;mencaci maki Penciptanya&lt;br /&gt;yang seharusnya&lt;br /&gt;telah membunuh ciptaan itu&lt;br /&gt;sejak dahulu kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7896023298691625300?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7896023298691625300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7896023298691625300' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7896023298691625300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7896023298691625300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/04/hidup-ini-adil.html' title='Hidup ini Adil'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7172423344518791768</id><published>2010-03-29T06:41:00.000+07:00</published><updated>2010-03-29T06:41:55.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Antologi Puisiku</title><content type='html'>Aku dalam proses menyiapkan Antologi Puisiku yang pertama. Rencananya kuberi judul "GOMBAL WARNING!" Mungkin aku mau buata online atau pdf file, jadi bentuknya digital. Jika ternyata nantinya dicetak juga, paling dalam jumlah terbatas. Jika kau, kawan, mau mendapatkannya, silakan beritahu aku atau tulis komentarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7172423344518791768?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.puisigit.com' title='Antologi Puisiku'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7172423344518791768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7172423344518791768' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7172423344518791768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7172423344518791768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/03/antologi-puisiku.html' title='Antologi Puisiku'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8335505188272567173</id><published>2010-03-08T13:42:00.005+07:00</published><updated>2010-03-12T15:24:45.592+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Puisi dalam UN: Soal Objektif yang Sangat Subjektif</title><content type='html'>Izinkan saya menginterpretasikan puisi berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Lentera Hati&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Puisi Desi Yunita)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bening kristal&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lentera hati&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kala deras rinai hujan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelabu menutup langit&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Percikan laut&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selaksa peristiwa hilir mudik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di dasar relungku&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketika cakrawala menyentuh langit&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dalam dentingan waktu menghiba&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku bosan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menebar asa binasa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dalam kejam dunia&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diambil dari Soal UN Bahasa Indonesia SMA 2008/2009)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ditutup dengan pernyataan yang merupakan pernyataan akhir si aku dalam puisi “Aku bosan/Menebar asa binasa/Dalam kejam dunia”. Jika diparafrasekan akan berbunyi “Aku (telah) bosan (untuk) (menyebarkan keinginan) untuk (mati) dalam dunia yang kejam.” Jadi, si aku dalam puisi merasa tidak lagi ingin mati karena kejamnya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dia “tidak jadi ingin mati”? Jawabannya ada di bait kedua dan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bait kedua, “Ketika cakrawala menyentuh langit” (ketika dia melihat jauh di tepi pantai, tatapannya ke arah cakrawala)/ “Dalam dentingan waktu menghiba” (ketika dia memikirkan tentang kesedihannya), dia mendengar suara deru ombak yang digambarkan pengarang sebagai “Percikan laut” yang mengingatkan dirinya tentang peristiwa yang terjadi di dalam kehidupannya yang sedang dipikirkannya di dalam lubuk hatinya (“Di dasar relungku”). Apakah itu membuatnya ingin mati? Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bait pertama, “Kala derai rinai hujan/ Kelabu menutup langit” yang jika diartikan dalam lapis makna pertama, “Saat itu sedang hujan dan langit sangat mendung”, si aku menemukan sesuatu yang sangat kontras, yaitu “Bening kristal/ Lentera hati”. Sesuatu yang kontras terlihat di sini, yaitu di tengah derai hujan turun dan langit mendung, dia seperti menemukan “pencerahan”. Jadi, “Bening kristal/ Lentera hati” itu adalah suatu pencerahan yang dialami si aku di dalam puisi yang sedang terpuruk dalam kesedihan. Si aku ini tiba-tiba merasa menemukan sesuatu yang sangat “bening” yang dapat menuntun dia ke arah lain dalam kehidupannya. Sesuatu yang bening itu adalah “Lentera hati”, yaitu sesuatu ilham yang menerangi hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sayang, di UN SMA 2008/2009 lalu ada soal seperti ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 23&lt;br /&gt;Makna lambang kata bening Kristal pada puisi tersebut adalah &lt;br /&gt;A. Kekecewaan&lt;br /&gt;B. Kesedihan&lt;br /&gt;C. Kemarahan&lt;br /&gt;D. Kebosanan&lt;br /&gt;E. Kekejaman&lt;br /&gt;Buat saya, bening kristal adalah sebuah kontras, sebuah penemuan, sebuah pencerahan. Jawaban A s.d. E sama sekali tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. 24&lt;br /&gt;Maksud isi puisi tersebut adalah…&lt;br /&gt;A. Seseorang yang telah merasa bosan hidup di dunia.&lt;br /&gt;B. Seseorang yang dendam karena berbagai persoalan dalam hidup.&lt;br /&gt;C. Seseorang yang berada dalam kesedihan dan keputusasaan.&lt;br /&gt;D. Kekelaman dan selaksa peristiwa yang silih berganti.&lt;br /&gt;E. Suasana bosan menghadapi kelamnya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, jawaban A s.d. E sama sekali tidak mewakili maksud maupun isi. Selain “maksud” maupun “isi” itu perkara berbeda, jawaban di atas sama sekali tidak masuk dalam intrepretasi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Puisi Diobjektifkan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Puisi ingin diukur dengan A, B, C, D, dan E? Sungguh tidak dapat dimengerti dari sisi teori pengkajian puisi manapun. Jadi, terlepas dari pro dan kontra UN diadakan atau tidak, nasib ratusan ribu bahkan jutaan siswa disandarkan pada soal yang menurut saya tidak valid sebagai sebuah soal yang objektif. Semoga di tahun-tahun mendatang, soal Objektif hanya untuk hal-hal yang objektif saja. &lt;em&gt;(Sigit, alumnus Fakultas Sastra UGM) &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8335505188272567173?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8335505188272567173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8335505188272567173' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8335505188272567173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8335505188272567173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/03/puisi-dalam-un-soal-objektif-yang.html' title='Puisi dalam UN: Soal Objektif yang Sangat Subjektif'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3750758336864762437</id><published>2010-02-10T06:53:00.000+07:00</published><updated>2010-02-10T06:53:06.323+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Gang Toleransi</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah gang&lt;br /&gt;di dekat rumahku&lt;br /&gt;kunamai dia gang toleransi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukendarai motorku&lt;br /&gt;motor lain berhenti&lt;br /&gt;izinkanku berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu&lt;br /&gt;menyisih dengan senyum&lt;br /&gt;menungguku melewatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua motor depanku melaju&lt;br /&gt;akupun berhenti&lt;br /&gt;agar ia melewatiku&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;sebuah motor lain di belakangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang senggol&lt;br /&gt;gang toleransi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak-bapak dengan rokoknya&lt;br /&gt;berkata silakan lewat&lt;br /&gt;kala aku permisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dengan mainannya&lt;br /&gt;menyisih sejenak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang senggol&lt;br /&gt;gang toleransi&lt;br /&gt;tak seperti&lt;br /&gt;jalan raya di kota ini&lt;br /&gt;di mana klakson memaki&lt;br /&gt;kala kau tak dapat melewati&lt;br /&gt;jalanan yang macet sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aneh&lt;br /&gt;kutemukan toleransi&lt;br /&gt;di jalan sempit pinggir kali&lt;br /&gt;di mana&lt;br /&gt;tak ada polisi berpatroli&lt;br /&gt;di mana&lt;br /&gt;ia tak dirancang oleh insinyur&lt;br /&gt;lulusan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Feb 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3750758336864762437?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3750758336864762437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3750758336864762437' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3750758336864762437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3750758336864762437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/02/gang-toleransi.html' title='Gang Toleransi'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8602516826665265232</id><published>2010-02-05T09:12:00.000+07:00</published><updated>2010-02-05T09:12:41.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sekolah</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak,&lt;br /&gt;kalau pertanyaannya begini, jawabannya a&lt;br /&gt;kalau pertanyaan begitu, jawabannya b&lt;br /&gt;kalau begini begitu, jawab saja c&lt;br /&gt;itulah rumusnya supaya kamu lulus ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf Pak,&lt;br /&gt;kalau pertanyaannya tidak begini dan tidak begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang saja,&lt;br /&gt;jawabannya d.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf lagi Pak,&lt;br /&gt;kalau pertanyaannya begini dan tidak begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu ini murid cerewet,&lt;br /&gt;ya jawab saja e.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Pak,&lt;br /&gt;kalau jawabannya cuma sampai d, lalu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar kamu cerewet,&lt;br /&gt;tidak mungkin tidak ada jawaban e,&lt;br /&gt;itu sudah diatur&lt;br /&gt;bahwa suatu soal&lt;br /&gt;jawabannya kalau tidak a, b, c, d, ya e.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf Pak, apakah saya boleh bertanya?&lt;br /&gt;Saya punya masalah di rumah,&lt;br /&gt;ibu saya tidak bekerja, ayah penghasilan pas-pasan&lt;br /&gt;anak empat, saya harus bersekolah agar pandai,&lt;br /&gt;permasalahan begini dan begitu ini tidak saya hadapi&lt;br /&gt;dalam hidup sehari-hari,&lt;br /&gt;setelah ujian ini, apakah Bapak masih menjadi guru saya,&lt;br /&gt;agar saya mampu mencari pekerjaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ini guru di sekolah&lt;br /&gt;di sekolah&lt;br /&gt;di rumah urusan lain&lt;br /&gt;yang saya ajarkan ini&lt;br /&gt;di sekolah&lt;br /&gt;di sekolah&lt;br /&gt;bukan di rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rumah urusannya lain&lt;br /&gt;lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apalagi di jalan raya atau di televisi&lt;br /&gt;itu bukan urusan sekolahan&lt;br /&gt;ngerti?&lt;br /&gt;ngerti kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo anak-anak,&lt;br /&gt;kita hafalkan jawabannya&lt;br /&gt;supaya Bapak mendapat pujian dari&lt;br /&gt;kepala sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8602516826665265232?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8602516826665265232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8602516826665265232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8602516826665265232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8602516826665265232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/02/sekolah.html' title='Sekolah'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7767308448052855358</id><published>2010-01-07T13:26:00.000+07:00</published><updated>2010-01-07T13:27:42.951+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kota ini sebuah desa</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini sebuah desa,&lt;br /&gt;plastik di jalanan itulah kulit pisang di ladang&lt;br /&gt;perempatan jalan senggol-senggolan&lt;br /&gt;lampu merah di siang hari apa gunanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan bergambar garis&lt;br /&gt;sama seperti di desa, kerbau sapi bebek melintas saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang kaya di dalam mobil mewah&lt;br /&gt;orang miskin di pinggir jalan&lt;br /&gt;artis berfoya-foya&lt;br /&gt;pemulung terlindas kereta&lt;br /&gt;pejabat bicara&lt;br /&gt;orang-orang bicara&lt;br /&gt;cuma mikrofon mendengarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sikap semua orang sama saja&lt;br /&gt;peraturan itu apa&lt;br /&gt;kota itu apa&lt;br /&gt;selain desa besar dengan bangunan&lt;br /&gt;dan lengkapnya teknologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ini orang desa&lt;br /&gt;kebetulan&lt;br /&gt;tinggal di kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab, &lt;br /&gt;kota inilah desaku sekarang&lt;br /&gt;tempatku bekerja&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;aku akan pulang di hari raya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7767308448052855358?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7767308448052855358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7767308448052855358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7767308448052855358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7767308448052855358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2010/01/kota-ini-sebuah-desa.html' title='Kota ini sebuah desa'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1484163377420173665</id><published>2009-12-14T10:21:00.004+07:00</published><updated>2010-01-01T11:28:30.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Buldozer</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brum&lt;br /&gt;brum&lt;br /&gt;klotak-klotak&lt;br /&gt;crek&lt;br /&gt;drong&lt;br /&gt;drug&lt;br /&gt;brak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A...&lt;br /&gt;mati aja kalian...&lt;br /&gt;sialan...&lt;br /&gt;pergi!&lt;br /&gt;pergi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brum&lt;br /&gt;brum&lt;br /&gt;klotak-klotak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita dengan pisau dapur berteriak terluka,&lt;br /&gt;"Pergi! pergi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang polisi pamong praja mengangkat dua tangannya,&lt;br /&gt;"Sabar-sabar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria tua memaki,&lt;br /&gt;"Ini rumah kami!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang entah siapa&lt;br /&gt;menonjok wajahnya&lt;br /&gt;Pria tua itu terkapar,&lt;br /&gt;di pangkuan cucunya yang bisu tuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih pagi,&lt;br /&gt;buldoser tua merasuk&lt;br /&gt;rumah-rumah lembek&lt;br /&gt;satu kali dua meter persegi&lt;br /&gt;di tepi kali kotor penuh tahi&lt;br /&gt;tahi orang, tahi industri, tahi mal-mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda tak bisa membaca murka,&lt;br /&gt;"Kami menuntut hak kami!"&lt;br /&gt;lalu seseorang dengan kulit bersih memberikan secarik kertas,&lt;br /&gt;"Inilah hakmu"&lt;br /&gt;pemuda itu merobeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buldoser berkata,&lt;br /&gt;"minggir!"&lt;br /&gt;Brum&lt;br /&gt;brum&lt;br /&gt;klotak-klotak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap semua sirna:&lt;br /&gt;boneka, odol, sabun, &lt;br /&gt;mainan robot-robotan yang baru dibeli kemarin&lt;br /&gt;di pasar malam,&lt;br /&gt;hape murahan yang kemarin dibeli&lt;br /&gt;dengan menabung setahun,&lt;br /&gt;celana dalam yang masih baru,&lt;br /&gt;kaos bekas bermerek mahal pemberian seseorang,&lt;br /&gt;dan susu si Uning,&lt;br /&gt;lenyap sudah&lt;br /&gt;apalah artinya,&lt;br /&gt;itu semua,&lt;br /&gt;bagi seekor atau mungkin seonggok buldoser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah sekarang&lt;br /&gt;seorang ibu rumah tangga yang masih meronta-ronta&lt;br /&gt;hendak mengambil susu anaknya, dipegang polisi pamong praja&lt;br /&gt;seorang pemuda yang melongo&lt;br /&gt;menatap celana dalam barunya yang belum sempat dipakainya&lt;br /&gt;seorang kakek yang baru sadar dari pingsannya&lt;br /&gt;seorang cucu bisu tuli yang tak tahu apa yang terjadi&lt;br /&gt;menatap puing-puing rumah mereka&lt;br /&gt;dalam hiasan debu dan sisa kobaran api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesailah tugas buldoser kini,&lt;br /&gt;sambil ia tak tahu,&lt;br /&gt;buldoser lain sedang masuk dalam jiwa orang-orang ini&lt;br /&gt;dalam mimpi-mimpi mereka&lt;br /&gt;ketika mereka &lt;br /&gt;tidur di kolong-kolong kota.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1484163377420173665?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1484163377420173665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1484163377420173665' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1484163377420173665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1484163377420173665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/12/buldozer.html' title='Buldozer'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4196692813877032844</id><published>2009-12-14T10:02:00.004+07:00</published><updated>2009-12-14T10:17:58.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Persekongkolan di Pagi Hari</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini kuseduh teh melati&lt;br /&gt;ditemani pisang goreng dan koran berisi opini politisi&lt;br /&gt;ketiganya kutelan, lalu masuk ke otak kanan dan kiri.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja aku curiga akan persekongkolan mereka:&lt;br /&gt;secangkir teh melati, sebuah pisang goreng, sebuah koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin,&lt;br /&gt;teh melati berkata, bahwa hidup ini perlu dinikmati, tak perlu risau&lt;br /&gt;hidup mati.&lt;br /&gt;tidak ada pisang goreng yang menggoda yang menemani hasrat pagi.&lt;br /&gt;dan koran berkata kepadaku, negeri tanpa korupsi atau dengki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini,&lt;br /&gt;teh melati berkata, hidup masih bisa dinikmati,&lt;br /&gt;pisang goreng nikmat dalam minyak kolesterolnya, sambil berbisik berkata&lt;br /&gt;"Aku mengingini milikmu yang berharga"&lt;br /&gt;di saat koran berkata, "Politisi ingin mengebirimu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ngeri sendiri&lt;br /&gt;Soalnya, antara "milikku yang berharga" dan kata "kebiri"&lt;br /&gt;adalah mengenai satu soal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku curiga,&lt;br /&gt;Teh melati pasti berbohong bahwa hidup bisa dinikmati,&lt;br /&gt;sebab ia berperan sebagai penggoda nafsu&lt;br /&gt;dan pisang goreng yang menggiurkan, hendak membawaku ke tempat yang nikmat&lt;br /&gt;penuh dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan koran,&lt;br /&gt;Ya, koran adalah biang keladi dari semua persekongkolah ini.&lt;br /&gt;Kemarin dia berkata dunia ini berseri dengan semua pejabatnya berseri-seri,&lt;br /&gt;"Suara hati kami bawa, meski taruhannya mati"&lt;br /&gt;tapi, hari ini dia menampilkan&lt;br /&gt;iri&lt;br /&gt;benci&lt;br /&gt;dengki&lt;br /&gt;korupsi&lt;br /&gt;mati&lt;br /&gt;dan ngeri&lt;br /&gt;pejabat yang dulu berseri-seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti mereka akan segera mengebiri&lt;br /&gt;milikku yang paling berharga:&lt;br /&gt;nurani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4196692813877032844?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4196692813877032844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4196692813877032844' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4196692813877032844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4196692813877032844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/12/persekongkolan-di-pagi-hari.html' title='Persekongkolan di Pagi Hari'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2019360721624192946</id><published>2009-12-11T07:24:00.002+07:00</published><updated>2009-12-11T07:39:11.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Nyanyian Pohon</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita di koran tebang-tebang hutan&lt;br /&gt;tiga ratus kali luasnya lapangan bola&lt;br /&gt;Berita di koran batang-batang terapung&lt;br /&gt;penadah berpesta pora&lt;br /&gt;menjadi uang mengalir ke ujung dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suaraku sumbang terdengar&lt;br /&gt;sebab burung tak lagi ikut mengiringi&lt;br /&gt;lagu riangku bersama dahan-dahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monster bernyanyi riang&lt;br /&gt;monster bernyanyi riang&lt;br /&gt;Meraung pagi hingga petang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hentikan hentikan,"&lt;br /&gt;teriak manusia murka di jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teruskan teruskan,"&lt;br /&gt;kata segelintir manusia dari dalam&lt;br /&gt;mobil mewahnya, memegang telepon genggam&lt;br /&gt;memberi instruksi kepada monster-monsternya&lt;br /&gt;"Bencana alam peduli setan.&lt;br /&gt;Dunia hancur bodoh amat&lt;br /&gt;lakukan atau kau yang tamat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nyanyianku &lt;br /&gt;nyanyian terakhirku&lt;br /&gt;tanpa burung mengiringi&lt;br /&gt;tanpa dahan menemani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indah, indah dunia&lt;br /&gt;ingat, ingatlah aku&lt;br /&gt;dalam memori hutanmu&lt;br /&gt;sebab aku cintaimu&lt;br /&gt;terimalah aku dalam rumahmu&lt;br /&gt;Sampai jumpa kawan, di ruangan indahmu&lt;br /&gt;Pajanglah aku sebab kematianku indah bagimu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2019360721624192946?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2019360721624192946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2019360721624192946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2019360721624192946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2019360721624192946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/12/nyanyian-pohon.html' title='Nyanyian Pohon'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1429526226929519371</id><published>2009-12-09T11:20:00.004+07:00</published><updated>2009-12-09T11:39:15.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Gombal Warning</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah spanduk jangan membuang sampah sembarangan&lt;br /&gt;kutemukan sampah berserakan&lt;br /&gt;Di dalam bis kota pengap dan sesak&lt;br /&gt;radio di telingaku berbisik tentang celoteh&lt;br /&gt;pentingnya mengurangi mobil di jalanan&lt;br /&gt;Mataku tersayat oleh berserak mobil&lt;br /&gt;mewah dengan AC dan teaternya&lt;br /&gt;berisi tuannya dan sopirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menertawai mimpi monorail&lt;br /&gt;karena jadi mural jalanan&lt;br /&gt;Ada yang menertawai busway&lt;br /&gt;karena jadi busyway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matikan lampu, matikan lampu&lt;br /&gt;kata orang berteriak&lt;br /&gt;dari sebuah rumah mewah terang benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang muda tak punya nama&lt;br /&gt;menulis protes di atas kertas&lt;br /&gt;lalu orang punya nama berkata di media masa&lt;br /&gt;bahwa pekerjan kita bukan hanya satu saja&lt;br /&gt;global warming itu satu soal saja&lt;br /&gt;masih ada masalah lain&lt;br /&gt;misalnya sampah di jalan raya&lt;br /&gt;mobil di jalan raya&lt;br /&gt;lampu di rumah raya&lt;br /&gt;dan orang tanpa nama&lt;br /&gt;yang berdemo di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, semua toh cuma puisi&lt;br /&gt;yang ditulis demi menentramkan isi hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1429526226929519371?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1429526226929519371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1429526226929519371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1429526226929519371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1429526226929519371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/12/gombal-warning.html' title='Gombal Warning'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1547471412728631611</id><published>2009-12-01T15:28:00.001+07:00</published><updated>2009-12-01T15:36:45.382+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Renungan Ujung Jakarta</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini orang, di sana orang&lt;br /&gt;kulihat dari lantai lima gedung ini, genting-genting menaungi orang&lt;br /&gt;batas-batasnya adalah orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalanan orang, di dalam mobil orang&lt;br /&gt;kulihat dari lantai tujuh gedung ini, orang berserobotan naik bus kota&lt;br /&gt;yang di dalam mobil berserobotan mau jalan duluan&lt;br /&gt;orang lain masa bodohlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat duduk orang, di atas ojek orang, yang jajan di pinggir jalan orang&lt;br /&gt;kulihat dari atas bajaj ini, orang menjajakan semuanya di jalan raya&lt;br /&gt;ada yang menawarkan rokok, teh, kopi, coca-cola,&lt;br /&gt;ada pula buku, majalah, suara fals, bahkan dirinya,&lt;br /&gt;semuanya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang penuh orang.&lt;br /&gt;Ada orang memaki orang, ada yang cari duit dari orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menghitung orang&lt;br /&gt;tujuh juta&lt;br /&gt;ada yang empat belas juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula ramai membahas apa kata orang&lt;br /&gt;di koran&lt;br /&gt;di majalah&lt;br /&gt;di internet&lt;br /&gt;di gosip&lt;br /&gt;di tutur palsu&lt;br /&gt;orang membahas orang&lt;br /&gt;orang dibahas orang&lt;br /&gt;seakan dirinya bukan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku berhenti di taman Ismail Marzuki,&lt;br /&gt;menonton sebuah pertunjukan yang pemainnya mengaku bukan orang,&lt;br /&gt;lalu aku bertanya kepada diriku sendiri,&lt;br /&gt;di manakah manusianya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1547471412728631611?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1547471412728631611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1547471412728631611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1547471412728631611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1547471412728631611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/12/jakarta.html' title='Renungan Ujung Jakarta'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7946651318474317106</id><published>2009-09-23T15:59:00.003+07:00</published><updated>2009-09-23T16:15:35.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan'/><title type='text'>"Wisata" Terorisme?</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Berkunjung ke lokasi tertembaknya Noordin M Top oleh Datasemen 88 antiteror merupakan pengalaman langka dan menarik. Yang menarik bagi saya bukanlah rumah tempat terjadinya teror karena rumah itu telah hangus terbakar dan ditutupi seng, melainkan untuk melihat mereka yang berkunjung ke sana. Tempat kejadian itu telah menjadi “lokasi wisata” yang mengundang penasaran banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beberapa ratus meter dari lokasi kejadian saya melihat triplek besar ditulis ala kadarnya berbunyi, “lokasi teroris Noordin” beserta petunjuk arah. Sesampainya di lokasi, “usaha dadakan” parkir mobil dan motor segera terlihat. Bukan hanya usaha parkir, masyarakat segera saja membuka berbagai “outlet” jajanan anak-anak, minuman, dan snack. Kebetulan hari itu adalah hari Lebaran, sehingga hari kedua lebaran ini banyak orang datang karena penasaran atau mumpung ada di Solo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Segera saja telinga saya mendengar apa yang dibicarakan orang-orang. Seorang ibu yang bertanya kepada seseorang di sana, “Kok bisa ndak tahu kalau itu Noordin?”, ada pula seorang ibu yang bercerita, “Dia itu pernah tambal ban, saya bilang ‘kok mirip Noordin’ dan orang itu melotot, saya takut,” ujar seorang ibu ketika bercerita pada seseorang yang datang kesana dan ternyata yang melotot itu memang Noordin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cerita mulai berkembang, saya dengar cerita dari saudara saya ketika kami perjalanan pulang, konon anggota Densus 88 menyamar sebagai penjual Mie Ayam, lalu ada yang berujar, “Pantesan mie ayamnya rasanya tidak enak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selain menjadi objek “wisata” dadakan, tempat itu juga menjadi lokasi “bisnis dadakan”. Mertua saya mengatakan bahwa usaha parkir di sana dalam satu hari bisa dapat dua juta rupiah. Yang saya alami, plat mobil luar kota diminta membayar uang parkir lima ribu rupiah, sedangkan kami yang berplat mobil Solo, tentu tidak mau membayar sebanyak itu, kami cuma mau bayar tiga ribu rupiah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah mengambil beberapa foto dan mendengarkan cerita orang-orang, sambil mengamati para Polisi yang berkumpul menjaga TKP, saya meninggalkan lokasi dengan tak bisa menahan senyum karena melihat beberapa “guide” dan orang yang menunjukkan arah, “Mari, sini, sini, lokasi Noordin. Silakan yang membawa kamera berfoto bersama Noordin, mumpung masih menunggu,” tentu saja bukan hanya saya yang tersenyum mendengar lelucon itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7946651318474317106?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7946651318474317106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7946651318474317106' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7946651318474317106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7946651318474317106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/09/wisata-terorisme_23.html' title='&quot;Wisata&quot; Terorisme?'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8876136189479468228</id><published>2009-08-07T11:41:00.001+07:00</published><updated>2009-08-07T11:44:03.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Teror</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dar-der-dor teror&lt;br /&gt;Mati kamu ditembak peneror&lt;br /&gt;Hilang kamu karena teror&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bum-bum-jleger&lt;br /&gt;Ada bom teroris di hotel&lt;br /&gt;Ada pula di tempat-tempat encer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini teror di sana teror&lt;br /&gt;Di mana-mana teror&lt;br /&gt;Jadi biasa, biar dibom tetap aja molor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku takut pada teror&lt;br /&gt;Menang juga peneror&lt;br /&gt;Kalau aku tak peduli padanya&lt;br /&gt;Percumalah saja usahanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhut-dhut-dhut&lt;br /&gt;Wah yang ini bom kentut&lt;br /&gt;Menghabisi hidungku&lt;br /&gt;Hilang pula lahap makanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruuum-ruuum-rumm&lt;br /&gt;Yang ini bukan bom&lt;br /&gt;Tapi suara motor&lt;br /&gt;Bikin copot jantungku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing-sialan-setan&lt;br /&gt;Yang ini adalah bom&lt;br /&gt;Dari mulut sopir sialan&lt;br /&gt;Yang memecah gendang telingaku&lt;br /&gt;Dan telah membunuh nuraniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8876136189479468228?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8876136189479468228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8876136189479468228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8876136189479468228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8876136189479468228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/08/teror.html' title='Teror'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1341247753406887790</id><published>2009-07-19T15:06:00.008+07:00</published><updated>2009-08-07T12:59:48.516+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Solo Batik Carnival'/><title type='text'>Solo Batik Carnival</title><content type='html'>T&lt;strong&gt;hat&lt;/strong&gt; was the first time for me mingling with the crowd since 1998. My heart trembled &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SnvAh6BrC9I/AAAAAAAAACI/BBmeq99UkqY/s1600-h/P6280511.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367095069686565842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SnvAh6BrC9I/AAAAAAAAACI/BBmeq99UkqY/s200/P6280511.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;whenever I saw a crowd. It is still fresh in my memory: in 1998, a lot of people gathered on the street, burned cars, motorcycles and tires. But in Solo Batik Carnival this time, I felt very different. People gathered together on the street to celebrate! For me, it seems to be a celebration of healing from a lot of bad memories. I am sure a lot of people feel the same way. &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.25in"&gt;People had been gathering together since 1PM at Slamet Riyadi Street, the main street in Solo City (Also known as Surakarta); children, youth, even senior citizens who needed assistance from their children or grand children, while the parade itself would be held at 4PM. It was very hot; around 38 to 40 degrees (Celsius). &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SnvBiB7o9JI/AAAAAAAAACY/gcKsTsdQMxc/s1600-h/P6280518.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367096171320374418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SnvBiB7o9JI/AAAAAAAAACY/gcKsTsdQMxc/s200/P6280518.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.25in"&gt;Journalists, amateur photographers and real photographers were looking for good places to take pictures. Children were playing around and parents were busy taking pictures of their kids.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.25in"&gt;A lot of people used that event as an opportunity to do business. The parking lot for cars and motorcycles was suddenly "managed" by local people. Some people needed places to park and some people needed more money. Anyone can sell anything. Mineral water, ice tea, toys even balloons.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.25in"&gt;Then the carnival begun and I was lucky to be in front to see the parade. That was so close for taking pictures. Unfortunately, I only used my pocket camera, so the result was not really good. However, at least I could capture some of them.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.25in"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367096734012543682" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SnvCCyH6EsI/AAAAAAAAACg/XrTXXwjKPks/s320/P6280520.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1341247753406887790?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1341247753406887790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1341247753406887790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1341247753406887790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1341247753406887790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/07/solo-batik-carnival.html' title='Solo Batik Carnival'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SnvAh6BrC9I/AAAAAAAAACI/BBmeq99UkqY/s72-c/P6280511.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-264963372554971580</id><published>2009-06-05T10:46:00.006+07:00</published><updated>2009-06-05T12:32:08.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai Budaya'/><title type='text'>Pemuda Flâneur</title><content type='html'>&lt;p&gt;Manusia sepanjang masa membutuhkan suatu simbol yang dipuja dan disembah, demikian menurut Baudrillard dalam &lt;em&gt;Consumer Society&lt;/em&gt; (1998). Jika masyarakat primitif menyembah pohon, maka kini masyarakat mengkultuskan kemasan benda-benda, citra, televisi, dan konsep kemajuan dan pertumbuhan (&lt;em&gt;Referensi: Tumenggung dalam Sutrisno, 2005&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak heran, dalam politik, siapa yang mampu mengemas citra diri seorang pemimpin, dia akan berhasil. Dalam bisnis, pencitraan produk adalah segala-galanya, sehingga orang membeli sesuatu karena brand image-nya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyembahan baru itu adalah karena masyarakat sekarang “melayang-layang”, demikian Walter Benjamin. Ia mengembangkan konsep &lt;em&gt;flâneur&lt;/em&gt; yang dilontarkan penyair Prancis, Baudelair, yaitu bahwa manusia itu mengembara dan tidak memiliki jati dirinya secara total. Ia selalu diikat oleh kondisi yang melayang-layang dalam ruang kerumunan industrialisasi, dari satu tempat ke tempat lainnya (Sutrisno, 2005). Seperti halnya kita ini berjalan-jalan di mall nan megah, terkepung dalam ajakan berbelanja dan menikmati kehidupan konsumtif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah dunia seperti inilah anak-anak muda dilahirkan dan hidup. Sejak kecil mereka diserbu dengan pencitraan barang tanpa ada penjelasan cukup tentang bagaimana memanfaatkannya, televisi tak pernah mati menawarkan berbagai visualisasi realita dan hiper-realita, dan musik yang tak pernah berhenti berdengung di telinga. Sangat sempit waktu untuk berhenti untuk merenungkan dan merasakan kehidupan. Tak heran, semua yang instan, serba cepat, dan praktis, sangat laku dan populer. Ingatan menjadi pendek dan keinginan untuk berproses semakin ciut. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ditambah lagi, para orang tua ingin cepat-cepat melihat anaknya dewasa dan tak sabar terhadap proses pendidikan, sehingga banyak jalan pintas ditempuh. Guru les laku keras, drill soal dianggap mencerdaskan, dan banyak hal lain yang jika dilihat, sesungguhnya demi cepatnya seseorang mencapai sesuatu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Baik disadari maupun tidak, institusi pendidikan kemudian mengkultuskan prestasi dan prestise. Kemajuan siswa dan pertumbuhan kognitif dipuja-puja. Barang siapa mendidik dengan proses yang lamban dan tradisional akan dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Pendidikan dengan proses ketat, bersusah payah, berdisiplin tinggi, apalagi lama, menjadi barang tak laku jual. Hanya mereka yang percaya diri dengan kualitas dan komitmen dan sudah terlanjur terkenal saja yang tetap laku jika menerapkan prinsip itu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih parah lagi jika tenaga pendidik tidak menyadari hal ini. Bayangkan saja, seorang anak &lt;em&gt;digital native&lt;/em&gt; yang lahir di tengah serbuan visual, konsumsi, dan hiper-realita, ketika masuk ke kelas berjumpa dengan guru yang “ketinggalan zaman” dan “ketinggalan informasi” apalagi gagap teknologi, maka akan timbul permasalahan. Entah siswa menjadi pemberontak aktif yang membuat ulah, atau siswa menjadi pemberontak pasif yang diam menunggu selesainya jam sekolah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya berharap, para orangtua dan pendidik menyadari bahwa para pemuda, anak-anak kita, telah masuk dan terperangkap lebih dalam dibandingkan dengan diri kita. Mereka telah terseret arus itu sejak dari lahirnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Baudrillard, Jean. 1998. &lt;em&gt;The Consumer Society. &lt;/em&gt;London: Sage Publication&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto (ed.) 2005. &lt;em&gt;Teori-Teori Kebudayaan (Terutama dalam "Kebudayaan [para] Konsumen" oleh Adeline May Tumenggung). &lt;/em&gt;Yogyakarta: Kanisius.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-264963372554971580?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/264963372554971580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=264963372554971580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/264963372554971580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/264963372554971580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/06/pemuda-flaneur.html' title='Pemuda Flâneur'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2659471571146416559</id><published>2009-05-01T06:51:00.000+07:00</published><updated>2009-12-14T10:44:28.616+07:00</updated><title type='text'>Simbolisme dan Metafora</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;(Catatan untuk para siswa)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Simbolisme atau perlambangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merah menyimbolkan keberanian, putih menyimbolkan kesucian, Burung Garuda adalah  simbol Negara Indonesia. Di dalam sastra, simbol adalah sebuah kesepakatan, simbol mewakili gagasan tertentu yang disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Simbolisme dalam “Sajak Seonggok Jagung”.  Jagung dapat dianggap menyimbolkan sesuatu. Di komunitas orang desa, jagung bisa merupakan simbol kekayaan, tapi di komunitas kota, bisa jadi jagung menjadi simbol kemiskinan. Misalnya, “Ah, sudah miskin ya kok kamu makan nasi jagung?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbolisme dalam sastra, seperti dalam cerpen “Wajah”, wajah dapat jadi merupakan simbol dari martabat orang. Di Indonesia, wajah “indo” dianggap “cakep” dan dianggap cocok menjadi bintang film sinetron. Tapi, belum tentu wajah juga menyimbolkan hal yang sama untuk kebudayaan lainnya. Misalnya, ada kebudayaan yang lebih melihat kalung di leher atau tato sebagai simbol yang lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Metafora&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Metafora adalah sebuah kiasan atau analogi untuk membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat (Keraf, 2007: 139).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora dalam karya sastra mengandaikan apa yang terjadi di dalam karya sastra berkaitan erat dengan apa yang terjadi di masyarakat, sebuah analogi atau peristiwa yang erat kaitannya antara satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dalam “Wajah” bahwa orang mengganti wajahnya demi sebuah eksistensi di masyarakatnya, dapat dianggap merupakan sebuah metafora dari kejadian di masyarakat yang selalu mengganti penampilannya dengan tren baru demi sebuah eksistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keraf, Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa cetakan ke-17. Gramedia: Jakarta.&lt;br /&gt;Noor, Agus.2000. “Wajah” dalam Angkatan 2000. Gramedia: Jakarta.&lt;br /&gt;Rendra.1980. “Sajak Seonggok Jagung” dalam Potret Pembangunan dalam Puisi.Pustaka Jaya: Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2659471571146416559?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2659471571146416559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2659471571146416559' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2659471571146416559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2659471571146416559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/05/simbolisme-dan-metafora.html' title='Simbolisme dan Metafora'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3701465114018650483</id><published>2009-04-17T14:04:00.000+07:00</published><updated>2009-04-17T14:06:44.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Karakter dengan Baris-Berbaris</title><content type='html'>Oleh Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap siswa yang terpilih masuk Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) bangga ketika tampil berbaris dengan gagah mengibarkan Bendera Merah Putih ketika tujuh belasan. Namun, kalau sekedar baris berbaris di lapangan, banyak yang mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca reformasi, baris-berbaris ditengarai sebagai kegiatan militeristik. Tak urung, mereka yang “anti” militerisme menolak kegiatan baris-berbaris a la militer ini. Saya pernah berpikir hal yang sama, bahwa baris berbaris tak lain adalah aktualisasi militerisme. Namun, setelah direnungkan kembali, ternyata saya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menjadi anggota Paskibra ketika SMA dan mengalami pahit asamnya latihan berbaris. Setelah dipikirkan secara mendalam, saya simpulkan bahwa baris-berbaris bukanlah sebuah bentuk militerisme. Memang militer paling banyak memakai aktivitas itu, tetapi bukan berarti jika kita ikut baris-berbaris, maka identik dengan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjadi guru dan belajar mengenai beberapa teori pendidikan, rupanya saya memahami diri saya pernah dibentuk oleh kegiatan tersebut. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, baris-berbaris melatih saya berkonsentrasi. Ini adalah sebuah latihan kombinasi mendengarkan instruksi dan motorik yang bagus. Ketika komandan memerintahkan “hadap kiri” misalnya, setelah teriakan “gerak” kami harus menghitung satu, dua, tiga ke arah kiri. Tentu saja ada saja yang salah bergerak ke kanan dan kami tertawa. Di awal latihan hal itu wajar, tetapi setelah terbiasa, kita akan lebih waspada dan responsif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, saya belajar tentang solidaritas tim. Jika ada satu anggota yang salah, maka biasanya pelatih menghukum kami semua. Kami harus mengulang-ulang gerakan hingga tak seorang pun salah. Setiap orang bisa mengalami kesalahan yang sama, jadi tidak ada alasan untuk menyalahkan yang salah. Kami harus kompak dan saya sadar setiap gerakan saya salah, saya mebuat tim dalam masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, saya belajar untuk mendengarkan dan patuh. Kebiasaan ini penting untuk saya di situasi darurat di manapun di seluruh dunia. Saya kira, yang terbiasa mendengarkan dan patuh pada perintah adalah mereka yang berpeluang untuk selamat. Di suasana rusuh, kacau, atau darurat biasanya pihak otoritas akan memberikan instruksi. Saya merasa telah terbiasa dengan hal itu. Jadi, ketika di bandara, misalnya, informasi sedikit saja membuat saya ingin mendengarkannya dan sepertinya lebih aware.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, saya belajar untuk diam dan mengatur emosi. Ada teman yang salah gerakan, salah arah, tetapi saya harus tetap diam dan menatap ke depan. Alih-allih menertawakan yang salah, saya harus terus berkonsentrasi dan dengan waspada menunggu instruksi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelima&lt;/em&gt;, karena terbiasa dalam sikap disiplin dan fokus pada instruksi, tubuh saya jadi lebih betah duduk di kelas dan mendengarkan instruksi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah setidak-tidaknya lima manfaat baris-berbaris yang mungkin dikira cuma sekedar kegiatan militer, tetapi sesungguhnya membawa manfaat yang besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3701465114018650483?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3701465114018650483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3701465114018650483' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3701465114018650483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3701465114018650483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/04/pendidikan-karakter-dengan-baris.html' title='Pendidikan Karakter dengan Baris-Berbaris'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-998353051983241488</id><published>2009-03-20T06:47:00.000+07:00</published><updated>2009-03-20T06:48:23.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pidato Caleg</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,&lt;br /&gt;Aiueo maiueo sauieo&lt;br /&gt;Naninuneno nono&lt;br /&gt;Nah, nana nini nunu&lt;br /&gt;Jadi, pilihlah saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, maksud Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi begini saudara-saudara,&lt;br /&gt;Aiueo maiueo sauieo&lt;br /&gt;Naninuneno nono&lt;br /&gt;Nah, nana nini nunu&lt;br /&gt;Jadi, pilihlah saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, gunakan bahasa kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Anda tidak paham?&lt;br /&gt;Baiklah saya ulangi sekali lagi,&lt;br /&gt;Aiueo maiueo sauieo&lt;br /&gt;Naninuneno nono&lt;br /&gt;Nah, nana nini nunu&lt;br /&gt;Jadi, pilihlah saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, kami butuh penerjemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Anda mulai payah&lt;br /&gt;Maksud saya itu begini,&lt;br /&gt;Saya ulangi sekali lagi&lt;br /&gt;Masa tidak tahu&lt;br /&gt;Jadi begini&lt;br /&gt;Aiueo maiueo sauieo&lt;br /&gt;Naninuneno nono&lt;br /&gt;Nah, nana nini nunu&lt;br /&gt;Jadi, pilihlah saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu maaf, kami masih tak mengerti&lt;br /&gt;Tentang apa yang Anda katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Maret 2009&lt;br /&gt;Menjelang Pemilu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-998353051983241488?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/998353051983241488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=998353051983241488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/998353051983241488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/998353051983241488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/03/pidato-caleg.html' title='Pidato Caleg'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5114647961027412915</id><published>2009-03-08T20:11:00.000+07:00</published><updated>2009-03-08T20:12:35.369+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Arti Perasaan</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu hadir dalam hidupku&lt;br /&gt;Aku tahu kau adalah temanku&lt;br /&gt;Tapi mengapa wajahmu&lt;br /&gt;Membayang dalam lirik dan nada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku berjuang untuk&lt;br /&gt;Merumuskan arti perasaanku&lt;br /&gt;Tapi mengapakah aku&lt;br /&gt;Habis cara menemukan kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukupkah katakan aku cinta&lt;br /&gt;Ataukah kurangkai saja dengan bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku telah mencinta&lt;br /&gt;Dirimu lebih dari sekedar rasa&lt;br /&gt;Arti perasaan ini adalah dirimu&lt;br /&gt;Yang terdalam&lt;br /&gt;Melebihi semua cinta dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku berjuang untuk&lt;br /&gt;Mengatakan arti perasaanku&lt;br /&gt;Tapi mampukah mulutku&lt;br /&gt;Berkata tentang yang sesungguhnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5114647961027412915?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5114647961027412915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5114647961027412915' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5114647961027412915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5114647961027412915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/03/arti-perasaan.html' title='Arti Perasaan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4974411169268429991</id><published>2009-03-02T14:03:00.001+07:00</published><updated>2009-03-02T14:03:58.385+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>SMS Selingkuh</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada SMS bunyinya selingkuh&lt;br /&gt;Aku tak tahu dari mana asalnya&lt;br /&gt;Tapi berkata-kata mesra&lt;br /&gt;Istriku tanpa sengaja menemukannya&lt;br /&gt;Dalam inbox kata-kata&lt;br /&gt;Wah kau sudah keterlaluan makinya&lt;br /&gt;Beraninya mengirimkan pesan sayang-sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun bingung dibuatnya&lt;br /&gt;Sebab bukan aku yang mengirimkannya&lt;br /&gt;Aku cuma menerimanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi percuma saja, api cemburu telanjur membara&lt;br /&gt;Ku katakan saja aku tak tahu dari pria atau wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa pun kata-kata&lt;br /&gt;Amarah tetap bertakhta&lt;br /&gt;Justru kalau dari pria kau kubunuh saja, katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibantingnya telepon genggamku&lt;br /&gt;Dikutuknya pesan sayang-sayangan&lt;br /&gt;Aku pun cuek saja sebab aku tak tahu dari siapa&lt;br /&gt;Akhirnya, mati sudah telepon itu&lt;br /&gt;Aku membeli yang baru&lt;br /&gt;Dari uang gaji tanggal satu&lt;br /&gt;Kunyalakan diam-diam dan kuterima&lt;br /&gt;Satu SMS dari nomer yang sebelumnya&lt;br /&gt;“Maaf, salah kirim SMS” bunyinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4974411169268429991?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4974411169268429991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4974411169268429991' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4974411169268429991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4974411169268429991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/03/sms-selingkuh.html' title='SMS Selingkuh'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6580710356302206474</id><published>2009-03-02T14:01:00.000+07:00</published><updated>2009-03-02T14:03:06.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Penantian Cinta</title><content type='html'>&lt;p&gt;Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku menunggumu di pintu perasaan&lt;br /&gt;Melihatmu dari kejauhan mataku&lt;br /&gt;Di hatiku aku berbicara mengenai tingkahmu&lt;br /&gt;Yang semuanya itu membangkitkan&lt;br /&gt;Dekatnya dirimu dalam hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap pandang dirimu jauh di sana&lt;br /&gt;Mengharapkan tatapan hati tertuju padaku&lt;br /&gt;Ketika engkau berbicara dengannya&lt;br /&gt;Di bawah sebuah pohon bernama persahabatan&lt;br /&gt;Jauhnya diriku dari jarak perasaanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika angin menerpaku kutitipkan saja&lt;br /&gt;Perasaan hatiku kepadamu tentang pahitnya&lt;br /&gt;Perasaan terpendam yang kututupkan saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hari ini aku melihat&lt;br /&gt;Terpaan angin yang pernah melewatiku itu&lt;br /&gt;Kembali kepadaku dengan kedahsyatan&lt;br /&gt;Sehingga pohon bernama persahabatan tumbang&lt;br /&gt;Dan engkau berlari daripadanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlarilah kepadaku hingga kau di hadapanku&lt;br /&gt;Sebab&lt;br /&gt;Dalam tatap mata kutitipkan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menanti dipinggiran hatiku kini&lt;br /&gt;Semoga di akhir hari nanti&lt;br /&gt;Kau sadar bahwa hati kita memang ditetapkan&lt;br /&gt;Untuk saling mencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6580710356302206474?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6580710356302206474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6580710356302206474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6580710356302206474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6580710356302206474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/03/penantian-cinta.html' title='Penantian Cinta'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1314046881424138491</id><published>2009-03-02T13:59:00.001+07:00</published><updated>2009-03-02T14:01:52.034+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Negeri Terang</title><content type='html'>&lt;p&gt;Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pernahkah pergi ke negeri terang&lt;br /&gt;Di mana gelap tak ada&lt;br /&gt;Sebab manusia saling cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin capai tujuan ke sana&lt;br /&gt;Tapi bagaimana cara&lt;br /&gt;Sebab tak tahu jalan ke sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guruku kutahu&lt;br /&gt;Ajarkanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri terang adalah hatimu&lt;br /&gt;Ilmu adalah pintu masuknya&lt;br /&gt;Negeri terang adalah nalarmu&lt;br /&gt;Hati bersihlah jendelanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dilagukan oleh Paul Heru pada 26 Februari 2009. Dinyanyikan oleh Edward.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1314046881424138491?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1314046881424138491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1314046881424138491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1314046881424138491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1314046881424138491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/03/negeri-terang.html' title='Negeri Terang'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3506366990884197792</id><published>2009-02-25T06:28:00.000+07:00</published><updated>2009-02-25T06:29:49.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Resep Mi Cinta</title><content type='html'>&lt;p&gt;Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nyalakanlah api asmaramu&lt;br /&gt;Letakkanlah panci hidupmu tepat di atasnya&lt;br /&gt;Biarlah air cintamu merasakan panasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggulah hingga cintamu itu mendidih&lt;br /&gt;Siap untuk menerima mi cintanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, barulah masukkan bumbu-bumbu&lt;br /&gt;Pedasnya kata-kata dan asinnya perasaan hati&lt;br /&gt;Akan melezatkan mi cintamu&lt;br /&gt;Tanpa itu, mi cintamu hanya hambar saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah matang barulah kau siap memakannya&lt;br /&gt;Tapi jangan buru-buru&lt;br /&gt;Kau harus menghidangkannya dengan hiasan&lt;br /&gt;Letakkan daun selederi harapan dan telor doa&lt;br /&gt;Di atas mangkuk kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanglah mi cintamu dan syukurilah&lt;br /&gt;Setelah tidak panas lagi, barulah kau boleh menikmatinya&lt;br /&gt;Sebab jika masih panas, dia akan melukaimu setelah kau telan&lt;br /&gt;Tapi jika terlalu dingin, segala rasanya akan sirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedas manis asinnya mi cintamu&lt;br /&gt;Akan menghangatkan tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep mi cinta ini hanya untuk mereka yang tahu&lt;br /&gt;Menghargai pentingnya masakan kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Februari 2009&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3506366990884197792?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3506366990884197792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3506366990884197792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3506366990884197792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3506366990884197792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/resep-mi-cinta.html' title='Resep Mi Cinta'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5004836681232349395</id><published>2009-02-21T09:58:00.001+07:00</published><updated>2009-02-23T19:39:49.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pertanyaan Cinta</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah ombak yang menyeretku masuk ke dalam samuderanya&lt;br /&gt;Siapakah gerangan mampu mengatasi ganasnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena tiada nalar dalam cinta&lt;br /&gt;Maka lihatlah hatiku dengan naluri rasa&lt;br /&gt;Sehingga kau kagumi karang-karang kuat di dalamnya&lt;br /&gt;Dan indahnya bunga-bunga di dasar lautnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah jalan, tapi ke manakah tujuannya?&lt;br /&gt;Apakah bahagianya hati kita&lt;br /&gt;Ataukah indahnya derita&lt;br /&gt;Yang kita alami bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena jika kita di dalam cinta&lt;br /&gt;Terjal berlikunya jalan&lt;br /&gt;Akan mempererat genggaman tangan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah cinta&lt;br /&gt;Jika aku hanya mencoba mendefinisikannya?&lt;br /&gt;Makanya saat ini aku mencoba&lt;br /&gt;Menyelam ke dasarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski cinta tidak hanya sebatas kata&lt;br /&gt;Izinkan aku menyatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5004836681232349395?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5004836681232349395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5004836681232349395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5004836681232349395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5004836681232349395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/pertanyaan-cinta.html' title='Pertanyaan Cinta'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2397552687025289150</id><published>2009-02-21T09:56:00.000+07:00</published><updated>2009-02-21T09:58:11.077+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Australia</title><content type='html'>&lt;p&gt;Puisi Sigit Setyawan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Satu negeri&lt;br /&gt;Satu benua&lt;br /&gt;Satu bahasanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu luasnya daratan&lt;br /&gt;Hampir sama dengan luasnya&lt;br /&gt;Tujuh belas ribu pulaunya negeriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pula jauh ke sana&lt;br /&gt;Melewati samudera dan gurun luas&lt;br /&gt;Tapi kita mengatakan sebagai tetangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Barat di sebelah Timur&lt;br /&gt;Negeri Selatan di sebelah Tenggara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyebutnya negeri di ujung dunia&lt;br /&gt;Di mana kanguru menyembunyikan&lt;br /&gt;Mungil bayi di dalam sakunya&lt;br /&gt;Dan koala bersembunyi di dalam tidurnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukira&lt;br /&gt;Satu warna&lt;br /&gt;Satu budaya&lt;br /&gt;Rupanya menyimpan ragam pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang dari berbagai bangsa di sana&lt;br /&gt;Memainkan peran sama sebagai manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Indonesia di negeri Australia&lt;br /&gt;Membawa buku duduk di universitasnya&lt;br /&gt;Menyimak ilmu belajar tepat waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan-kapan cobalah ke Australia&lt;br /&gt;Negeri tetangga tapi jauh tempatnya&lt;br /&gt;Sama seperti rumah kita di desa&lt;br /&gt;Yang harus berjalan sekilo jauhnya&lt;br /&gt;Hanya untuk meminta sedikit gula&lt;br /&gt;Atau sekedar minum teh bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2009&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2397552687025289150?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2397552687025289150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2397552687025289150' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2397552687025289150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2397552687025289150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/australia.html' title='Australia'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8013453968755545316</id><published>2009-02-21T09:54:00.000+07:00</published><updated>2009-02-21T09:55:51.374+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Singapura</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada negara satu kota saja&lt;br /&gt;Kau bisa hafalkan lekukan jalannya&lt;br /&gt;Dan menyelami ujung-ujungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah gedung-gedungnya&lt;br /&gt;Mengapa mahal harganya&lt;br /&gt;Tapi ada yang berkata kalau ada pula&lt;br /&gt;Milik orang Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga tempat belanja&lt;br /&gt;Dan orang Indonesia tersenyum tertawa&lt;br /&gt;Menenteng tas kertas di tepi jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pemuda Indonesia tergegas&lt;br /&gt;Sebab dia harus pergi ke universitas&lt;br /&gt;Untuk mendengarkan dosen berbicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri tetangga di dekat Sumatra&lt;br /&gt;Dari Batam menyeberang saja&lt;br /&gt;Tapi bagi orang Papua&lt;br /&gt;Terlalu jauh tempatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri singa putih&lt;br /&gt;Orang-orang belajar dan berlatih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuang sampah bisa didenda&lt;br /&gt;Menyeberang harus pada tempatnya&lt;br /&gt;Naik bis ada waktunya&lt;br /&gt;Tidak seperti kita, bebas semaunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah negeri singapura&lt;br /&gt;Tempat te ka i juga ikut bekerja&lt;br /&gt;Mencari uang untuk keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8013453968755545316?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8013453968755545316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8013453968755545316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8013453968755545316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8013453968755545316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/singapura.html' title='Singapura'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3900463919835888934</id><published>2009-02-16T06:12:00.000+07:00</published><updated>2009-02-16T06:13:16.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Cintaku Ada di Dompetmu</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat cinta kamu itu sudah pasti&lt;br /&gt;Hatiku penuh gembira karena bersamamu nyaman di hati&lt;br /&gt;Rumah mobil emas permata Vegas Paris sampai Bali&lt;br /&gt;Bukti perayaan cinta dan janji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta kamu pasti&lt;br /&gt;Hidupku gembira meski kau tak bersamaku&lt;br /&gt;Suaramu di telepon teduhkanku&lt;br /&gt;Bunga indah mobil dan mutiara adalah pula hadirmu&lt;br /&gt;Bukti harganya cintamu padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupku jadi milikmu&lt;br /&gt;Tanpa suaramu mutiara untukku&lt;br /&gt;Sepanjang kau merawat rasa inginku&lt;br /&gt;Aku cinta kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah isi dompetmu itulah cintaku&lt;br /&gt;Setiap lembar yang keluar adalah cintamu untukku&lt;br /&gt;Isilah&lt;br /&gt;Isilah&lt;br /&gt;Demi cintaku padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempatkan aku di dompetmu&lt;br /&gt;Bukalah&lt;br /&gt;Bukalah&lt;br /&gt;Keluarkanlah&lt;br /&gt;Keluarkanlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ingatlah untuk tak kau habiskannya&lt;br /&gt;Agar cintaku tetap untukmu&lt;br /&gt;Sebab cintaku itu ada di dalam dompetmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 13 Februari 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3900463919835888934?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3900463919835888934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3900463919835888934' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3900463919835888934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3900463919835888934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/cintaku-ada-di-dompetmu.html' title='Cintaku Ada di Dompetmu'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3517528920489055487</id><published>2009-02-14T05:30:00.000+07:00</published><updated>2009-02-14T05:32:49.982+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Revolusi Cinta</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah cinta kita!&lt;br /&gt;Keadaannya telah membawa kita ke jurang menganga&lt;br /&gt;Berujung pada berakhirnya cinta kita&lt;br /&gt;Oleh karena penindasan kata-kata ada di mana-mana&lt;br /&gt;Keluar begitu saja dari mulut kita&lt;br /&gt;Benci telah menggantikan cinta&lt;br /&gt;Rabaan hasrat berganti tamparan kata&lt;br /&gt;Hati tumpul beku oleh curiga&lt;br /&gt;Perasaan kita tidak patuh lagi pada peraturan cinta yang kita cipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah telah dilanggar!&lt;br /&gt;Janji telah ditinggal!&lt;br /&gt;Komitmen telah dipenggal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya bagiku memimpin cinta kita pada&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip cinta dari sejak kita proklamasikan&lt;br /&gt;Merdekanya cinta kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kita telah menyatakan dengan ini cinta kita,&lt;br /&gt;Hal-hal mengenai bagaimana cara mencinta dan&lt;br /&gt;Adakah harta benda, uang, dan emas permata&lt;br /&gt;Tidak perlu kita pikirkan dalam tempo sesingkatnya&lt;br /&gt;Biarlah kita pertaruhkan saja dalam berjalannya masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kita telah pula bersumpah setia&lt;br /&gt;Untuk menyatukan kita dalam sumpah cinta kita&lt;br /&gt;Kami manusia saling mencinta&lt;br /&gt;Bersumpah:&lt;br /&gt;Satu jiwa&lt;br /&gt;Satu raga&lt;br /&gt;Satu bahasa yaitu bahasa cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinilah saatnya revolusi cinta&lt;br /&gt;Pertama, hal-hal mengenai kebencian diantara kita&lt;br /&gt;Haruslah dihapuskan dari muka bumi karena cinta kita&lt;br /&gt;Adalah hak asasi dari mulanya&lt;br /&gt;Kedua, kemerdekaan cinta adalah hak segala manusia&lt;br /&gt;Sehingga penjajahan harta benda haruslah disingkirkan di antara kita&lt;br /&gt;Ketiga, dan perjuangan kemerdekaan cinta kita telah sampailah pada komitmen&lt;br /&gt;Pengorbanan kita&lt;br /&gt;Demi waktu kita untuk bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena esensi dari cinta kita&lt;br /&gt;Pada mulanya adalah hadir bersatunya dua hasrat hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah deklarasi cinta kita yang kita sahkan&lt;br /&gt;Pada hari ini di Ibu Kota Cinta&lt;br /&gt;Tahun dua ribu cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3517528920489055487?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3517528920489055487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3517528920489055487' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3517528920489055487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3517528920489055487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/revolusi-cinta.html' title='Revolusi Cinta'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1713965543428001397</id><published>2009-02-12T07:35:00.002+07:00</published><updated>2009-02-12T11:49:34.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Guru</title><content type='html'>&lt;p&gt;Puisi Sigit Setyawan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Berapakah layaknya kubayarkan uangku&lt;br /&gt;Agar aku mendapatkan ilmu untuk masa depanku&lt;br /&gt;Tanyaku kau jawab dengan tatap matamu&lt;br /&gt;“Beraninya kamu tanyakan itu pada gurumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ilmu yang kuberikan adalah tentang kehidupan&lt;br /&gt;Agar kau mampu berpikir dengan martabat manusia&lt;br /&gt;Jika kau mampu mengukur nilai kehidupan&lt;br /&gt;Dan mengerti harga martabat manusia&lt;br /&gt;Barulah kau layak untuk bertanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab di tangan guru nalarmu akan dibawanya&lt;br /&gt;Entah ke negeri terang atau negeri gelap&lt;br /&gt;Hatimu akan ditempanya&lt;br /&gt;Entah kau akan mencintainya atau membencinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kelak di perempatan jalan raya&lt;br /&gt;Engkau tidak lagi perlu bertanya ke mana arahnya&lt;br /&gt;Sebab engkau akan terlatih melihat tandanya&lt;br /&gt;Dan tahu ada apa di ujungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah hidup sang guru dan engkau akan tahu&lt;br /&gt;Hidup gelap dia tak mampu&lt;br /&gt;Sebab matamu tahu dia selalu ada di depanmu&lt;br /&gt;Menjadi pandu bagi hidupnya nalar nuranimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 12 Februari 2009.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1713965543428001397?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1713965543428001397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1713965543428001397' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1713965543428001397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1713965543428001397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/guru.html' title='Guru'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3472108008457367683</id><published>2009-02-02T06:39:00.001+07:00</published><updated>2009-02-02T06:39:46.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Proposal Bahagia</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bolehkah aku bahagia?&lt;br /&gt;Boleh nak, kalau engkau bahagia, papa pasti bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bolehkah aku memiliki boneka ini?&lt;br /&gt;Jangan nak, boneka yang ini saja, sebab yang itu modelnya sudah tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bolehkah aku sekolah di sini?&lt;br /&gt;Jangan nak, sekolah di sini jelek, kamu sekolah di sana saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bolehkan aku nonton film itu?&lt;br /&gt;Jangan nak, nonton film ini saja, sebab yang itu papa tidak suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bolehkan aku punya pacar sekarang?&lt;br /&gt;Jangan nak, besok saja menunggu papa tua, sebab siapa yang akan menjaga papa&lt;br /&gt;Di malam minggu yang begitu lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bolehkah aku menikah dengannya?&lt;br /&gt;Jangan nak, yang ini saja sebab yang itu tidak punya harta&lt;br /&gt;Lagi pula papa tidak suka kepadanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bolehkah aku bahagia?&lt;br /&gt;Boleh nak kalau engkau bahagia papa pasti bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi papa mengapakah aku tidak bahagia sekarang ini?&lt;br /&gt;Oh, itu sebab perasaanmu tidak bisa menyesuaikan dengan perasaan papa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa sebenarnya bahagia itu apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini yang seharusnya,&lt;br /&gt;Kalau papa bahagia, maka kamu harus bahagia pula&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3472108008457367683?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3472108008457367683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3472108008457367683' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3472108008457367683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3472108008457367683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/proposal-bahagia.html' title='Proposal Bahagia'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6137818926574426348</id><published>2009-02-02T06:38:00.000+07:00</published><updated>2009-02-02T06:39:06.850+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Musuh</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu menganggap aku musuh&lt;br /&gt;karena aku telah mengatakan kebenaran kepadamu&lt;br /&gt;Kebenaran itu melecuti hatimu&lt;br /&gt;dan kau salahkan aku karena perihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu menganggap aku musuh&lt;br /&gt;karena warna kulitku tidak sama dengan kulitmu&lt;br /&gt;itu menjengkelkanmu karena risih hatimu&lt;br /&gt;dan kausalahkan tuhanmu mengapa aku diciptakanNya pula&lt;br /&gt;kau bermaksud membunuhku karena bencimu pada tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu menganggapku musuh&lt;br /&gt;karena miskinku&lt;br /&gt;Sebab miskin adalah hina bagi kemuliaanmu&lt;br /&gt;kau berikhtiar menghilangkan aku dari muka bumi&lt;br /&gt;aku cukup memahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun&lt;br /&gt;kebenaran tetap kebenaran&lt;br /&gt;warna kulit bukan sebuah dosa&lt;br /&gt;dan siapakah bisa keluar dari kemiskinannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kuputuskan saja untuk mengasihimu&lt;br /&gt;karena musuhku bukanlah dirimu&lt;br /&gt;melainkan kebencian di dalam hatimu&lt;br /&gt;dan nalar keliru di otakmu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6137818926574426348?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6137818926574426348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6137818926574426348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6137818926574426348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6137818926574426348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/02/musuh.html' title='Musuh'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2341219442421361698</id><published>2009-01-30T15:15:00.001+07:00</published><updated>2009-02-12T11:50:45.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Aku Cinta Kamu</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta kamu&lt;br /&gt;Artinya&lt;br /&gt;Jadilah milikku selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta kamu&lt;br /&gt;Artinya&lt;br /&gt;Senangkanlah aku&lt;br /&gt;Hiburlah aku&lt;br /&gt;Tersenyumlah untukku&lt;br /&gt;Hadirlah untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta kamu&lt;br /&gt;Artinya&lt;br /&gt;Puaskanlah hasratku&lt;br /&gt;Cantiklah untukku&lt;br /&gt;Peluklah diriku&lt;br /&gt;Mengalahlah demi aku&lt;br /&gt;Serahkanlah dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku cinta kamu&lt;br /&gt;Artinya&lt;br /&gt;Aku cinta pada diriku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2341219442421361698?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2341219442421361698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2341219442421361698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2341219442421361698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2341219442421361698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/aku-cinta-kamu.html' title='Aku Cinta Kamu'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4602667973434196003</id><published>2009-01-30T15:14:00.001+07:00</published><updated>2009-02-12T11:51:29.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Cinta Suci</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberikan nyawaku untukmu tanpa syarat&lt;br /&gt;Tujuan hidupku adalah mati demi dirimu&lt;br /&gt;Seperti lilin bersinar dengan membunuh dirinya&lt;br /&gt;Aku pun rela demi kau bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberikan waktuku untukmu tanpa syarat&lt;br /&gt;sebab apa artinya masa&lt;br /&gt;jika tanpa makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurelakan tubuhku untukmu tanpa syarat&lt;br /&gt;Makanlah&lt;br /&gt;Minumlah&lt;br /&gt;Nikmatilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugantikan tubuhmu dengan tubuhku tanpa syarat&lt;br /&gt;Pukullah&lt;br /&gt;Rajamlah&lt;br /&gt;Ludahilah&lt;br /&gt;Siksalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab percuma jika aku bahagia&lt;br /&gt;Tapi kau penuh derita&lt;br /&gt;Aku ingin sebaliknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintaimu meskipun engkau mencaciku&lt;br /&gt;Aku menyayangimu meskipun engkau mengoyak hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab rasa cintaku ini tidak tergantung&lt;br /&gt;Pada perasaan hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 Jan 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4602667973434196003?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4602667973434196003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4602667973434196003' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4602667973434196003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4602667973434196003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/cinta-suci.html' title='Cinta Suci'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6625465849596949925</id><published>2009-01-30T15:12:00.003+07:00</published><updated>2009-02-12T11:51:46.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hidup Ini Sederhana</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu,&lt;br /&gt;Sejak di kandunganmu&lt;br /&gt;Kau bawaku ke mana pergimu&lt;br /&gt;Itulah mengapa surgaku di telapak kakimu&lt;br /&gt;Hidup ini bagimu sederhana saja&lt;br /&gt;Demi aku lahir ke dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah,&lt;br /&gt;Sejak kecilku&lt;br /&gt;Kau kerja dengan kuat lenganmu&lt;br /&gt;Itulah mengapa surgaku di telapak tanganmu&lt;br /&gt;Hidup ini bagimu sederhana saja&lt;br /&gt;Demi aku hidup di dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kutatap dunia&lt;br /&gt;Kulihat kalian berdua&lt;br /&gt;Tersenyum dan tertawa&lt;br /&gt;Meski kencingku di mana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu orang-orang tak kukenal&lt;br /&gt;Tertawa, tersenyum, dan bertingkah lucu&lt;br /&gt;Melihatku, memeras pipiku, menciumi wajahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini bagiku sederhana saja&lt;br /&gt;Tertawa untuk mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu,&lt;br /&gt;Sejak kau katakan berjalanlah&lt;br /&gt;Aku melangkah tanpa ragu&lt;br /&gt;Sebabnya sederhana saja: engkau berkata begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah,&lt;br /&gt;Sejak kau katakan beranilah&lt;br /&gt;Aku berani berkelahi&lt;br /&gt;Sebabnya sederhana saja: ada engkau di sisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini untuk siapa&lt;br /&gt;Engkau bilang sederhana saja&lt;br /&gt;Untuk aku yang kau cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis di usia muda&lt;br /&gt;Pacar pergi tinggalkan luka&lt;br /&gt;Engkau bilang sederhana saja&lt;br /&gt;Cari saja yang lainnya&lt;br /&gt;Aku beranjak dewasa&lt;br /&gt;Khawatirku meraja&lt;br /&gt;Uang banyak aku tak punya&lt;br /&gt;Engkau bilang sederhana saja&lt;br /&gt;Pulang saja ke desa&lt;br /&gt;Makan nasi sayur apa adanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi semakin tua&lt;br /&gt;Khawatirku makin menjadi&lt;br /&gt;Jabatan tinggi tak terbeli&lt;br /&gt;Engkau bilang sederhana saja&lt;br /&gt;Jadi saja gembala sapi&lt;br /&gt;Bermain seruling di tepi kali&lt;br /&gt;Menikmati senja dan fajar hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak aku akan menjadi renta&lt;br /&gt;Khawatirku akan semua&lt;br /&gt;Bagaimana anakku bisa membaca&lt;br /&gt;Bagaimana bila anakku bercinta&lt;br /&gt;Engkau bilang sederhana saja&lt;br /&gt;Tersenyum dan berdoa&lt;br /&gt;Sebab toh kamu tak mampu berbuat apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab&lt;br /&gt;Takut itu berarti kamu tak punya cinta&lt;br /&gt;Sebab&lt;br /&gt;Jika kamu cinta takut akan sirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa orang rela&lt;br /&gt;Mematikan dirinya demi cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab&lt;br /&gt;Hidup ini sederhana saja&lt;br /&gt;Untuk yang aku cinta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6625465849596949925?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6625465849596949925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6625465849596949925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6625465849596949925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6625465849596949925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/hidup-ini-sederhana.html' title='Hidup Ini Sederhana'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2480847239975730000</id><published>2009-01-30T15:12:00.001+07:00</published><updated>2009-01-30T15:12:49.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Yes, We Can</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama menjadi presiden&lt;br /&gt;Yes, we can&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab sesungguhnya semua manusia adalah sederajat&lt;br /&gt;Yes, we can&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab mimpi itu dapat diwujudkan jika kita berjuang meraihnya&lt;br /&gt;Yes, we can&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab yang pertama kali menghambat mimpi-mimpi itu adalah&lt;br /&gt;Diri kita sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang mengatakan aku tidak bisa adalah diriku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang pertama kali mengatakan aku akan gagal adalah diriku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tidak berbuat apa-apa untuk dunia adalah aku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang seharusnya berbuat untuk dunia adalah aku ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes, We Can&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama jadi presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Obama Menjadi Presiden, Januari 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2480847239975730000?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2480847239975730000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2480847239975730000' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2480847239975730000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2480847239975730000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/yes-we-can.html' title='Yes, We Can'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1788134146484943200</id><published>2009-01-30T15:11:00.000+07:00</published><updated>2009-01-30T15:12:02.050+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kebenaranku</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki berseru, “Kebenaran adalah warna Jingga!”&lt;br /&gt;Sebab lelaki itu seluruh tubuhnya berwana Jingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada seorang lelaki lain berwarna biru berkata,&lt;br /&gt;“Akulah kebenaran karena kebenaran adalah warna biru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berwarna Jingga itu menghunus pedangnya,&lt;br /&gt;Matanya membara, dagingnya serentak mengeluarkan bara,&lt;br /&gt;Ia berubah menjadi merah dan berkata,&lt;br /&gt;“Tidak, kebenaran adalah warna Jingga.”&lt;br /&gt;Lalu dibenamkannya pedang itu ke dada lelaki biru.&lt;br /&gt;Lelaki biru itupun meregang nyawa, lalu berubah menjadi hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berwarna jingga itu kembali berseru, “Kebenaran adalah Jingga!”&lt;br /&gt;Tetapi seorang lelaki berwarna merah melintas di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa engkau berwarna merah, padahal sudah kukatakan&lt;br /&gt;bahwa kebenaran harus jingga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki merah itu mengatakan, “Sebab kebanaran adalah merah.”&lt;br /&gt;Lelaki jingga itu berubah menjadi merah, dari tubuhnya keluar api, ia&lt;br /&gt;Menghunus pedang,&lt;br /&gt;“Tidak! Kamu harus menjadi jingga!”&lt;br /&gt;Lalu dibenamkannya pedang itu ke dada lelaki merah itu.&lt;br /&gt;Seketika itu juga lelaki merah itu berubah menjadi hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki jingga yang tadi menjadi merah itupun kemudian kembali menjadi jingga,&lt;br /&gt;Setelah ia menyarungkan pedangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tanpa diketahuinya, seorang lelaki merah dan seorang lelaki biru lain&lt;br /&gt;Serentak membenamkan pedangnya di punggung lelaki jingga itu&lt;br /&gt;sehingga lelaki jingga meregang nyawa.&lt;br /&gt;Ia pun berubah menjadi hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba langit tertutup.&lt;br /&gt;Gelap gulita menyelimuti bumi.&lt;br /&gt;Suara-suara terhenti.&lt;br /&gt;Semua mata menjadi buta&lt;br /&gt;Sebab tidak ada lagi cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua telah menjadi hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitamnya hitam, suara terdengar&lt;br /&gt;KEBENARAN ADALAH AKU&lt;br /&gt;BUKAN WARNAMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1788134146484943200?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1788134146484943200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1788134146484943200' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1788134146484943200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1788134146484943200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/kebenaranku.html' title='Kebenaranku'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1118429844257162228</id><published>2009-01-30T15:09:00.000+07:00</published><updated>2009-01-30T15:10:37.080+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Titik Hitam</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik hitam di atas kertas hitam tidak terlihat&lt;br /&gt;titik hitam di atas kertas putih jadi noda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa dalam kumpulan orang dosa tidak menjadi dosa&lt;br /&gt;Dosa dalam komunitas orang tak berdosa menjadi sebuah dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik hitam adalah sebuah tanda&lt;br /&gt;berhenti&lt;br /&gt;jeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pula menjadi saat&lt;br /&gt;nafas dalam membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kita perlu sebuah titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengambil nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik adalah sebuah doa&lt;br /&gt;sebuah istirahat&lt;br /&gt;sebuah refleksi&lt;br /&gt;sebuah puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;titik hitam di kertas putih&lt;br /&gt;membuat kertas tak putih lagi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1118429844257162228?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1118429844257162228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1118429844257162228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1118429844257162228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1118429844257162228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/titik-hitam.html' title='Titik Hitam'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5372411794106097104</id><published>2009-01-30T15:08:00.001+07:00</published><updated>2009-02-12T11:53:07.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hai Pemuda</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai pemuda, dimanakah apimu&lt;br /&gt;Katanya kau pernah memaksa pemimpinmu&lt;br /&gt;Menandatangani merdekanya tanahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai pemuda, dimanakah teriakmu&lt;br /&gt;Katanya kau pernah memaksa wakil rakyatmu&lt;br /&gt;Memaksakan reformasinya negerimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah kau simpan baramu&lt;br /&gt;Ketika cumbu rayu tradisi seberang tak mampu kau serang&lt;br /&gt;Katanya kau pejuang&lt;br /&gt;Nyatanya kau lupakan upacara moyangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai pemuda, terpurukkah kau&lt;br /&gt;Di ujung jarum ekstasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung belati di ujung jalan&lt;br /&gt;diselimuti seragam sekolahmu&lt;br /&gt;Mengalirkan api, mengumbar teriakmu&lt;br /&gt;Tawuran&lt;br /&gt;Tawuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pemimpinmu&lt;br /&gt;Tak lagi memerdekakan tanahmu&lt;br /&gt;Tak lagi memaksakan reformasinya negerimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai pemuda, dimanakah apimu&lt;br /&gt;Katanya kau pernah memaksa pemimpinmu&lt;br /&gt;Menandatangani merdekanya tanahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumpah pemuda, 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5372411794106097104?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5372411794106097104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5372411794106097104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5372411794106097104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5372411794106097104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/hai-pemuda.html' title='Hai Pemuda'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1518021011201240517</id><published>2009-01-29T13:45:00.000+07:00</published><updated>2009-01-29T13:46:16.502+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Eufemisme</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya berzinah&lt;br /&gt;Tapi katakan saja berselingkuh&lt;br /&gt;Sesungguhnya mencuri uang rakyat&lt;br /&gt;Tapi katakan saja korupsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembunyi di balik kata&lt;br /&gt;Supaya tidak terlalu berdosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang&lt;br /&gt;Dibilang kurang ajar&lt;br /&gt;Jujur&lt;br /&gt;Dibilang ajur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana ditertawakan&lt;br /&gt;Miskin diseminarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembunyi di balik kata&lt;br /&gt;Supaya terlihat berwibawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya kata&lt;br /&gt;Membawa bencana&lt;br /&gt;Terus terang&lt;br /&gt;Membawa petaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pedang bermata dua&lt;br /&gt;Haruslah kau berlatih&lt;br /&gt;Memakainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 23 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1518021011201240517?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1518021011201240517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1518021011201240517' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1518021011201240517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1518021011201240517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/eufemisme.html' title='Eufemisme'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8117735683139827165</id><published>2009-01-23T13:53:00.004+07:00</published><updated>2009-01-23T15:10:48.247+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pembalasan</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau tampar pipi kiriku&lt;br /&gt;Kutampar kau pipi kanan dan kiri&lt;br /&gt;Kalau kau injak kakiku&lt;br /&gt;Kuinjak-injak tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab aku dua kali lebih kejam&lt;br /&gt;Daripada kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau khianati aku&lt;br /&gt;Ku bunuh kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab aku dua kali lebih kejam&lt;br /&gt;Daripada kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ku ampuni kamu&lt;br /&gt;Setelah kubalaskan dendamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab dendam itu seperti api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi&lt;br /&gt;jika kau berbuat baik kepadaku&lt;br /&gt;Akan ku dua kali berbuat baik padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab aku ini dua kali lebih baik&lt;br /&gt;Daripada kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau cium pipiku&lt;br /&gt;Akan kuciumi seluruh tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab aku ini dua kali lebih baik&lt;br /&gt;Dari pada kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah manusia&lt;br /&gt;Hidupku demi diriku&lt;br /&gt;Hai jahat berhati-hatilah&lt;br /&gt;sebab aku lebih jahat daripada mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah manusia&lt;br /&gt;Hidup demi diriku&lt;br /&gt;Hai baik, bersuka citalah&lt;br /&gt;sebab aku jauh lebih baik daripada mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah manusianya&lt;br /&gt;Merespon apa yang kurespon&lt;br /&gt;Membalas apa yang kubalas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi&lt;br /&gt;Dalam sepiku di malam hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapakah kau diam saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pula kau tampar pipiku&lt;br /&gt;Tak pula kau cium aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa&lt;br /&gt;kurespon apa yang kurespon&lt;br /&gt;Tak bisa&lt;br /&gt;Kubalas apa yang kubalas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan&lt;br /&gt;Aku ini tercekam dalam sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab tidak mau kau&lt;br /&gt;berbicara kepadaku&lt;br /&gt;menyapa namaku&lt;br /&gt;menatap mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak juga kau&lt;br /&gt;Berbuat jahat padaku&lt;br /&gt;Berbuat baik padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang harus kulakukan&lt;br /&gt;Dalam diammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya&lt;br /&gt;Kau telah membunuhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab tak bisa kubalas&lt;br /&gt;Sepiku&lt;br /&gt;Menjadi&lt;br /&gt;Lebih sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8117735683139827165?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8117735683139827165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8117735683139827165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8117735683139827165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8117735683139827165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/pembalasan.html' title='Pembalasan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6264792962560737572</id><published>2009-01-22T08:50:00.001+07:00</published><updated>2009-01-22T08:50:58.471+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Desaku</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desaku hijau desaku sejuk&lt;br /&gt;Orangnya senyum orangnya santun&lt;br /&gt;Rumahnya kayu rumahnya rukun&lt;br /&gt;Jalannya bergelombang jalannya tanah merah&lt;br /&gt;Sungainya jernih sungainya riap ikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu listrik masuk desa&lt;br /&gt;Lalu tivi masuk desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aspal masuk desa&lt;br /&gt;Lalu motor masuk desa&lt;br /&gt;Lalu mobil masuk desa&lt;br /&gt;Lalu asap masuk desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang muda lalu pergi&lt;br /&gt;Yang di sawah tinggal si tua&lt;br /&gt;Yang di ladang entah siapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berubah apakah harus&lt;br /&gt;Jika desa tak terurus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6264792962560737572?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6264792962560737572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6264792962560737572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6264792962560737572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6264792962560737572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/desaku.html' title='Desaku'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4874850092153094762</id><published>2009-01-22T08:48:00.000+07:00</published><updated>2009-01-22T08:50:04.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Bencana</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini negeri lupa&lt;br /&gt;Hutan gundul karena siapa&lt;br /&gt;Sungai meluap karena apa&lt;br /&gt;Rumah tenggelam mengapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini negeri siapa&lt;br /&gt;Limbah pabrik mengalir begitu saja&lt;br /&gt;Sampah plastik di jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dunia siapa&lt;br /&gt;Panas bumi semakin menyala&lt;br /&gt;Pemimpin pula letak salahnya&lt;br /&gt;Pabrik-pabrik mengoyak langit dengan asapnya&lt;br /&gt;Peduli setan yang penting kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hidup siapa&lt;br /&gt;Masa bodoh nasib tetangga&lt;br /&gt;Yang penting rekening penuh dengan bunga&lt;br /&gt;Dan hidup anakku penuh bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hukuman siapa&lt;br /&gt;Di jalanan penuh dengan anak tangan terbuka&lt;br /&gt;Kudis kutu kuman menempel di kulitnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hukuman siapa&lt;br /&gt;Diare disentri dengue menusuk tubuh di tengah bencana&lt;br /&gt;Tivi tikar tempat tidur lenyap sampai ke atap-atapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bencana milik siapa&lt;br /&gt;uang uang uang&lt;br /&gt;sumbangan sumbang sumbang sumbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemana perginya&lt;br /&gt;dari mana datangnya&lt;br /&gt;Apa pedulinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa empati orang memberi&lt;br /&gt;Mengira diri berbuat suci&lt;br /&gt;Padahal cuma tak mau mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bencana sesungguhnya,&lt;br /&gt;Memberi, tapi tanpa empati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 22 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4874850092153094762?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4874850092153094762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4874850092153094762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4874850092153094762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4874850092153094762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2009/01/bencana.html' title='Bencana'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-7707454080254533885</id><published>2008-11-28T10:00:00.004+07:00</published><updated>2009-02-12T12:04:57.371+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Yang Tidak Pintar Dilarang Sekolah</title><content type='html'>By Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekolah yang mencari murid seperti mencari pegawai. Di koran, banyak lowongan kerja memberi syarat: berpengalaman kerja. Di sekolah, sekolah mencari siswa dengan syarat: harus pintar. Jadi, yang tidak pintar jangan sekolah di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah tersebut masuk dalam kategori mendidik orang pintar menjadi pintar. Sekedar mengingatkan, kalau anak sudah pintar, kemungkinannya cuma dua, yaitu menjadi lebih pintar atau menjadi kurang pintar dari sebelumnya. Kaprahnya, sekolah yang menjadikan anak pintar menjadi lebih pintar seringkali membusung dada dengan mengatakan, “Inilah hasil pendidikan sekolah kami”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ada pula sekolah yang siapapun bisa masuk ke sana. Bahkan, seringkali yang masuk ke sekolah tersebut telah ditolak di semua sekolah. Jadi, memang kasarnya disebut sebagai anak yang “terbuang” karena dianggap kurang pintar untuk masuk ke sekolah “bagus”. Namun, ketika beberapa siswanya mampu merebut juara keempat atau juara harapan, tidak seorang pun terkesan. Apa sih hebatnya menjadi juara tapi harapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang lebih suka bangga pada anak yang memang layak jadi juara satu karena memang dia pintar, dibandingkan dengan anak yang sama sekali dianggap tidak layak tetapi dengan perjuangannya berhasil mendapatkan juara harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah tersebutlah seorang anak yang terlahir sebagai juara, waktu batita selalu juara bayi sehat, waktu balita juara di acara tujuh belasan tingkat RT, waktu TK juara tingkat kecamatan, dan waktu SD juara cerdas cermat tingkat kabupaten. Anak ini mau disekolahkan di mana pun tetap saja juara. Benar juga, di SMP dia juara dan di SMA dia juara juga. Alhasil anak semacam ini menjadi target empuk sekolah yang ingin cari nama dengan mamakai dia sebagai “hasil dari pendidikan sekolah kami” sambil menyembunyikan siswa yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ilustrasi di paragraf di atas agak berlebihan dan menyinggung perasaan, itu cuma sekedar ilustrasi, tapi bukan berarti tidak terjadi. Intinya, benarkah sekolah kita telah “mencetak” atau “melahirkan” sesuatu bagi dunia, bangsa dan negara, atau minimal bagi RT di mana dia tinggal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak sekolah Indonesia bingung mau menjadi apa. Sebagian karena sekolah kita telah memberi arah bahwa kalau sekolah, kamu harus berprestasi. Dengan menuturkan terus menerus dan meng-imej-kan bahwa prestasi-lah yang mendapat penghargaan, para orangtua kelas menengah Indonesia pun kemudian menganggap bahwa itu adalah arah yang paling tepat bagi pendidikan anaknya. Jadi, anak yang tidak berprestasi merasa termarjinalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sekolah adalah untuk belajar dan asyik belajar. Sayangnya, bahkan para guru pun lupa akan hal itu sambil justru menciptakan “neraka” atau sebuah “camp” belajar bagi para anak. Ngapain kamu sekolah? Arah lain selain meraih prestasi harus juga di-imej-kan.Ada sekolah khusus untuk talented dan gifted dan sekolah semacam itu pastilah menuntut “harus pintar”, tetapi ingatlah bahwa itu bukanlah barometer pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang agak pintar dan kurang pintar seharusnya masuk sekolah bagus agar menjadi lebih pintar. Sudah kurang pintar masuk sekolah kurang bagus, hasilnya tentu saja tidak akan sebagus yang diharapkan. Jadi, pandai-pandailah kita memilih sekolah, sebab kita sebagai orang tua tidak bisa memilih anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-7707454080254533885?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/7707454080254533885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=7707454080254533885' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7707454080254533885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/7707454080254533885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/11/yang-tidak-pintar-dilarang-sekolah.html' title='Yang Tidak Pintar Dilarang Sekolah'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1616853480210526591</id><published>2008-11-28T08:22:00.004+07:00</published><updated>2008-11-28T08:30:55.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan'/><title type='text'>Jodoh</title><content type='html'>By Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya bilang bahwa jodoh di tangan Tuhan. Saya bilang, “Kalau begitu, nunggu aja dikasih. Kan, itu masih ditanganNya, belum di tanganmu.” Tapi teman saya tidak sabar. “Ada nggak sih REG spasi JODOH lalu besok aku ketemu sama jodohku?” Ah, naïf sekali temanku itu, menganggap bahwa jodoh bisa ditemukan lewat sekedar SMS. &lt;a href="http://community.kompas.com/read/artikel/1640"&gt;Selanjutnya di Kompas Komunitas... &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SS9Imiu_qDI/AAAAAAAAABk/-j5KCyGa6H4/s1600-h/logo_koki.gif"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://community.kompas.com/read/artikel/1640"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1616853480210526591?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1616853480210526591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1616853480210526591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1616853480210526591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1616853480210526591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/11/jodoh.html' title='Jodoh'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4973821952098036645</id><published>2008-11-03T06:29:00.001+07:00</published><updated>2008-11-03T06:29:47.944+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Famili Kota Ini</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa pulang membawa marah&lt;br /&gt;Mama pulang membawa membawa diam&lt;br /&gt;Upik diam membawa buku pelajaran&lt;br /&gt;Buyung menggeleng tertawa, di telinga ada nyanyi suka-suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon bernyanyi, pembantu berlari&lt;br /&gt;Nyonya, ada telepon dari bapak guru, si Upik mendapat nilai satu&lt;br /&gt;Telepon bernyanyi lagi, pembantu berlari lagi&lt;br /&gt;Tuan, ada telepon dari ibu guru, si Buyung berkelahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa mama, tuan dan nyonya memaki-maki&lt;br /&gt;Untuk apa bekerja kalau hasilnya begini&lt;br /&gt;Dasar anak tak tahu diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok pagi Buyung berkelahi lagi&lt;br /&gt;Upik dapat nilai satu lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa pulang membawa diam&lt;br /&gt;Mama pulang membawa marah&lt;br /&gt;Upik menggeleng tertawa, di telinga ada nyanyi suka-suka&lt;br /&gt;Buyung diam membawa buku pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak guru meminta papa mama menghadap pak kepala&lt;br /&gt;Sopir tiba-tiba menjadi wali&lt;br /&gt;Mengaku-aku menjadi famili&lt;br /&gt;Soalnya setiap bulan sudah digaji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa pulang membawa diam&lt;br /&gt;Mama pulang membawa diam&lt;br /&gt;Upik diam, Buyung pun diam&lt;br /&gt;Televisi tak tahu diri berbunyi&lt;br /&gt;Komputer memainkan em pe tri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai besok pagi,&lt;br /&gt;Seperti berita di televisi,&lt;br /&gt;Papa mama jadi selebriti,&lt;br /&gt;Tak mampu bersama lagi,&lt;br /&gt;Karena cinta tak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok pagi Buyung berkelahi lagi&lt;br /&gt;Upik dapat nilai satu lagi&lt;br /&gt;Siapa yang peduli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta, November 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4973821952098036645?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4973821952098036645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4973821952098036645' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4973821952098036645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4973821952098036645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/11/famili-kota-ini.html' title='Famili Kota Ini'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3822652719597354387</id><published>2008-11-03T06:28:00.001+07:00</published><updated>2008-11-03T06:28:43.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Nomer</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomer satu harus selalu&lt;br /&gt;sebab siapa mau nomer dua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomer tiga sekian nomer ka te pe ku&lt;br /&gt;Lebih dari satu karena terpaksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomer empat sekian nomer simku&lt;br /&gt;Demi aman di jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomer lima sekian nomer wajib pajakku&lt;br /&gt;Tapi lalu kupusing dibuatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomer enam nomer sialku&lt;br /&gt;Terlanjur kupercaya orang berkata apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomer tujuh nomer rumahku&lt;br /&gt;Keberuntungan selalu kata tetangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara nomer&lt;br /&gt;Kubingung dibuatnya,&lt;br /&gt;Katanya ada yang bisa urus tanpa biaya&lt;br /&gt;Tapi sama saja&lt;br /&gt;Cuma katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara nomer&lt;br /&gt;Kubingung dibuatnya,&lt;br /&gt;Katanya aku tak lulus karena kurang nomernya&lt;br /&gt;Tapi sama saja&lt;br /&gt;Ada yang lulus karena koneksinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3822652719597354387?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3822652719597354387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3822652719597354387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3822652719597354387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3822652719597354387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/11/nomer.html' title='Nomer'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2278610301566388479</id><published>2008-11-03T06:26:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T06:27:30.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Papajakjak</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, ada tukang pajak&lt;br /&gt;Minta pajak dihitung dibayar&lt;br /&gt;Supaya jalan tak macet, toilet umum tak bau,&lt;br /&gt;Nunggu bis tak sepanas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jak jak ada tukang pajak&lt;br /&gt;Waktunya bayar di kantor pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, ada tukang pajak&lt;br /&gt;Bukan, Nak, ini makanan cepat saji&lt;br /&gt;Mengapa bayar pajak lagi&lt;br /&gt;Papa juga tak mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jak jak, eh bukan tukang pajak&lt;br /&gt;Memang bukan, Nak, ini cuma pewasat terbang&lt;br /&gt;Mengapa papa membayar pajak lagi, padahal aku ingin mainan barbie&lt;br /&gt;Tak apa nak demi cepat sampai rumah lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, mengapa beli barbie tapi bayar pajak lagi&lt;br /&gt;Tak apa, Nak, papa juga tak mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, mengapa papa tak mengerti tapi bayar pajak lagi&lt;br /&gt;Tak apa, Nak, papa tak mengerti kenapa papa tak mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, begitu ya?&lt;br /&gt;Betul, Nak. Ada yang harus dibayar&lt;br /&gt;Supaya jalan tak macet, toilet tak bau,&lt;br /&gt;Nunggu bis tak sepanas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, mana bisnya, Adik kepanasan&lt;br /&gt;Tunggu ya nak, papa ke toilet dulu.&lt;br /&gt;Papa, mengapa toiletnya bau?&lt;br /&gt;Tunggu ya nak, mungkin karena kita tak bayar pajak dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, jak jak&lt;br /&gt;Naik bis kota bunyinya jak jak.&lt;br /&gt;Mengapa bisnya tak kunjung jalan?&lt;br /&gt;Sabar ya, Nak, karena jalan penuh sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, ayo kita jalan kaki&lt;br /&gt;Supaya papa tak bayar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2008&lt;br /&gt;(Harus segera membuat NPWP)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2278610301566388479?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2278610301566388479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2278610301566388479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2278610301566388479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2278610301566388479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/11/papajakjak.html' title='Papajakjak'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8747092820343084465</id><published>2008-10-15T15:15:00.001+07:00</published><updated>2008-10-15T15:19:10.491+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Mudik</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ingin pulang ke rumah&lt;br /&gt;Katanya pulang ke desa&lt;br /&gt;Dari kota pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini aku dengan sepeda motorku&lt;br /&gt;Berhasilku hidup di kota&lt;br /&gt;Ini aku menyewa mobil tetanggaku&lt;br /&gt;Seolah berhasil di sana&lt;br /&gt;Ini aku dengan mobil bosku&lt;br /&gt;Supaya ayah ibu bangga&lt;br /&gt;Ini aku dengan mobil kreditku&lt;br /&gt;Agar dikira berhasil di kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada pula berjejalan&lt;br /&gt;Dalam lubang lokomotif kereta&lt;br /&gt;Ada pula di atasnya&lt;br /&gt;Lalu, semua bis berjendela terbuka&lt;br /&gt;Memuat puluhan nyawa di dalamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pulang&lt;br /&gt;Aku pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ada yang meregang nyawa di jalan raya&lt;br /&gt;Merintih tangis suka menjelma duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pulang&lt;br /&gt;Aku pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorak sorai orang di jalan raya&lt;br /&gt;Lupa sudah panas terik kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabat tangan handai taulan&lt;br /&gt;Obati kengen dalam dada,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bersujud&lt;br /&gt;Ini hari raya!&lt;br /&gt;Tapi ada pula yang anggap ritual saja,&lt;br /&gt;Sambil berbisik,&lt;br /&gt;“Ikutlah aku ke kota”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari Jakarta ke Solo dalam 21 Jam, Mudik 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8747092820343084465?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8747092820343084465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8747092820343084465' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8747092820343084465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8747092820343084465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/10/mudik.html' title='Mudik'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2886931043372080993</id><published>2008-09-25T12:03:00.003+07:00</published><updated>2008-09-26T06:35:02.354+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Di Sydney</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah dunia barat&lt;br /&gt;Ataukah dunia tenggara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah pulau&lt;br /&gt;Ataukah benua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kuterdiam di pantainya&lt;br /&gt;Menikmati tubuh terbuka&lt;br /&gt;Di Bondi katanya tidak boleh merekam dalam kamera&lt;br /&gt;Maka kurekam saja di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya aku di rumah putih&lt;br /&gt;Aku kagum dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, itulah kebanggaan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu aku sampai menyeberang jalannya,&lt;br /&gt;Tombol kutekan&lt;br /&gt;Menunggu lampu hijau merah menyala&lt;br /&gt;Meski tak ada mobil lewat di sana.&lt;br /&gt;Di tempat asalku, aku menguasai jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sekelompok teman bercanda&lt;br /&gt;Berjanji makan bersama&lt;br /&gt;Di restoran&lt;br /&gt;Tapi semua membayar sesuai yang dimakannya.&lt;br /&gt;Di tempat asalku, akulah yang membayarinya&lt;br /&gt;Jika aku mengajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,&lt;br /&gt;Mungkin inilah negeri multi baru.&lt;br /&gt;Ada putih, ada kuning, ada hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“How are you mate?”&lt;br /&gt;tepuk seorang temanku di pundak.&lt;br /&gt;Aku tersenyum sipu dan membungkukkan badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta Sept 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2886931043372080993?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2886931043372080993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2886931043372080993' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2886931043372080993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2886931043372080993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/09/di-sydney_25.html' title='Di Sydney'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4132804406214474984</id><published>2008-09-25T11:59:00.002+07:00</published><updated>2008-09-25T12:08:03.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Memori Tentang Jogja</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataram itu dulu&lt;br /&gt;Kotaku kini bernama seribu.&lt;br /&gt;Ngayogyakartahadingrat dalam getaran keagungan istanamu&lt;br /&gt;Yogyakarta dalam peta negerimu&lt;br /&gt;Jogja dalam wisatamu&lt;br /&gt;Yogja dalam salah ucap orang dalam candamu.&lt;br /&gt;Lalu siapakah engkau, kotaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namamu adalah jalan-jalan penuh senyum&lt;br /&gt;Penarik becak dalam peluh siangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu delman, sepeda, motor, mobil, juga bis dan taksi&lt;br /&gt;Berbaur di jalan sempitmu&lt;br /&gt;Merayakan kebersamaanmu&lt;br /&gt;Seperti makan bersama di sekitar tumpengmu&lt;br /&gt;Atau berebut kue apem di keratonmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu, di sana ada tulisan&lt;br /&gt;“silakan antri” dan orang-orang merubung tulisan itu&lt;br /&gt;sambil mereka mengernyitkan dahi&lt;br /&gt;“aha inilah hal yang baru itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, siapakah yang mendirikan pasar tinggi itu?&lt;br /&gt;Ah di sini tak bisa kutawar lagi soal harga.&lt;br /&gt;Tapi lihat,&lt;br /&gt;Anakmuda pun lupa sarung dan blangkonmu,&lt;br /&gt;Cuma cas-cis-cus inggris dia tahu,&lt;br /&gt;Gamelan jawa, mana kutahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku duduk di tengah puri taman sarimu&lt;br /&gt;Seandainya aku hidup di masa lalu&lt;br /&gt;Mungkin aku akan lebih terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Teringat akan Jogja ketika di Jakarta, 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4132804406214474984?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4132804406214474984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4132804406214474984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4132804406214474984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4132804406214474984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/09/memori-tentang-jogja.html' title='Memori Tentang Jogja'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1364937980220013563</id><published>2008-09-25T06:36:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T20:33:06.745+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Teman Sejati</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kuhitung satu dua tiga&lt;br /&gt;Kita terus bersama&lt;br /&gt;Saat suka saat duka&lt;br /&gt;Susah senang kita bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kuhitung empat dan lima&lt;br /&gt;Kadang ada canda&lt;br /&gt;Kadang ada tawa&lt;br /&gt;Tapi ada pula derita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak selalu kita rukun&lt;br /&gt;Kadang kita saling menjauh&lt;br /&gt;Tapi kita Satu&lt;br /&gt;Berteman selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kita tua nanti&lt;br /&gt;Meski kadang ada benci&lt;br /&gt;Tapi kamu selalu di hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman sejati&lt;br /&gt;Tak ada ganti&lt;br /&gt;(Jakarta 2007, untuk kelas 7.1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1364937980220013563?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1364937980220013563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1364937980220013563' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1364937980220013563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1364937980220013563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/09/teman-sejati.html' title='Teman Sejati'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6366205141130675628</id><published>2008-09-24T16:49:00.001+07:00</published><updated>2008-09-25T06:39:41.502+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Jakarta Yang Dulu</title><content type='html'>Puisi Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapten Cook berdecak karena kanal-kanal Bataviamu.&lt;br /&gt;Kanan kirinya pohon hijau nan rindang selalu.&lt;br /&gt;Bangunan rapih tersusun dalam harmoni kotamu.&lt;br /&gt;Seribu tujuh ratus delapan belas,&lt;br /&gt;Di tahun itulah cantikmu, melebihi kota-kota moyangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah kanal? Aku bertanya.&lt;br /&gt;Oh itu, katanya.&lt;br /&gt;Seseorang menunjuk tempat sampahmu&lt;br /&gt;Panjang dan dalam, kotor dan menyengat.&lt;br /&gt;Riuh rendah suaramu kini berpacu dalam derap debu.&lt;br /&gt;Dua ribu delapan kini,&lt;br /&gt;Di manakah cantikmu, kurindu masa Bataviamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6366205141130675628?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6366205141130675628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6366205141130675628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6366205141130675628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6366205141130675628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/09/jakarta-yang-dulu.html' title='Jakarta Yang Dulu'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2242464533316696849</id><published>2008-09-08T13:32:00.002+07:00</published><updated>2009-02-12T12:05:34.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Menanti Keadilan Pendidikan</title><content type='html'>Oleh: Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik anak “pintar” di sekolah “bagus” maupun anak “kurang pintar” di sekolah “kurang bagus” akan diuji dengan standar ujian yang sama, yaitu UN. Lebih menyakitkan lagi, mereka dituntut untuk sama-sama sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak faktor yang dipertimbangkan oleh para orangtua ketika mendaftarkan anak ke sebuah sekolah, tentulah faktor kelulusan dalam Ujian Nasional masuk dalam pertimbangan. Bahkan, bagi kalangan ekonomi menengah ke atas, faktor tersebut seringkali menjadi begitu penting. Sementara itu, bagi masyarakat menengah bawah, sekolah di manapun asal biaya terjangkau, tidak menjadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor kesenjangan fasilitas dan kualitas pengajar di kota besar dengan sekolah di kota kecil atau pedesaan dan kesenjangan kualitas siswa yang masuk ke sekolah-sekolah tersebut seolah-olah terabaikan dalam kebijakan standarisasi pendidikan. Apa yang sebenarnya harus dikhawatirkan oleh sekolah “bagus” dan bersiswa “pintar” dalam menghadapi Ujian Nasional nantinya? Jika dibandingkan dengan sekolah yang minim fasilitas dan minim guru, kekhawatiran sekolah “bagus” dengan siswa “pintar” itu tidak terlalu berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para siswa, hal itu mungkin tidak dirasakan sebagai sebuah ketidakadilan. Namun, mereka akan tiba-tiba saja merasa terpukul ketika di akhir masa sekolah nanti mereka dinyatakan tidak lulus. Bagi banyak siswa di mana fasilitas merupakan kemewahan dan guru kompeten merupakan impian, target kelulusan yang ditetapkan merupakan sebuah beban yang begitu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, target kelulusan dikejar dengan begitu dinamis di kota besar. Bukan hanya itu, di kota besar, tuntutan persaingan global dipersiapkan dengan cukup serius oleh para orangtua. Sepulang sekolah, anak diharuskan oleh orangtua mereka untuk les ini dan itu. Bagi kalangan ekonomi menengah atas, berbagai les keterampilan dan bakat disediakan begitu lengkapnya. Demikian pula les pribadi pelajaran sekolah, seperti Matematika dan ilmu pasti pun sudah sangat lazim diadakan di rumah. Lembaga-lembaga bimbingan belajar tidak pernah sepi siswa, bahkan terus tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, gegap-gempita dan dinamika itu begitu berbeda dengan apa yang terjadi di kota kecil atau di desa. Les mata pelajaran yang menjadi “gizi” tambahan siswa di kota besar tidak dapat mereka nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perbedaan di atas begitu nyata, tetap saja standar mengenai kelulusan dan ujian tetaplah sama. Dengan demikian, kadangkala ketidakpercayaan diri siswa atau sekolah, termasuk para gurunya, mejadi begitu rendah ketika Ujian Nasional dilaksanakan. Hal itu memicu berbagai kecurangan demi untuk “menyelamatkan wajah” sekolah atau nasib para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan sistem terus berlanjut masuk ke dalam sekolah. Ketika bidang studi tertentu dilombakan di tingkat nasional dalam bentuk kompetisi atau olimpiade, masalah menjadi lebih rumit bagi para guru dan siswa. Siswa yang ikut kompetisi akan meninggalkan begitu banyak mata pelajaran di sekolahnya selama banyak hari dalam masa karantina. Berdasarkan apa siswa tersebut akan dinilai nantinya, sedangkan dia tidak pernah berada di kelas bersama teman-temannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja sekolah akan mengambil berbagai cara agar terlihat adil. Akan tetapi, bagi siapakah keadilan itu? Dalam pembagian rapor nanti, siswa yang ikut kompetisi itu tiba-tiba mendapat nilai sama atau mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang bekerja keras dan berproses bersama guru di kelasnya. Bahwa hal itu karena siswa telah mengharumkan nama sekolah, “jasa” tersebut sesungguhnya adalah untuk sekolah dan diri siswa yang menang itu, tetapi belum tentu bagi teman-teman yang berjuang keras di kelas. Kompetisi yang bertujuan baik dan menghasilkan hal yang baik pun kadang-kadang memiliki ekses yang tidak diinginkan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, faktor prestasi dalam kompetisi juga menjadi faktor penting pula bagi orangtua untuk memasukkan anak mereka ke sebuah sekolah. Sekolah yang bagus adalah sekolah yang banyak prestasinya. Itu berarti, seringkali tidak ada tempat bagi siswa dengan kemampuan rata-rata. Perjalanan panjang pendidikan generasi muda Indonesia terasa begitu berat. Siswa dengan kemampuan rata-rata, tingkat ekonomi yang rata-rata bahkan miskin, dan perjuangan sekolah-sekolah di desa dan kota kecil yang serba terbatas seperti sebuah cerita yang nyaris tidak terdengar. Kita menantikan sebuah sistem pendidikan yang lebih adil bagi seluruh siswa Indonesia, bukan hanya bagi mereka yang pintar atau yang kebetulan dilahirkan di kalangan berada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2242464533316696849?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2242464533316696849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2242464533316696849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2242464533316696849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2242464533316696849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/09/menanti-keadilan-pendidikan.html' title='Menanti Keadilan Pendidikan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1662657456602697606</id><published>2008-07-29T15:55:00.003+07:00</published><updated>2008-07-29T16:00:17.361+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diari Mini'/><title type='text'>Konferensi Guru Bahasa Indonesia New South Wales di Bali</title><content type='html'>Sigit Setyawan&lt;br /&gt;(dan Diedit oleh Bu Ida Harsojo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The MLTA (Modern Language Teachers' Association) of NSW (New South Wales) bertajuk ‘Intercultural Immersion’ Conference yang diadakan di Ubud, Bali pada tanggal 11- 17 Juli 2008 berlangsung dengan sukses sekali. Konferensi ini dihadiri oleh 20 orang delegasi yang terbang dari Darwin, Canberra, Jakarta, Sydney dan Brisbane. Panitia konferensi adalah Ibu Lee Gilliland dari Macksville HS dan Ibu Melissa Gould Drakeley dari Macarthur Anglican School dan sebagai Presiden dari MLTA NSW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The conference was officially opened by Mr Anwar Raudin, the Minister of Counsellor and Information from The Embassy of RI, Canberra. He really supported this event and stated that the Embassy of RI will give the on-going support for the Indonesian teachers in Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama ‘Intercultural Language Learning’, oleh Ibu Melissa Gould-Drakeley. Bu Melissa menjelaskan bahwa untuk dapat menjadi intercultural, seseorang harus melakukan intracultural terlebih dahulu. Intracultural yaitu memahami budayanya sendiri. Begitu menariknya sesi tersebut, Pak Anwar memutuskan untuk mengikuti konferensi sepanjang hari itu dan keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cultural Baggage in a word is very interesting to discuss. Ibu Ida Harsojo needed quite a long time in her session “Belajar Budaya Lewat Kata” only to talk about one word arisan. This word is so dense in Indonesian cultural aspect that it does not exist in English. Arisan can be categorised as event, verb, noun, or even an adjective.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi menarik lainnya dipresentasikan oleh Ibu Nicola Barkley dari Canberra tentang ‘Berjalan dengan ringan di SD St Francis os Assisi’. Bu Nicola bercerita bagaimana siswa belajar bahasa dan menjaga lingkungan secara bersamaan dan menggunakan Bahasa Indonesia seperti ‘Jagalah Kebersihan’ di sekolahnya. Sementara itu, Bu Ayu dari IALF, Denpasar mempresentasikan program club Bahasa Inggris dan program radio ‘Kang Guru’ (Brother Teacher). Menurut Bu Ayu, club di sekolah-sekolah berusaha untuk menghubungkan antara siswa di Indonesia dan Australia melalui surat. Jadi, siswa di Australia bisa mengirimkan surat langsung ke siswa di Indonesia dan bertanya tentang budaya dan topik menarik antara Indonesia dan Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the Conference, delegates also did some fantastic workshops. Workshop Cartooning with Pak Bundhowi was brilliant. He taught the delegates how to draw cartoon. To start with, some delegates were very reluctant and they did not feel confident at all. They thought they could not draw. But with his magical techniques, Pak Bundhowi made them practise and draw cartoons very easily while counting one, two, one two, three four... Abrakadabra, the cartoon pictures appeared beautifully on their paper. It was very useful to teach Indonesian in the classroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tema ‘Intercultural Immersion’, workshop lain yang menarik adalah Tari Kecak, kite making, memasak (membuat kue kelepon dan sate Bali yang enak), membuat sesaji, dan ketupat.  Mungkin tidak banyak yang tahu kalau setelah menonton Tari Kecak di Puri Ubud, Pak Jes dari sekolah IPEKA Jakarta  menari kecak versi Pak Jes di depan penari kecak yang disambut tepuk tangan dan tawa para penari. Sehari sebelumnya Pak Jes ikut latihan Tari Kecak di Tampaksiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not only talking about culture, Bu Lee from Macksville HS shared her experiences and ideas in ‘Fun ways to motivate students in the calssroom’ on how to make teaching and learning Indonesian attractive in class. Moreover, while visiting IALF Denpasar, the delegates got a lot of ideas to teach Indonesian through games and other fun ways.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apart from excellent program, the delegates immersed in rich cultural experiences, such as watching Ladies’ Kecak Dance, Barong Dance and Wayang Kulit Performance. We were so lucky that we had the golden opportunity to attend the biggest event in Bali since 1979,  Pelebon ( Upacara Ngaben) or royal cremation ceremony of the King of Ubud (Tjokorda Gede Agung Suyasa) and Tjokorda Raka Kerthyasa. Both were public figure. According to  &lt;a href="http://www.kompas.co.id/"&gt;www.kompas.co.id&lt;/a&gt;, this Upacara Ngaben was hosted by 68 banjar and attended by more than 300.000 people. On that occasion, some delegates looked beautiful like the princesses of Bali. Bu Tini helped sewing tailor made Kebayas for most of us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In welcome dinner on Friday night, the delegates were just introducing themselves, however, in farewell dinner the delegates were reluctant to depart. Apart from gaining knowledge and skills, delegates brought home beautiful memories of Pulau Dewata and new friends and colleagues from Indonesia and Australia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1662657456602697606?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1662657456602697606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1662657456602697606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1662657456602697606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1662657456602697606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/07/konferensi-guru-bahasa-indonesia-new.html' title='Konferensi Guru Bahasa Indonesia New South Wales di Bali'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-6890527679905453089</id><published>2008-06-23T10:52:00.002+07:00</published><updated>2009-02-21T20:19:47.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Gaul'/><title type='text'>Dari Indonenglish sampai ke Gaulnesia</title><content type='html'>&lt;em&gt;Perjalanan ke Pondok Indah Mal membuat kami lelah. Macet luar biasa hampir di semua traffic light. Sebenarnya, kemacetan itu tidak terlalu parah jika saja orang tidak seenaknya masuk ke jalur bus way. Untunglah ada handphone, sehingga kita bisa SMS dan main game. Temanku lebih beruntung karena dia membawa laptop, sehingga bisa surfing internet. Saat itulah aku teringat kalau aku harus ke Bank BCA (BCA = Bank Central Asia).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf di atas mungkin lebih “biasa” dibandingkan dengan Bahasa Indonesia berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perjalanan ke Mal Pondok Indah membuat kami lelah. Kemacetan yang luar biasa terjadi hampir di semua perempatan di mana ada lampu pengatur lalu lintas. Sebenarnya, kemacetan itu tidak terlalu parah, jika orang-orang tidak seenaknya menggunakan jalur bis. Untunglah ada telepon genggam, sehingga kita bisa mengirimkan pesan singkat atau memainkan permainan di dalam telepon genggam. Temanku lebih beruntung karena dia membawa laptop, sehingga bisa menjelajahi internet. Saat itulah aku teringat kalau aku harus ke BCA.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang salah dengan kedua paragraf tersebut. Dalam percakapan sehari-hari kita telah terbiasa menggunakan dan membentuk kata sesuai keinginan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan paragraf berikut ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jalan ke PI Mal bikin gue capek. Macetnya tuh amit-amit, di semua traffic light bok! Sebenernya sih, macetnya tuh gak bakal parah-parah amat kalo orang gak maen srobot tuh jalur busway. But lucky deh, gue ada hape, jadi gue bisa smsan dan ngegame. Sohib gue more lucky tuh, soalnya dia bawa laptop. Dia bisa internetan segala. Nah, saat itulah gue inget kalau gue musti ke BCA.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak muda, paragraf paling enak dibaca mungkin adalah paragraf ketiga. Bahasa gaul dicampur dengan sedikit Bahasa Indonesia dan Inggris, jadilah Gaulnesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad-abad yang lalu, bahasa Melayu telah menjadi “lingua franca” di Indonesia. Bahasa Melayu pada waktu itu tidaklah sekaya Bahasa Indonesia sekarang. Sebagai tonggaknya, setelah Sumpah Pemuda 1908, Bahasa Indonesia membentuk dirinya sebagai sebuah bahasa yang memiliki kaidah dan perkembangan pesat seperti sekarang ini. Demikian juga Bahasa Indonesia 5 sampai 10 tahun mendatang, pastilah akan lebih kaya dalam hal kosa kata dan ekspresi budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengguna Bahasa Indonesia, mungkin fenomena tiga paragraf di atas tidak terlalu dipikirkan. Pakai saja kenapa sih? Apa salahnya? Namun, bagi pengajar Bahasa Indonesia, fenomena di atas cukup memusingkan. Di sanalah awal munculnya inkonsistensi kaidah kebahasaan. Ketika siswa diminta membuat pidato dengan gaya bahasa formal, mereka akan kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih pusing lagi: pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing. Nah, terbayangkah bagaimana mengajarkan bahasa yang masih terus tumbuh?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-6890527679905453089?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/6890527679905453089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=6890527679905453089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6890527679905453089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/6890527679905453089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/06/dari-indonenglish-sampai-ke-gaulnesia.html' title='Dari Indonenglish sampai ke Gaulnesia'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2934141752181663061</id><published>2008-06-10T09:29:00.003+07:00</published><updated>2009-02-21T20:20:56.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Gaul'/><title type='text'>Dicari: Cewek Bohai!</title><content type='html'>&lt;u&gt;Survey bahasa gaul Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;“Kalo lu nyari cewek bohai, bisa-bisa lu dimarahin bonyok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas tidak muncul di tahun 90-an, tapi hanya muncul dewasa ini. Ada beberapa kata gaul yang merupakan singkatan, misalnya bonyok (orangtua) adalah singkatan dari bokap (ayah) dan nyokap (ibu). Pemakaian kata “bonyok” rupanya lebih populer daripada “ortu”. Kata “bohai” atau juga ditulis “bohay” merupakan singkatan dari “bodi aduhai” yang menggantikan kata “seksi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melakukan survey kepada murid saya mengenai bahasa gaul ini karena penasaran dan karena ada banyak kata yang saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodenya :&lt;br /&gt;1. Siswa menulis secara spontan kata gaul yang mereka ketahui dalam waktu 5 menit;&lt;br /&gt;2. Setiap kata gaul yang ditulis disertai juga dengan padanan kata dalam bahasa Indonesia baku menurut pemahaman mereka sendiri;&lt;br /&gt;3. Jumlah responden: 63 siswa kelas 12 di IPEKA INTERNATIONAL, Jakarta Barat pada 6 Juni 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah daftar kata yang muncul berdasarkan frekuensi kemunculannya (paling populer di kalangan siswa kelas 12 IPEKA INTERNATIONAL, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonyok (bokap nyokap) = orangtua, nyokap = ibu, bokap =ayah, camen (cacat mental) = aneh, gokil = gila/nekat, lu/loe = kamu, gue/gua = saya, bete = bosan, jayus = tidak lucu, cupu = payah/lugu, bohay/bohai (bodi aduhai) = seksi, boker = buang air besar, golo = gila/konyol/gigolo, gw = saya, dodol = bodoh/kurang pintar, gahar = perkasa/kuat, jomblo = tidak punya pacar, najis = jijik, nyolot = menyebalkan, bokep = porno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan antara dua cewek:&lt;br /&gt;“Lu dah punya bokin blum?”&lt;br /&gt;“Boro-boro, gebetan aja gw blum ada.”&lt;br /&gt;“Ada mongki tajir abis, lu mau gak?”&lt;br /&gt;“Boleh tuh. Nggak nyolot kan orangnya?”&lt;br /&gt;“Ngga banget. Tapi dia gokil abis.”&lt;br /&gt;“Mau, mau...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Anda yang tertarik dengan hasil survey saya, kirim e-mail ke &lt;a href="mailto:s.setyawan@gmail.com"&gt;s.setyawan@gmail.com&lt;/a&gt; saya berikan hasil survey lengkap dengan arti dan frekuensi kemunculannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Gaul Bok!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2934141752181663061?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2934141752181663061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2934141752181663061' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2934141752181663061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2934141752181663061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/06/dicari-cewek-bohai.html' title='Dicari: Cewek Bohai!'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5619578484915505985</id><published>2008-05-24T17:13:00.004+07:00</published><updated>2009-02-21T20:28:37.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai Budaya'/><title type='text'>Berbahasa Adalah Berbudaya dan Berpikir</title><content type='html'>Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses integrasi masyarakat ke suatu tatanan global akan menciptakan suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jaringan komunikasi internasional yang begitu luas, dengan batas-batas yang tidak begitu jelas (Abdullah, 166). Kalimat itu telah menyeret saya ke dalam pikiran tatanan global yang dimaksud sebagai globalisasi bahasa. Izinkan saya menyorot dua fenomena umum yang sering kita lihat. Pertama, penggunaan bahasa Inggris yang terus meluas dan kedua, memudarnya identitas budaya dalam diri anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang berkembang adalah bahwa orang yang dapat memakai bahasa Inggris dengan sangat lancar atau cas-cis-cus, akan dianggap sebagai orang hebat. Pengguna bahasa Indonesia, meskipun dengan gagasan yang lebih cemerlang, kadang kala dianggap lebih inferior atau dipandang rendah. Hal itu seakan-akan merupakan sebuah proses pembangunan identitas budaya “baru”. Sama seperti ketika pembantu rumah tangga pulang kampung saat lebaran dan menggunakan bahasa gaul Jakarta, seperti “ngapain”, “elu”, “gue”, “nggak keren tuh”, status seorang dianggap akan lebih tinggi daripada menggunakan bahasa daerah karena bahasa Jakarta dianggap lebih “hebat”, demikian juga sekarang orang akan “dinilai tinggi” ketika mampu mempresentasikan dirinya dengan cas cis cus bahasa Inggris. Dengan demikian, perlu kita tanyakan dalam diri kita, bukankah itu sebuah awal bagi tercerabutnya seseorang dari komunitas budayanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa bukanlah media netral bagi pembentukan dan transfer nilai, tetapi bahasa adalah pembangun nilai-nilai, makna dan pengetahuan tersebut (Barker, 69). Itulah mengapa bagi bapak Semiotika, Saussure, untuk memahami kebudayaan berarti harus mengeksplorasi bagaimana makna dihasilkan secara simbolis melalui pemakaian bahasa. Dari pemahaman itulah kita tahu bagaimana sulitnya menerjemahkan suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain berdasarkan maknanya karena setiap kata mengandung muatan kebudayaan yang begitu dalam. Itulah juga mengapa kita sering menemukan pemakaian bahasa Inggris di Indonesia lebih sering mencomot kata dan menempatkannya dalam alur pikiran bahasa Indonesia. Mengapa? Karena bahasa adalah makna dan pengetahuan, sebuah sistem berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu juga disinggung oleh Sugiharto (hlm.95) ketika membahas pendapat Rortry. Bahasa adalah apa yang biasa kita sebut “pikiran” dan tak ada cara lain untuk berpikir tentang kenyataan, selain lewat bahasa. Jadi, berbahasa adalah juga kegiatan berbudaya. Berbahasa bukan hanya sekedar ber-gaya, tetapi juga mengekspresikan diri dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas budaya seorang anak memudar ketika seorang orangtua memutuskan untuk menggantikan bahasa ibu anaknya dan menggantinya dengan bahasa asing, bahkan sejak mereka belajar berbicara. Apalagi jika sang orangtua tidak pula fasih berbicara bahasa asing tersebut, gagap budaya akan dirasakan si anak ketika beranjak dewasa. Meskipun saya belum membaca riset tentang hal itu, saya mengamati fenomenanya. Fenomena lain adalah lebih sukanya anak muda berbahasa asing daripada bahasa ibu. Ini adalah concern saya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal meresponi perkembangan globalisasi, pertahanan kebudayaan akan menjadi semakin lemah. Bukankah peradaban akan runtuh bila gagal memunculkan kreativitas dalam menghadapi tantangan? (lih. Putranto, dalam Sutrisno: 71). Oleh karena itu, identitas budaya yang kuat justru dibutuhkan di tengah-tengah globalisasi informasi ini karena batas-batas budaya itu memudar dan orang yang tidak memiliki akar akan termakan oleh arus budaya yang menyeretnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menurut hemat saya, generasi muda sekarang perlu menempatkan dirinya dalam posisi budayanya masing-masing. Dengan budayanya, kelokalannya, komunitasnya, ke-nasional-annya, dan keseluruhan hidupnya di sini dan kini, akan membangun sebuah dasar yang teguh baginya kelak ketika bergaul dengan orang lain dari seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.&lt;br /&gt;Barker, Chris. 2000. Cultural Studies: Teori dan Praktik, diterjemahkan oleh Nurhadi, cetakan pertama. Kreasi Wacana: Yogyakarta.&lt;br /&gt;Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto (ed). 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Kanisius: Yogyakarta.&lt;br /&gt;Sugiharto, I Bambang.1996. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Kanisius: Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5619578484915505985?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5619578484915505985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5619578484915505985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5619578484915505985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5619578484915505985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/05/berbahasa-adalah-berbudaya-dan-berpikir.html' title='Berbahasa Adalah Berbudaya dan Berpikir'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8816816726161465348</id><published>2008-05-22T14:20:00.003+07:00</published><updated>2009-02-21T20:24:02.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan untuk Kehidupan</title><content type='html'>Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hirsch (Cultural Literacy, 1989:110) menulis bahwa sekolah adalah satu-satunya institusi paling penting untuk melatih dan menyiapkan anak-anak untuk berperan lebih luas dalam kehidupan nasional. Sayangnya, pendidikan kita masih jauh dari apa yang dikatakan Hirsch. Kita masih berkutat pada masalah administrasi, sertifikasi, dan hal-hal legal lain di atas kertas.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kualitas pendidikan kita dinilai dari angka-angka APBN sampai dengan angka-angka kelulusan. Praktik-praktik jalan pintas, dari bimbingan belajar agar sukses UN sampai dengan hal yang negatif seperti berbuat curang, tidak ada habisnya dilakukan oleh siswa. Sementara itu, kasus pemalsuan data sertifikasi oleh para guru, sampai pembocoran soal ujian, berulang kali kita baca di media massa. Kesemuanya itu merupakan sebagian dari banyaknya persoalan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotornya jalanan karena orang seenaknya membuang sampah, aksi vandalisme, semrawutnya orang berlalu-lintas, dan budaya suap untuk membuat KTP atau SIM seperti tidak ada kaitannya sama sekali dengan kurikulum atau sistem pendidikan kita. Maka, untuk meningkatkan mutu pendidikan, jalan pintasnya dikira semudah meningkatkan nilai kelulusan atau anggaran APBN. Seakan-akan, pendidikan di dalam kelas terpisah sama sekali dari realita kehidupan di jalanan. Kita berhenti pada “tahu” saja, bukan pada tahap aplikasi dan manivestasi pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya apa yang kita butuhkan sekarang ini mirip dengan apa yang dikemukakan Hirsch. Hirsch (hlm.126) menyatakan bahwa yang dibutuhkan adalah pendidikan untuk perubahan, bukan untuk menghasilkan kemampuan-kemampuan untuk bekerja secara statis semata-mata. Agaknya tidak ada pilihan lain, untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia, mau tidak mau, pendidikan kita harus menyentuh kebutuhan mendasar kehidupan kita sebagai Indonesia yang multikultur dan kompleks ini. Salah satu caranya adalah dengan masuknya kurikulum yang relevan dengan kehidupan itu sendiri agar terjadi perubahan nyata dalam hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah sudah seharusnya menyiapkan siswa-siswinya untuk hidup bermasyarakat, mengenal kebudayaan nasional, hidup berlalu-lintas dan menjaga lingkungan hidupnya. Hal itu telah seharusnya diatur juga oleh negara. Jadi, selain kesejahteraan guru, kualitas pendidikan itu semestinya juga dilihat dari outcomes yang dihasilkan, yaitu bagaimana generasi muda kita itu dapat hidup bermartabat dalam bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masuknya peran negara dalam mengatur masyarakatnya melalui sekolah semacam itu dapat diartikan secara salah sebagai sebuah “instruksi”. Kita masih ingat semasa Orde Baru, kesan instruksi, keseragaman, indoktrinasi, atau apapun istilahnya, ditengarai muncul dalam bentuknya yang sistematis dalam pelajaran moral di sekolah dan penataran-penataran di perguruan tinggi waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya di Indonesia, hal serupa terjadi di Italia era 20-an, terekam dari tulisan-tulisan Gramsci (1971) bahwa pendidikan pada waktu itu bukanlah “education” melainkan “instruction”. Sekolah kemudian menjadi alat politik untuk melatih masyarakat tertentu sesuai dengan kepentingan sekelompok orang atau negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa, setelah reformasi terjadi di Indonesia, segala hal yang berbau pelajaran moral dan penataran dari pemerintah untuk dilakukan di sekolah atau perguruan tinggi, dengan serta merta ditolak oleh institusi pendidikan. Terkesan, dunia pendidikan trauma atau anti terhadap peran negara dalam penentuan substansinya atau kurikulumnya karena mungkin pada waktu itu kesan indoktrinasi dan “instruksi” itu begitu kuatnya. Selain itu, mungkin juga karena sangat jauh bedanya antara apa yang diajarkan di kelas dengan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perlu dibuat sebuah garis tegas antara mengajarkan nilai-nilai berkehidupan sosial dengan memaksakan kepentingan politik praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, sekarang ini hidup kita mengalami banyak tantangan. Tantangan global yang paling nyata adalah bagaimana kita bisa bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura atau negara Asia kuat seperti China dan India. Sementara itu, tantangan dari dalam diri kita sendiri dalam berkehidupan sehari-hari perlu juga mendapat perhatian, seperti bagaimana mengelola lingkungan hidup kita, memilah sampah sampai menjaga hutan, mempertahankan identitas kebudayaan kita, mengatur kota kita, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas pendidikan jangan lagi dilihat dari angka-angka tinggi atau prestasi kompetisi saja. Hal itu hanya dicapai oleh sedikit siswa dari antara jutaan siswa. Kebutuhan kita adalah memberdayakan generasi muda kita pada umumnya, sehingga tidak ada lagi cerita tentang siswa yang belajar Bahasa Inggris selama enam tahun, yaitu sejak kelas satu SMP sampai tiga SMA, tetapi di perguruan tinggi tidak mampu lancar berbicara Bahasa Inggris, apalagi menulis esai dalam Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya ketika kita membicarakan soal kualitas pendidikan, kita memikirkan mengenai bagaimanakah sekolah berfungsi menyiapkan generasi muda itu untuk hidup di tengah masyarakat secara nyata. Selayaknya pelajaran di kelas mampu membawa perubahan di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gramsci, Antonio. 1971. Selection From the Prison Notebooks. Translated by Quintin Hoare and Geoffrey Smith, first edition. International Publishers: New York.&lt;br /&gt;Hirsch, E.D. 1989. Cultural Literacy. Batam Books: Moorebank.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8816816726161465348?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8816816726161465348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8816816726161465348' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8816816726161465348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8816816726161465348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/05/pendidikan-untuk-kehidupan.html' title='Pendidikan untuk Kehidupan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-8942423571733602766</id><published>2008-05-13T09:38:00.004+07:00</published><updated>2009-02-12T12:07:00.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Mawar Layu</title><content type='html'>Cerpen Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga mawar itu tak lagi merah. Ia telah layu. Telah kusimpan selama tiga tahun, empat belas Februari tiga tahun lalu. Bukan keputusannya untuk menjadi layu. Alam telah menentukan begitu. Dan aku tahu, sebenarnya ia tak ingin layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, aku mencintaimu,” kata suamiku.&lt;br /&gt;Siapa tidak bahagia jika suami mengatakan kalimat cinta di ulang tahun pernikahan kesepuluh?&lt;br /&gt;“Jadi kita ke Bali?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku tidak menjawab, ia memelukku, menitikkan air mata secara diam-diam. Air mata itu mengalir di pipinya, sebagian berhenti di pundakku. Perasaanku berkata, ia ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Setelah hatinya teguh, ia berkata, “Apakah kamu marah kalau kita batal ke Bali?”&lt;br /&gt;“Tidak, Say. Ada sesuatu?”&lt;br /&gt;“Aku harus ke Jogja.”&lt;br /&gt;“Di ulang tahun pernikahan kita?”&lt;br /&gt;Suamiku menarik nafas panjang, itu yang dilakukannya sebagai kebiasaan kalau dia takut, tersudut, ada hal yang tidak diharapkan terjadi dan kalau hal-hal buruk menimpanya. Kali ini aku menafsirkannya sebagai hal yang tidak dia harapkan. Jadi, aku maklum.&lt;br /&gt;“Kamu boleh ikut kalau kamu mau,” katanya sambil menatapku, lalu dia menatap mawar layu di tembok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikuti tatapan matanya, kemudian aku berkata kepadanya, “Aku ikut.”&lt;br /&gt;Ia menarik nafas panjangnya lagi.&lt;br /&gt;“Tapi Say, tidak akan ada yang akan menemanimu.”&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa. Setidaknya aku bisa menemanimu waktu malam.”&lt;br /&gt;Lagi-lagi dia menarik nafas panjang . Akhirnya dia mengiyakan aku untuk ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari pertama di Jogja aku minta diantar ke Malioboro.&lt;br /&gt;“Aku drop kamu, lalu aku rapat, oke?”&lt;br /&gt;“Oke.”&lt;br /&gt;“Apa perlu dijemput?”&lt;br /&gt;“No. Nggak usah,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menurunkanku di Malioboro, mobil langsung meninggalkanku. Ketika itulah kusadari bahwa aku tidak membawa uang sepeserpun. Dompetku tertinggal di hotel. Aku menyesal mengapa tidak menginap di hotel sekitar Malioboro saja, sehingga kalau hal ini terjadi, aku tidak perlu repot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku harus kembali ke hotel sekarang juga. Sebuah taksi yang kebetulan lewat, kuhentikan, ia mengantarku hingga hotel. Di kamar hotel aku terkejut melihat kamar sedikit berantakan. Cleaning service belum membersihkan kamar ini, mungkin karena tanda di depan kamar lupa kami cabut. Hingga saat ini masih &lt;em&gt;do not disturb&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Agaknya suamiku juga melupakan sesuatu setelah mengantarku tadi. Ah, benarkah kami sama-sama meninggalkan sesuatu? Aku tersenyum sendiri, dasar jodoh, agaknya kami mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menuju taksi yang menungguku ketika aku melihat sekelebat bayangan suamiku menyeberangi jalan, ia sedang menuju sebuah Rumah Sakit di depan hotel.&lt;br /&gt;Ketika yakin bahwa itu suamiku, aku meminta sopir berhenti dan kubayar dia. Kutunda keinginan belanjaku dan memilih untuk menuruti naluri wanitaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikutinya dari jauh. Kulihat ada seorang ibu yang menyalaminya sambil mengusap air mata dan memeluk suamiku. Aku tidak mengenalnya dan belum pernah melihatnya. Mengapa dia memeluk suamiku? Siapa dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin penasaran, aku mengikutinya. Mereka berbelok ke bagian inap ibu dan anak. Ada sesuatu menyusup ke dalam hatiku. Bau minyak telon, mengingatkanku pada bau bayi. Tujuh tahun pernikahan tanpa kehadiran seorang anak membuat bau itu menusuk-nusuk perasaanku. Tapi, juga membuai khayalan akan kehadiran seorang anak. Itu yang selalu kubayangkan, kehadiran seorang darah daging kami sendiri untuk memateraikan cinta kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat ketika suamiku menguatkanku waktu itu, agar aku tidak kecewa dan marah dengan Tuhanku. Suami istri sudahlah sempurna, Tuhan membentuk keluarga Adam dan Eve. Anak adalah tambahan. Aku mengangguk, tapi hatiku menangisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini di lorong rumah sakit ini, aku diingatkan pada masa-masa penantian dan keguguran kandungan beberapa tahun lalu. Menyakitkan, tapi menjadi tonggak kekuatan cinta kami. Suamiku sangat setia menemaniku. Aku keguguran di hari ulang tahun pernikahan kami, empat belas Februari. Waktu itulah dia memberikan mawar merah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin kehilangan jejak suamiku. Mataku mengawasinya dengan seksama. Di ujung lorong sana, ada seorang pria yang menyalaminya dan memeluknya. Tapi, kali ini lelaki itu tertawa bahagia.&lt;br /&gt;Aku semakin penasaran. Lalu aku beranikan diri untuk mendekati kamar itu.&lt;br /&gt;“Cantik sekali, seperti ibunya,” terdengar suara lelaki dari dalam.&lt;br /&gt;“Ya,” suara suamiku terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa suamiku tidak menghubungiku kalau ada temannya melahirkan? Kalau toh berbelanjanya nanti sore, aku tidak akan keberatan. Bahkan aku mau memilihkan kado untuknya. Atau, setidaknya aku masuk dalam lingkaran teman-teman suamiku.&lt;br /&gt;Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Bagaimana jika suamiku tahu aku ada di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah sapaan seseorang tiba-tiba mengejutkanku.&lt;br /&gt;“Chaterine? Kamu di sini?”&lt;br /&gt;“Bobby?” melihat kehadiran sahabat suamiku di situ, sungguh membuatku merasa gundah.&lt;br /&gt;“Suamimu sudah bercerita tentang apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;“Bercerita apa?” kukira ekspresi mukaku tidak dapat menyembunyikan ketidaktahuanku.&lt;br /&gt;“Dia tidak bercerita?”&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;“Bahkan dia tidak tahu kalau aku ada di sini,” kataku setengah berbisik, “Aku harus pergi.”&lt;br /&gt;Aku melangkahkan kakiku diiringi pandangan mata Bobby. Tapi, rupanya Bobby segera masuk ke ruangan dan memberi tahu suamiku, karena itu aku mendengar ada suara memanggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Chaterine!” teriak suamiku.&lt;br /&gt;Aku menghentikan langkahku. Suamiku menuju ke arahku dan aku bingung bagaimana harus bersikap.&lt;br /&gt;Aku membalikkan badan dan berkata, “Aku ketinggalan dompetku. Jadi, aku melihatmu...” tapi belum selesai kalimatku itu, dia telah berada di depanku dan tiba-tiba memelukku. Lagi-lagi air matanya meleleh dalam diam. Air mata itu untuk dirinya sendiri, aku merasakan sebagian tetesannya membasahi pundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin mengatakan sesuatu,” katanya.&lt;br /&gt;“Katakan, Say.”&lt;br /&gt;Tangannya menggandeng tanganku. Dingin dan basah.&lt;br /&gt;Taman dan bunga-bunga, bau bayi, suara dentingan mainan anak-anak, dan air mancur di taman menjadi saksiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembilan bulan lalu waktu aku ke Eropa, aku melakukan kesalahan,” kata suamiku memulai pembicaraan, “Aku melakukan kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan oleh lelaki manapun, termasuk diriku. Seharusnya aku tidak boleh pergi bersama sekretarisku. Seharusnya aku pergi bersamamu,” dia menarik nafas panjangnya.&lt;br /&gt;Sekarang aku tahu, nafas panjang itu adalah nafas beban. Beban berat yang selama ini tersembunyi di balik air matanya.&lt;br /&gt;“Aku hanya melakukannya sekali saja. Tapi, itu kesalahan. Aku tahu, itu salahku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, selama ini dia menarik nafas panjangnya dan menyimpan air matanya. Dan air mata itu adalah karena ini. Ia telah menghamili seseorang?&lt;br /&gt;“Jadi, kamu ke Jogja untuk melihat anakmu,” kataku lirih menahan gejolak perasaanku.&lt;br /&gt;Dia mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Air mataku meleleh, seperti lilin meleleh karena api. Tangannya menggenggam tanganku, tapi ingin rasanya kucampakkan.&lt;br /&gt;Pria laknat. Teganya kamu mengkhianatiku, tidur dengan sekretarismu. Sekali katamu? Tidak mungkin. Tidak mungkin kamu melakukannya hanya sekali, kamu di sana selama lima belas hari.&lt;br /&gt;Aku ingin mencampakkannya, membuangnya, menguburnya hidup-hidup, menginjaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu saat ini akan terjadi. Aku telah merasa terhukum beberapa bulan ini. Aku rela kaucerai, tapi aku mencintaimu. Aku ingin bersamamu hingga kita tua. Itu sebuah kecelakaan yang tidak kuharapkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecelakaan? Pria gombal. Semua pria di seluruh dunia ini gombal.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja semua bau itu, semua suara itu, dan semua bunga yang kulihat membuatku merasa muak. Dunia ini telah memusuhiku.&lt;br /&gt;Suamiku menatapku. Kini air matanya dibagikan juga untukku. Dia akan memelukku, tapi aku menampiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pulang,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Jakarta, mawar layu itu kutatap begitu lama. Dia menjadi saksi dan bukti cinta kami. Perasaan hatiku mulai tenang dan berubah. Bagaimana kalau perempuan itu merayunya. Mungkin suamiku benar, perempuan itu merayu dan mereka melakukan sekali saja lalu hamil? Bagaimana kalau perempuan itu memang sengaja menjebak suamiku? Bukankah dia tampan, kaya, dan berkedudukan? Bukankah hatinya begitu lembut dan baik? Ya, perempuan itu telah merebut suamiku dengan cara memberinya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak boleh kalah. Aku ingin menjadikan anak itu sebagai anakku. Akan kurebut dia dari tangan ibunya. Aku membulatkan tekad. Mereka berdua harus menjadi milikku, akan kucampakkan perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kuhubungi segera suamiku, “Halo, Say. Aku ingin bicara,” kataku di telepon, “Kalau anak itu kita bawa ke Jakarta dan menjadi anak kita, apa kau keberatan?”&lt;br /&gt;“Kamu sungguh-sungguh?” katanya dengan nada keheranan bercampur kegembiraan.&lt;br /&gt;“Ya, pulanglah ke Jakarta, aku akan menyiapkan kamar bayi untuk kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian suamiku mengabarkan kalau dirinya sudah berada di pesawat, ia membawa seorang bayi. Anaknya, bukan anakku, tapi akan menjadi anak kami.&lt;br /&gt;Dia mengatakan kepada ibu bayi itu bahwa dia boleh melihatnya kapanpun, meskipun sang ibu menangis dan menolak, tetap saja suamiku meninggalkannya dan mengisi tiga ratus juta di rekening perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang ingin kujadikan sebagai anak kami akan tiba. Perasaanku bercampur antara sedih, marah, cinta, benci, dan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam telah berlalu dan telepon bernyanyi. Nyanyian telepon itulah yang kutunggu dari tadi. Tapi, yang kulihat adalah nama Bobby yang muncul di sana.&lt;br /&gt;“Kamu lihat tivi?”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada pesawat jatuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memindah tivi ke chanel berita, menyaksikan sebuah pesawat yang telah habis terbakar. Lalu presenter manampilkan daftar nama korban. Aku melihat nama suamiku di sana.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja semua bayang-bayang memudar, melayang, menguap. Tak ada lagi suara, tak ada lagi rasa. Semua begitu gelap. Dan di dalam kegelapan yang dalam itu aku terdiam.&lt;br /&gt;Kesadaranku terjaga ketika semua prosesi pemakaman telah usai. Ketika tanah telah memeluk kekasihku di dalamnya, merebutnya dariku, kuletakkan mawar layu itu di atasnya. (Sigit di Jakarta, Januari 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya Cerpen ini mau kukirimkan ke Majalah atau Koran, tapi bingung, mau dikirim ke mana. Ya Sudah... terbitkan saja di sini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-8942423571733602766?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/8942423571733602766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=8942423571733602766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8942423571733602766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/8942423571733602766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/05/mawar-layu.html' title='Mawar Layu'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5263993295951500941</id><published>2008-05-07T13:39:00.002+07:00</published><updated>2008-05-07T13:43:12.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diari Mini'/><title type='text'>Diari Jakarta</title><content type='html'>Diari Mini Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 16 April 2008&lt;br /&gt;Klakson berbunyi, orang-orang marah. Waktu itu aku berada di dekat Slipi Jaya. Eh, ternyata ada seorang bapak pengendara sepeda motor jatuh di depan sebuah taksi. Bapak itu membawa bawaan berat di motornya, seperti karung-karung.&lt;br /&gt;Satu orang yang membantunya berdiri, yaitu seorang petugas pengatur lalu lintas (DLLAJR). Nah, mobil yang lain meraung-raung dengan suara nyaring klaksonnya berteriak, seolah bapak yang jatuh itu melakukan kejahatan.&lt;br /&gt;Dasar kota besar.&lt;br /&gt;Tenggang rasa sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 April 2008&lt;br /&gt;Anakku dirawat di rumah sakit karena demam berdarah Dengue. Ini untuk kedua kalinya, setelah bulan lalu dirawat karena penyakit yang sama. Waktu masuk, trombosit 144 ribu, lalu kemarin 128 ribu. Ya Tuhan, turun lagi?&lt;br /&gt;Nah, ketika dokter datang, dia tanya, sekarang berapa? “50 Dok,” katanya. Saya terkejut, lemas. Untunglah ada seorang dokter junior yang sedang belajar untuk praktik (KOAS) bilang, “150 dok”. Gawat! 150 ditulis 50. Gawat dan bahaya sekali...&lt;br /&gt;Akhirnya kutulis di lembar evaluasi Rumah Sakit: lain kali hati-hati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Mei 2008&lt;br /&gt;Hujan.&lt;br /&gt;Hujan?&lt;br /&gt;Ya Hujan.&lt;br /&gt;Di bualan Mei?&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Global warming?&lt;br /&gt;Entahlah.&lt;br /&gt;Waktu saya kecil, kakek saya bilang kalau April itu singkatan dari Ana udan, tapi Pral-Pril (Ada hujan tapi kadang ada kadang tidak). Jadi, Mei biasanya tidak hujan. Namun, Mei sekarang seperti November, dan Februari seperti Desember.&lt;br /&gt;Parahnya lagi, di Jakarta sampah memenuhi selokan dan sungai. Itu membuat banyak sumbatan dan banjir. Kalau tidak banjir, sungai akan bau sampah nan busuk.&lt;br /&gt;2 Februari lalu saya kebanjiran. Komputer saya terendam air banjir. Rupanya, itu baru permulaan penderitaan. Selanjutnya: tempat tidur harus diganti, komputer tidak lagi bisa dipakai, bau busuk dan jamur tumbuh bagai benalu di mana-mana...&lt;br /&gt;Sampah. Nyampah. Sungai dan Selokan. Bukan cuma sampah domestik (rumah tangga) tapi juga sampah kata-kata. Di jalan sampai di selokan.&lt;br /&gt;Banyak ruang untuk berdosa. Sedikit ruang untuk berdoa.&lt;br /&gt;Tapi, kepada siapa?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5263993295951500941?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5263993295951500941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5263993295951500941' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5263993295951500941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5263993295951500941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/05/diari-jakarta.html' title='Diari Jakarta'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2666522550256667446</id><published>2008-04-29T15:01:00.003+07:00</published><updated>2008-04-29T15:38:34.629+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Pak Guru Basuki</title><content type='html'>Cerpen Sigit Setyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki menyeka keringat dingin di keningnya. Wajah kepala sekolah menyiratkan kekecewaan yang sangat kepadanya dan suaranya yang berat menunjukkan kemurkaan. Rencana Pengajaran Mingguan belum diserahkan oleh Basuki sejak enam bulan lalu, kisi-kisi soal untuk ujian belum juga sampai di meja kepala sekolah, formulir untuk sertifikasi guru pun belum diisi penuh, sementara minggu depan tim akreditasi departemen pendidikan akan datang. Kepala sekolah geram, kesal, dan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah ini bisa tutup gara-gara kamu, Bas,” kata kepala sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di ruangan kepala sekolah mencekam. Basuki yang tadi pagi begitu bersemangat, tiba-tiba lunglai. Sekujur tubuhnya lemas membayangkan dirinya akan segera dipecat. Padahal, tahun lalu dia sempat dicalonkan sebagai guru teladan tingkat provinsi.&lt;br /&gt;Itu semua gara-gara seorang siswa bernama Tumiji yang tiga bulan lalu berkelahi. Tumiji memukul Baharudin di dalam kelas, Baharudin membalas sehingga terjadi baku hantam. Baik Tumiji maupun Baharudin sama-sama berdarah-darah. Sebagai seorang wali kelas, Basuki memiliki kewajiban untuk tahu duduk perkaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumiji, apa yang telah kamu lakukan?” tanya Basuki di ruang guru. Sementara Baharudin masih dirawat di UKS.&lt;br /&gt;“Baharudin mengatai saya banci, Pak.”&lt;br /&gt;“Cuma karena itu kamu naik pitam?”&lt;br /&gt;“Bukan cuma itu, Pak. Coba saja bayangkan, sejak saya kelas satu di SMA ini, saya sering diledekin banci, banci, gitu Pak. Sebagai seorang lelaki, apa saya nggak marah, Pak. Apalagi Baharudin mengatai itu di depan cewek-cewek, apa saya tidak naik pitam?”&lt;br /&gt;“Saya tahu, saya pun kalau dikatakan banci akan marah, tapi saya tidak akan memukul,” kata Basuki dengan nada tinggi, meskipun di dalam hatinya dia sendiri menyangsikan pernyataannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumiji diam saja. Siswa yang baru saja meraih juara tiga di kejuaraan Matematika tingkat kabupaten ini tidak mampu menyembunyikan kegeramannya.&lt;br /&gt;Basuki dengan kesal kemudian berkata, “Sebagai wali kelasmu, saya sangat kecewa dengan perbuatanmu yang tidak mencerminkan seorang intelektual yang seharusnya berpikir sebelum bertindak. Sebagai guru Matematikamu, saya lebih kecewa lagi, karena itu mencoreng nama sekolah kita. Baru bulan lalu kamu menjadi juara tiga tingkat kabupaten, masa sekarang harus diskorsing gara-gara berkelahi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia mengatai saya banci, Pak. Saya tidak terima,” kata Tumiji.&lt;br /&gt;“Sudah-sudah. Saya tidak mau tahu alasanmu, siapa yang lebih dahulu memukul, dia yang salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumiji kecewa, tapi apa daya, dia harus menerima konsekuensi skorsing selama seminggu dari sekolah. Tumiji keluar dari ruang guru dengan bersungut-sungut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Tumiji keluar dari ruang guru, Bu Kristina menghampiri Basuki dan bertanya, “Pak, jadi bagaimana dengan lomba Olimpiade Matematika tingkat nasional? Kalau Tumiji diskorsing, apa sekolah kita tidak akan gagal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki benar-benar lupa akan kompetisi bergengsi itu. Tapi, kepala sekolah telah memutuskan skorsing selama satu minggu. Keputusan itu tidak akan bisa dicabut begitu saja karena menyangkut kredibilitas sekolah dan kewibawaan kepala sekolah. Namun, di sisi lain, hanya Tumijilah satu-satunya siswa yang mampu menghadapi kompetisi bergengsi semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan datang ke rumahnya setiap hari untuk memberikan pelajaran khusus. Sepertinya hanya itu caranya agar kita bisa mendapat nomer di olimpiade nanti,” kata Basuki.&lt;br /&gt;“Jadi, nggak ngelesin dong,” kata Kristina.&lt;br /&gt;“Apa boleh buat,” kata Basuki sambil membayangkan bahwa dirinya akan kehilangan penghasilan tambahan dari les matematikanya dan mungkin juga dari perkerjaan sampingan sebagai tukang ojek.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sehari setelah Tumiji diskors oleh sekolah, ayah Tumiji datang ke sekolah. Dengan menggebrak meja, ayah Tumiji yang itu berkata dengan suara lantang sambil menunjuk-nunjuk muka Basuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulan lalu anakku sudah mengharumkan nama sekolah ini. Sekolah miskin saja belagu kalian ini, cuma berantem anak muda kan biasa. Apa sih istimewanya. Semua orang berkelahi, saya hampir tiap hari berkelahi, apa salahnya berkelahi? Itu kan ekspresi lelaki, apa kamu tidak tahu?” katanya sambil menunjuk hidung Basuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Basuki sempat membela dirinya, ayah Tumiji kembali memuntahkan kata-katanya dan memukul meja lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau keputusan skors tidak dicabut, anak saya yang akan saya cabut dari sekolah ini. Saya juga tidak akan membayar uang sekolah anak saya yang tujuh bulan belum saya bayar itu. Sekolah ini memang gila, anak sudah mengharumkan nama sekolah masa tidak dikasih keringanan biaya?! Katanya minggu depan anak saya akan dikirim untuk kompetisi matematika, mana kontribusi sekolah? Nol besar! Saya terlambat mbayar SPP saja ditagih-tagih kayak saya ini punya hutang jutaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Basuki akan mengatakan sesuatu ketika ayah Tumiji mencengkeram krah Basuki, “Kalau sampai anakku tidak lulus atau nilainya jeblok awas kamu.”&lt;br /&gt;Para guru di ruang guru terkesima dan kaku seperti patung. Kepala sekolah tidak ada di tempat, wakil kepala sekolah bersembunyi karena takut berhadapan dengan ayah Tumiji, hanya Basuki yang berani menerima dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Tumiji melangkah keluar dari ruang guru, membanting pintu hingga kaca pintu itu retak.&lt;br /&gt;Meskipun pria bertato itu mengancam Basuki, tapi Basuki tidak gentar. Sore harinya, Basuki menemui Tumiji di pasar. Mengajaknya belajar Matematika di rumahnya, meskipun Tumiji menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mau,” katanya.&lt;br /&gt;“Ayolah Ji, ini demi masa depan kamu.”&lt;br /&gt;“Yang salah kan Bahar, Pak. Masa saya dihukum seminggu, sedangkan Bahar cuma dihukum tiga hari. Nggak adil itu. Padahal yang salah kan Bahar.”&lt;br /&gt;“Yang salah bukan cuma Baharudin. Kamu juga salah. Dalam kasus ini, tidak ada yang benar, yang ada adalah kalian berdua salah. Kamu salah, Baharudin salah. Jadi, semua harus kena hukuman.”&lt;br /&gt;“Tapi, mengapa Bahar cuma tiga hari sedangkan saya seminggu?”&lt;br /&gt;“Karena kamu yang memukul lebih dahulu.”&lt;br /&gt;“Tapi yang mengatai saya banci lebih dulu kan Bahar, saya cuma bereaksi!”&lt;br /&gt;“Kamu dihukum karena kamu bereaksi dengan tidak benar.”&lt;br /&gt;“Guru selalu benar,” kata Tumiji sambil ngeloyor pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki mengejar Tumiji dan memegang tangannya dengan kuat.&lt;br /&gt;“Dengarkan saya. Bukan sebagai guru, tapi sebagai seseorang yang ingin melihat kamu sukses. Lihat mata saya, saya bersungguh-sungguh. Ji, kita ini hidup di lingkungan miskin, sekolah kita juga miskin, saya harus narik ojek sepulang sekolah untuk bisa hidup, sama seperti ayahmu harus di pasar setiap hari. Kita menjadi orang yang seperti ini karena keadaan. Di negeri ini tidak banyak kesempatan untuk orang-orang seperti kita. Lihat orang-orang sekelilingmu, semua pasrah dengan keadaan. Patah arang ketika melakukan kesalahan, menyalahkan orang lain. Putus asa ketika mendapat ketidakadilan. Tapi kamu ini Tumiji. Saya sudah kenal kamu tiga tahun, Ji. Kamu seperti anakku. Aku melihat potensi di dalam dirimu yang istimewa. Kamu pantang menyerah. Sekarang kesempatan ada di depanmu, apa kamu akan sia-siakan? Kamu bisa juara satu di olimpiade Matematika, apa kamu tidak akan bangga? Juara tiga atau harapan tiga Ji, bukan juara satu itu juga sudah istimewa. Nama kamu akan dicetak di koran nasional dan orang-orang akan mengenal kamu, terlebih kamu akan menyelamatkan sekolah kita yang terancam tutup. Kamu berbeda, Ji. Kamu istimewa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancaran mata Tumiji meredup.&lt;br /&gt;“Baiklah, Pak. Tapi, sebaiknya di rumah Bapak,”&lt;br /&gt;“Bagus,” tanpa sadar Basuki memeluk Tumiji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Basuki memberikan pelajaran khusus untuk Tumiji tanpa sepengetahuan kepala sekolah. Basuki bahkan membelikan buku dan alat tulis dari gajinya yang minim itu. Istrinya menggerutu karena harus mencari tambahan hutang kepada tetangganya karena otomatis selama seminggu itu Basuki tidak narik ojek dan tidak dibayar untuk memberikan les Matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di sekolah, Basuki menghabiskan waktu untuk membuat alat peraga. Sebelum dia datang ke sekolah ini, anak-anak sangat takut pelajaran matematika. Matematika adalah momok. Basuki membawa perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak menyukai Basuki. Dia mengajarkan menghitung tinggi bangunan dan pohon dengan teknik yang menyenangkan. Energinya habis untuk mencari teknik-teknik yang tidak biasa di tengah para siswa yang memang “tidak biasa” itu. Sementara para guru lain berada di ruangan untuk mengisi berbagai form untuk persiapan akreditasi mulai dari rencana pengajaran mingguan, jurnal harian, sampai dengan formulir sertifikasi. Hampir semua guru berkonsentrasi penuh pada akreditasi dan keinginan untuk sertifikasi, kecuali Basuki.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Jadi, Bas. Saya juga sangsi kamu akan lulus sertifikasi guru. Kamu tahu kan, tiga kali gagal, maka kamu tidak akan diperbolehkan mengajar.”&lt;br /&gt;Kepala sekolah menatap Basuki dengan serius dan melanjutkan, “Sekolah kita ini bukan sekolah favorit. Sekolah-sekolah favorit dengan guru-guru bagus pun kabarnya kesulitan mencari muris, apalagi kita. Lagi pula program sertifikasi itu antri, Bas. Kalau yang besok ini kamu tidak bisa ikut, lalu kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, saya juga sedang memikirkan profesi lain.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Sepertinya lebih baik saya narik ojek saja.”&lt;br /&gt;“Sayang Bas, kamu ini berbakat. Lihatlah, tiga tahun ini kamu pegang kelas dua belas dan matematikanya bagus. Kamu hebat sebagai guru.”&lt;br /&gt;“Tapi kalau saya tidak lulus ujian sertifikasi?”&lt;br /&gt;“Yang penting, sekolah kita diakreditasi dulu. Jadi, saya minta kamu melengkapi instrumen pembelajaran yang seharusnya sudah kamu serahkan beberapa minggu lalu itu.”&lt;br /&gt;“Pak, besok saya harus mengantar Tumiji ke lomba tingkat nasional. Mungkin makan waktu tiga hari, Pak. Sementara, kalau harus menyerahkan semua formulir itu, saya harus lembur selama seminggu. Tidak ada waktu, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah terpekur.&lt;br /&gt;“Jadi, bagaimana Pak?”&lt;br /&gt;“Menurutmu, Bas. Bagaimana?” kepala sekolah balik bertanya.&lt;br /&gt;“Saya tetap akan mendampingi Tumiji, Pak. Seandainya sekolah mau memecat saya, mohon setelah Tumiji menyelesaikan olimpiade Matematikanya. Atau, jika tidak keberatan, pecat saya setelah UN tahun ini.”&lt;br /&gt;“Mengapa setelah UN?”&lt;br /&gt;“Karena Tanti dan Denok sepertinya tidak akan lulus matematikanya. Saya khawatir mereka berdua gagal di UN, nilainya sangat rendah. Saya ingin mereka lulus dulu, baru saya bisa ikhlas jika saya dipecat.”&lt;br /&gt;Kepala sekolah diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bas, bagaimana kalau yayasan memecat kamu?”&lt;br /&gt;“Itu tadi permintaan saya, Pak.”&lt;br /&gt;Kepala sekolah yang tadi marah, kini melunak. Dijabatnya erat tangan Basuki, dia tidak bisa lagi berbicara atau marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seperti biasanya, sore itu Basuki sudah mangkal di pos ojek. Di atas sepeda motornya Basuki merenung. Dia memikirkan masa depan anak-anak didiknya. Berkelebat di bayangan, masa depan anaknya yang masih bayi dan masa depan dirinya sendiri. Silih berganti, bayangan itu mengganggu perasaan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lebih baik narik ojek saja sehari penuh, berjuang untuk keluarganya sendiri, untuk anaknya sendiri. Tetapi, bayang-bayang anak-anak di kelas tak mampu dilupakannya. Dia ingin bertahan jadi guru meski hanya beberapa minggu lagi. Dia ingin menjadi guru bagi Tumiji, Tanti, Denok, dan murid-murid lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, pak guru. Narik Pak?” suara Bu RT mengejutkan lamunannya, “Antar saya ke pasar, ya.”&lt;br /&gt;Basuki tersenyum, “Mari, Bu.”&lt;br /&gt;“Ramai, Pak?”&lt;br /&gt;“Lumayan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki menghidupkan motornya. Kali ini dia mengantar Bu RT menuju pasar, tapi besok pagi dia akan mengantar Tumuji menuju keberhasilan. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2666522550256667446?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2666522550256667446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2666522550256667446' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2666522550256667446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2666522550256667446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/04/pak-guru-basuki.html' title='Pak Guru Basuki'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-3557338647304832743</id><published>2008-02-20T12:40:00.003+07:00</published><updated>2009-02-21T20:27:41.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>UN, Apa Boleh Buat?</title><content type='html'>Ujian Nasional SD tak terelakkan, demikian pula dengan penambahan mata pelajaran dalam UN di tingkat SMP dan SMA. Lupakan proses kreatif dan inovatif di dalam kelas. Lupakan pula impian untuk mengalahkan negara-negara lain dalam hal sumber daya manusia, kita sedang akan menghadapi Ujian Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun UN ditentang, ditolak, dan dikritik pelaksanaannya, toh ketika para siswanya lulus seratus persen, sekolah akan bangga dengan “prestasi” kelulusan para siswanya itu. Guru-gurunya bangga, sekolahnya bangga, dan orangtua siswa akan berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sekolah itu dengan alasan siswanya lulus seratus persen. Seringkali, itu pula yang dijadikan sebagai “iklan” sekolah kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah pun demikian. Dari tahun ke tahun meningkatkan standar nilai yang lebih tinggi. Sehingga, menurut logika pemerintah, semakin tinggi standar nilai kelulusannya semakin tinggi pula kualitas orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar jika standar semakin tinggi, maka kemungkinan lulusan semakin pandai. Tetapi, pandai dalam hal apa? Apakah dalam hal critical and analytical thinking skills ataukah dalam hal menjawab soal pilihan ganda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan global yang menghadang para siswa kita ke depan setidak-tidaknya ada dua hal penting. Yang pertama adalah persoalan persaingan teknologi. Kita membutuhkan siswa yang nantinya dapat bersaing dalam hal penguasaan dan inovasi teknologi. Jika berhadapan dengan bangsa lain, siswa kita nantinya harus memiliki kapabilitas untuk lebih inovatif dan kreatif. Persoalan lain adalah masalah penguasaan pasar global. Idealnya, nantinya kelas-kelas kita melahirkan para siswa yang mampu bernegosiasi dan berstrategi dalam hal perdagangan atau industri di tataran global. Atau, minimal regional. Dalam hal ini siswa harus memiliki kepekaan sosial dan budaya yang tinggi, kreativitas dan keuletan. Pertanyaannya, apakah kelas kita sudah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah persoalan pengembangan sumber daya alam. Kita kaya akan pertambangan, hutan, dan pertanian yang saat ini menuju ke kehancuran. Padahal, sesungguhnya itulah kekuatan kita. Apa yang telah terjadi di kelas kita, tidakkah para siswa belajar tentang hal itu? Idealnya di masa depan para siswa kita mampu mengambil langkah-langkah berani menyelamatkan sumber daya alam kita, bahkan secara terampil mengolahnya. Apakah kelas kita sudah menyiapkan hal yang demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannyaa lain yang tak kalah penting adalah apakah UN menyiapkan siswa kita untuk menghadapi tantangan di atas?&lt;br /&gt;Kenyataannya tidak. UN justru menjadi momok bagi siswa, orangtua, dan guru. Hal itu karena kurikulumnya dengan ujiannya berbeda. Darmaningtyas pernah mengatakan bahwa pendidikan kita ini kurikulumnya ke selatan, sedangkan model evaluasinya ke utara (Kompas, 18 Oktober 2007). Jadi, UN bukanlah ujung dari kurikulum itu. Hasilnya, UN menjadi sebuah tes khusus dari pemerintah yang harus disiapkan secara khusus pula. Jadilah para guru menyusun drill soal, membuat rumus-rumus pendek, dan mengakali bagaimana agar soal pilihan ganda itu dapat disiasati. Kelas jadi penuh siasat dan hafalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita butuh UN yang bermutu. Sebuah ujian yang merangsang kegiatan kelas agar lebih dinamis dan kreatif. Sesungguhnya modalnya sudah ada, yuitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu. Sayangnya, UN-nya justru berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah contoh UN ala Australia, khususnya negara bagian New South Wales. Kebetulan penulis telah mengalami mengajarkan kurikulum tersebut hampir selama lima tahun. Sejak awal dimulai pelajaran, siswa selalu diarahkan pada outcomes atau apa yang harus dikuasai oleh siswa. Outcomes itu pasti akan keluar pada saat ujian nantinya. Hal itu membuat guru di dalam kelas mengupayakan berbagai metode untuk membantu siswanya mencapai outcomes itu. Seringkali guru harus secara kreatif menggali potensi siswa untuk mencapai outcomes itu. Di sisi lain, siswa tahu apa yang akan dihadapi di ujian nantinya. Assessment Outcomes selalu menggambarkan apa yang dipelajari di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja UN kita didasarkan pada KTSP dan merupakan ujung dari KTSP, maka sebenarnya UN kita dapat memicu kreativitas dan memetakan kemampuan siswa secara lebih akurat. Dapat dikatakan, jika hal itu terjadi, benang merah pendidikan kita akan mulai terlihat.&lt;br /&gt;Namun, toh apa yang akan terjadi nanti dalam UN kita tentunya tidak akan jauh berbeda dari UN-UN sebelumnya. Semoga saja tidak terjadi kecurangan, sehingga kisah Air Mata Guru tahun lalu tidak perlu terulang lagi. Atau, jika terjadi kecurangan lagi, semoga air mata para guru terus mengalir di seluruh nusantara, agar bangsa kita memiliki guru-guru yang terus berani menjadi pahlawan, meskipun tanpa tanda jasa. Apa boleh buat, jika UN akhirnya dilaksanakan, lagi-lagi para guru harus bersama-sama dengan para siswa menghadapinya, meskipun dengan getir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-3557338647304832743?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/3557338647304832743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=3557338647304832743' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3557338647304832743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/3557338647304832743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2008/02/un-apa-boleh-buat.html' title='UN, Apa Boleh Buat?'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5048490327847205329</id><published>2007-10-02T14:27:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T20:22:56.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Ditunggu, Komunikasi Berbasis SMS di Dunia Pendidikan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Technology moves to meet those needs; and today technology moves at ever-increasing speeds; changes in taste, in some important respects, keep in step. (Hoggart, “Mass Media in a Mass Society”, 2004:10)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu orangtua mendapat laporan mengenai anak-anak mereka di akhir semester atau tahun ajaran. Melalui Rapor, orangtua mengetahui nilai dan kelakuan putra-putri mereka. Namun, seringkali informasi yang diterima orangtua terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kini sekolah-sekolah telah memanfaatkan Teknologi Informasi melalui internet. Informasi mengenai kehadiran, nilai, dan aktivitas siswa dapat diketahui melalui website. Seorang siswa tidak bisa berkelit ketika ditanya oleh orangtuanya mengenai Pekerjaan Rumah (PR) karena orangtua mereka telah mengetahuinya melalui website bahwa dia memiliki PR untuk dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, sayangnya, tidak banyak orangtua yang terbiasa mengakses internet di rumah. Meskipun internet telah menjadi hal wajar, jumlah pemakai internet di kalangan orangtua masih relatif sangat sedikit. Karenanya, alternatif lain yang sebenarnya terbuka adalah melalui pesan singkat atau SMS. Orangtua yang memiliki handphone jauh lebih banyak dibandingkan dengan orangtua yang mengakses internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan SMS dalam berkomunikasi dengan orangtua dapat menjadi sebuah terobosan baru bagaimana sekolah berkomunikasi dengan orangtua siswa. Bagi kebanyakan orangtua, terutama di kota besar, informasi melalui SMS merupakan hal yang semakin wajar. Selain wajar, informasi melalui layanan SMS dianggap lebih fleksibel, dan selain fleksibel, layanan SMS oleh sekolah akan menjadi prestise tersendiri bagi sekolah. Semakin banyak sekolah memakainya, sekolah yang tidak menggunakan teknologi ini akan dianggap sebagai sekolah yang ketinggalan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat perguruan tinggi, aplikasi SMS ini telah digunakan antara lain untuk mengetahui nilai. Di tingkat sekolah, dari TK, SD, sampai dengan SMA, layanan SMS dapat menyentuh kebutuhan mendasar akan informasi mengenai anak mereka. Apa kegiatan mereka, apa yang mesti disiapkan besok, dan misalnya, apa yang perlu diperhatikan oleh orangtua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan informasi berbasis SMS lebih menguntungkan dan efektif dibandingkan dengan website atau cara-cara konvensional seperti surat karena Pertama, informasi disampaikan secara langsung kepada orangtua. Bandingkanlah dengan informasi di dalam website akan menunggu orangtua untuk membukanya dan dan hal itu tergantung pada koneksi internet. Atau, jika melalui surat yang dititipkan kepada siswa, ada kemungkinan surat tidak sampai kepada orangtua karena berbagai alasan, misalnya lupa atau hilang. Terlebih jika surat yang dimaksud adalah surat peringatan atau teguran, maka hal itu mudah “disembunyikan” oleh siswa bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, informasi disampaikan dengan cepat, bahkan saat itu juga. Hal itu berguna untuk memberikan informasi darurat, selain juga sebagai basis informasi reguler tentang kehadiran, nilai, perilaku, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, informasi disampaikan dan dibuka sesuai waktu yang dimiliki. Meskipun disampaikan langsung dan segera, informasi melalui SMS dapat dibuka ketika sempat. Bandingkan dengan telepon yang harus diangkat saat itu juga meskipun waktunya sedang tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, SMS dapat pula dijadikan sebagai reminder agenda-agenda penting sekolah secara otomatis. Di website memang kita dapat melihat agenda kegiatan sekolah dan ada beberapa aplikasi yang dapat membuat reminder, tetapi hal itu tergantung pada waktu kita membuka koneksi ke internet. Reminder dalam bentuk printed juga memiliki kelemahan seperti hilang atau lupa untuk membaca. Oleh karena itu, informasi melalui SMS menjadi salah satu alternatif yang baik karena langsung diterima oleh orangtua pada saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, ada puluhan ribu sekolah di Indonesia dan jutaan orangtua siswa yang dapat terlibat dalam hubungan langsung sekolah – orangtua ini. Hal itu serupakan peluang bagi provider telepon seluler Indonesia untuk membangun sistem komunikasi berbasis SMS. Tantangan pula bagi sekolah-sekolah untuk menyediakan sumber daya manusia dan infrastrukturnya. Sebuah tantangan baru untuk memberikan informasi dan layanan maksimal bagi orangtua siswa dengan cepat, langsung, dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saatnya sekolah, melalui teknologi informasi, menempatkan peran kemitraan orangtua dalam pendidikan sebagai partner sekolah dalam mendidik anak-anak mereka. Di sisi lain, secara langsung maupun tak langsung, informasi dan komunikasi berbasis SMS akan menuntut vitalitas sekolah, transparansi, dan kecepatan. Perhatian terhadap siswa akan lebih personal dan intens dan itu merupakan suatu hal yang positif bagi sekolah dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap, dengan munculnya aplikasi informasi dan komunikasi berbasis SMS ini, kualitas pendidikan kita akan semakin setara dengan bangsa lain. Tentu saja, orangtua akan sangat siap dan menunggu-nunggu munculnya informasi dan komunikasi berbasis SMS ini. Masalahnya, jika masyarakat telah siap, telah siapkah sekolah-sekolah kita? (Sigit Setyawan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5048490327847205329?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5048490327847205329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5048490327847205329' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5048490327847205329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5048490327847205329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2007/10/ditunggu-komunikasi-berbasis-sms-di_02.html' title='Ditunggu, Komunikasi Berbasis SMS di Dunia Pendidikan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-1917537105599907378</id><published>2007-10-01T06:27:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T20:26:51.896+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Indonesia Milik Siapa</title><content type='html'>Dalam tugas artikel bahasa, siswa membuat survey tentang kebiasaan membuang sampah. Mereka menemukan bahwa kebanyakan siswa SMP dan SMA tahu bahwa mereka harus manjaga kebersihan. Namun, sangat banyak dari mereka, yang meskipun tahu, tetapi membuang sampah sembarangan. “Polisi aja buang puntung rokok sembarangan, Pak,” celetuk seorang siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga siswa yang mengangkat tangan dan mengatakan bahwa pendidikan kita cuma sebatas teori saja. Misalnya, menyeberang di zebra cross, berjalan di trotoar, tanda dilarang stop, semua itu tidak banyak gunanya lagi. Sebagai guru, saya terkesan dengan respon dan keberanian mereka mengutarakan pendapat, tetapi pada saat yang sama, gelisah memikirkan bagaimana merespon siwa-siswa kritis ini di depan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak hendak mengkritisi oknum atau institusi, tetapi lebih ingin menyoroti fenomena dibalik semua itu. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan para siswa kalau hingga saat ini pendidikan kita cuma sebatas teori yang mengawang-awang. Di sisi guru, muncul permasalahan lain, yaitu bagaimana dirinya terjepit diantara sebuah realitas sosial yang berbeda dengan apa yang disampaikan di dalam kelas. Guru seperti terjepit antara dua kehidupan. Dunia kehidupan sehari-hari dan sebuah buku teks yang harus disampaikan di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah jauh-jauh, di kota besar mana pun di Indonesia, kita melihat persoalan yang nyaris sama: perempatan yang semrawut, angkot yang nge-tem dan menaikkan penumpang sembarangan, penyeberang jalan yang seenaknya menyeberang di manapun dan kapanpun dia mau, sampah, rokok, bungkus permen, bungkus makanan di halte, stasiun, dan terminal. Semua sudah biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah, alih-alih dianggap memberikan teladan, para guru bisa saja dianggap sok suci, sok baik, atau munafik ketika memberikan contoh. Generasi muda telah menjadi skeptis melihat kenyataan hidup sehari-hari. Dan anehnya, hampir semua orang menganggap permasalahan ini sebagai hal biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, apakah hal “sepele” ini harus masuk ke dalam kurikulum? Sementara, persoalan budi pekerti yang sempat dibahas media masa beberapa tahun lalu seperti lenyap begitu saja dari arena diskusi publik, apalagi persoalan membuang sampah, atau mnyeberang pada tempatnya, atau naik bis harus dari halte. Mungkin ini terlalu sepele untuk dibahas.&lt;br /&gt;Namun, bukankah hidup kita memang setiap hari dibangun dari hal-hal “sepele” ini? Rutinitas bangun pagi, sarapan, bekerja, berinteraksi sosial, dan berkebudayaan. Di kota besar seperti Jakarta, macet menjadi makanan sehari-hari. Tanyakan kepada orang Jakarta, komentar mengenai Jakarta, maka jawabnnya adalah, “Ah, biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah semua insan Indonesia menginginkan ketertiban dan kenyamanan? Mungkin jawabannya adalah “ya”. Namun, kembali seperti sikap para siswa, meskipun tahu, mereka tidak mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mampu karena memang tidak ada panutan di dalam sekolah sendiri maupun di dalam masyarakat kita.&lt;br /&gt;Belum lagi kalau kita membicarakan masalah korupsi, “menembak” ketika membuat KTP dan SIM. Hal-hal tak dapat dielakkan, menyulitkan pendidik, baik guru maupun orangtua, dalam mananamkan nilai-nilai kejujuran dan keagungan budaya bangsa kita. Ketika kita membicarakan soal kejujuran dan integritas misalnya, remaja kita mempertanyakan soal kecurangan yang dilakukan orangtuanya, Pak RT, atau Pak Lurah. Juga ketika kita membicarakan tentang moralitas, mereka membicarakan para pejabat yang korupsi. Semua itu didapatnya dari media massa dengan sangat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemerintah membuat peraturan atau Perda atau Undang-Undang, lalu tidak dijalankan dengan konsisten, di sekolah, siswa yang kritis akan menjadikan itu sebagai referensi bagi mereka untuk melanggar peraturan sekolah. “Undang-undang aja dilanggar kok, Pak,” dan guru Bimbingan Penyuluhan tidak lagi memkai kata-kata mendidik, melainkan hukuman.&lt;br /&gt;Mau tidak mau, disadari atau tidak, institusi sekolah telah menjadi sebuah institusi yang menanggung beban yang sangat berat. Di mana lagi anak-anak kita “mengenal” peraturan, bertingkah laku baik, dan hal-hal yang “seharusnya”, kalau bukan di sekolah? Dari jam tujuh pagi sampai sore hari mereka berada di sekolah dan bagi remaja, hidupnya adalah untuk sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, sekolah-sekolah kita seperti “kelebihan beban”, sehingga bekerja seperti sebuah mesin yang menyampaikan kurikulum semata. Asal semua materi habis, habis sudah tanggung jawabnya. Kita hanya dapat menghitung dengan jari, sekolah-sekolah yang telah menyadari hal ini dan menjadi sekolah favorite atau unggulan. Namun, jumlah tersebut tidaklah signifikan untuk menjadi agen perubahan di tengah-tengah masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, apa yang harus dikatakan oleh seorang guru di depan kelas ketika membicarakan tentang moralitas, misalnya. Atau, apa yang harus dikatakan seorang guru apabila siswa mengeluhkan kekecewaan mereka terhadap negerinya setelah menonton Discovery Chanel, National Geography, dan buku-buku referensi tetang negara-negara maju negara tetangga terdekat kita, Malaysia dan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian adalah apa dasar-dasar kebanggaan mereka kelak atas Indonesia kita, jika kita tidak cepat-cepat memperbaiki keadaan-kedaan “sepele” ini. Alih-alih berjuang bagi bangsa, mereka akan memilih bekerja di luar negeri dengan gaji tinggi dan kebanggaan hidup di negara maju dan merasa telah memenangkan dunia. Akan tetapi, tempat mereka sesungguhnya adalah di negeri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya kita dapat memakai pengandaian ini. Anak makan tidak perlu diajari, bisa sendiri. Anak berjalan perlulah kita tuntun sedikit demi sedikit. Namun, menyeberang jalan dan berperilaku santun, bukanlah alami. Orang tua, guru, dan masyarakat-lah yang harus mengajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi pendidikan, perlulah kita menimbang sebuah kurikulum mengenai bagaimana seseorang harus hidup menjadi warga negara yang baik. Bagaimana prosedur mengurus KTP yang benar. Bagaimana berperilaku di depan publik dan memperlakukan orang tua, juga penyandang cacat. Semuanya itu akan sangat baik dipelajari sejak dari SMP, bila perlu sejak SD. Biarkan siswa-siswi bereksplorasi dimulai dari lingkungan terdekatnya, tempat di mana dia hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan pendidik, bangga bila siswa-siswinya berhasil, apalagi mengharumkan nama bangsa. Namun, sekarang di tengah-tengah permasalahan bangsa kita ini, pendidik terjepit antara realita dan utopia nasionalisme Indonesia. Sayangnya, sekolah tidak mampu menyediakan sebuah program untuk membuat anak sadar bahwa merekalah kelak yang akan membawa negara mereka di tengah-tengah pergaulan bangsa di seluruh dunia. Ataukah semua ini hanya impian seorang guru yang gelisah semata-mata? (Sigit Setyawan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-1917537105599907378?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/1917537105599907378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=1917537105599907378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1917537105599907378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/1917537105599907378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2007/10/indonesia-milik-siapa_01.html' title='Indonesia Milik Siapa'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5998364839252132706</id><published>2007-09-20T04:57:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T20:30:13.642+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Kebijakan Tidak Naik Kelas Perlu Dikaji Kembali</title><content type='html'>Setiap mendekati masa-masa akhir tahun ajaran, guru-guru disibukkan oleh penentuan nilai dan naik atau tidak naik para murid. Dalam sistem pendidikan kita saat ini, jika seorang siswa mendapatkan angka “merah” atau dibawah angka 6 (skala 10) dalam beberapa pelajaran atau pelajaran tertentu, siswa tersebut dapat dinyatakan tidak naik kelas. Sepertinya hal tersebut adalah hal yang biasa terjadi. Namun, dalam beberapa kasus, hal tersebut merupakan masalah sangat serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, persoalan seriusnya bukanlah pada seberapa banyak angka merah itu atau nilai pelajaran apa yang merah. Akan tetapi, lebih pada persoalan tepatkah kita – dunia pendidikan dasar dan menengah – menerapkan kebijakan seperti itu? Strategiskah memutuskan seorang siswa tinggal kelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan untuk tidak menaikkan siswa memiliki banyak kelemahan. Pertama, siswa yang bersangkutan akan mengalami delay untuk lulus dengan usia produktif di masa depannya. Kita hitung saja, secara normal rata-rata lulusan S1 adalah berumur 24-25 tahun. Jika anak tinggal kelas akam memiliki kemungkinan juga delay ketika dia lulus S1. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah prestasinya begitu minim karena kemampuan akademis yang lemah, ditambah lagi usianya tidak memungkinkan memperoleh kesempatan lebih panjang dalam mencari pekerjaan sebagai fresh graduate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kebijakan itu membuat semacam kondisi takut kalau tidak naik kelas. Fokusnya kemudian bukan pada takut tidak mendapatkan ilmu yang mencukupi, tetapi pada asal naik kelas atau mencari nilai yang pas-pasan. Kondisi ini memunculkan sebuah paradigma “mengatrol” (atau “mendongkrak”) nilai siswa yang rendah supaya naik kelas. Hal itu membuat angka-angka di dalam rapor menjadi angka semu, tidak berbasiskan kepada kemampuan akademis yang sesungguhnya. Mungkin inilah yang membuat dunia kerja atau perguruan tinggi tidak memedulikan angka-angka di rapor. Rapor seharusnya menjadi laporan akademis dan tingkah laku yang historis secara individual, yang merupakan gambaran proses pencapaian pendidikan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bagaimana dengan anak-anak berbakat? Misalnya saja seorang anak dengan kemampuan ilmu pasti dan ilmu sosial yang sangat rendah, tetapi nilai kesenian sangat tinggi. Kasus anak berbakat dalam bidang seni, misalnya, jika ia harus tinggal kelas, maka siapa yang tahu bahwa sebenarnya sekolah menunda kesuksesan di masa depannya untuk menjadi seniman yang hebat. Hal tersebut perlu dipertimbangkan lebih lanjut karena dengan “mendongkrak” nilai-nilainya di bidang studi lain berarti memalsukan keadaannya yang sesungguhnya dan tinggal kelas berarti penyiksaan setahun dalam “penderitaan” akademis dan psikologis. Mungkin dia bahkan gagal menjadi seniman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang ketiga hal diatas, kebijakan untuk tidak menaikkelaskan seorang siswa akan membawa dampak buruk bagi si anak. Idealnya setiap anak memiliki hak untuk naik kelas; berapa pun hasil angka yang diperolehnya di level sebelumnya. Namun, bagaimana bila nilai Bahasa Indonesia, Agama, atau Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) merah? Bukankah itu menunjukkan akhlak yang buruk sehingga sangat layak untuk tidak naik kelas?&lt;br /&gt;Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dikembalikan kepada tujuan pembelajaran masing-masing bidang studi. Pertanyaannya adalah apakah si anak mendapat nialai merah karena kelakuan buruknya ataukah karena pengetahuannya yang terbatas? Dari sisi kelakuan buruk yang mengakibatkan nilai moral dan agama reandah, dapat dikatakan bahwa seseorang memiliki attitude yang buruk. Tetapi, apakah itu cukup untuk tidak menaikkelaskan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah saatnya untuk mengubah sistem rapor kita. Mungkin seorang siswa di kelas I kelakuannya sangat buruk, tetapi sispa yang menjamin tak berubah di kelas II?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem pendidikan Australia, misalnya, pihak sekolah tidak dapat memutuskan seorang siswa untuk tinggal di level sebelumnya (atau tidak naik kelas). Catatan prestasi akademik itu merupakan catatan yang terus dibawa oleh si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi untuk sistem seperti itu, anak dan orangtua harus serius dan berhati-hati dalam proses pendidikan. Jika si anak berprestasi, maka dapat segera diketahui dejarah atau prosesnya. Sebaliknya, jika tidak serius dan nilainya rendah, pasti akan kesulitan mencari perguruan tinggi yang bermutu. Dengan begitu, masa depan seseorang dapat diperjuangkan dari masa mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui konsekuensi-konsekuensinya, maka proses pendidikan menjadi lebih transparan dan bermutu. Yang terjadi sekarang, seorang siswa diterima atau tidaknya di perguruan tinggi hanya ditentukan dalam satu dua bulan program intensif bimbingan belajar atau berdasarkan keberuntungan satu hari ketika tes seleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mungkin dapat dipikirkan bahwa semua anak berhak naik kelas. Untuk itu, rapor ideal nantinya dilengkapi dengan catatan kelakuan (attitude) dan bakat (talent) anak dari sekolah yang bersangkutan, selain – tentu saja – berisi tentang catatan akademis. Dengan demikian, seseorang dipertimbangkan dalam pekerjaan atau sekolahnya di perguruan tinggi berdasarkan seluruh proses pendidikan yang panjang dalam hidupnya. (Sigit Setyawan, Kompas 23/03/2003).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5998364839252132706?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5998364839252132706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5998364839252132706' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5998364839252132706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5998364839252132706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2007/09/kebijakan-tidak-naik-kelas-perlu-dikaji.html' title='Kebijakan Tidak Naik Kelas Perlu Dikaji Kembali'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-2857011567607693272</id><published>2007-09-16T20:56:00.002+07:00</published><updated>2009-02-21T20:21:54.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Bencana dan Mata Pelajaran Bencana</title><content type='html'>Pasca tsunami Aceh, banyak pemerintah daerah membuat simulasi tsunami. Pasca gempa Jogja, banyak pemda dan sekolah membuat latihan menghadapi gempa. Gempa di Sumatra juga telah membuat kita cepat bereaksi. Sayangnya, semua itu seolah-olah hanya reaksi sesaat. Tidak ada program tersistem di sekolah dan pelatihan terpadu yang nyata untuk masyarakat umum. Kita cepat bereaksi, tetapi lambat belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekolah mengadakan program mata pelajaran komputer, internet, bahasa Inggris tambahan, sampai bahasa asing lain selain bahasa Inggris sebagai mata pelajaran “Muatan Lokal”. Alasannya, semua itu demi masa depan para siswa. Agar para siswa mampu bersaing di era global ini. Sayangnya, untuk menghadapi bahaya nyata dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak ada sekolah yang mempersiapkan para siswanya dengan program pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya berbagai peristiwa bencana membuat kita belajar tentang satu hal, yaitu bahwa kita harus belajar tentang alam sekitar kita, lingkungan di mana kita hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja yang namanya Muatan Lokal dalam sistem rapor nasional adalah bidang studi lingkungan dan budaya lokal, mungkin masyarakat akan lebih siap menghadapi apapun yang terjadi di sekitarnya. Sebagai contoh, masyarakat pesisir pantai memiliki mata pelajaran Lingkungan dan Budaya Masyarakat Pantai. Kira-kira isinya adalah mengeksplorasi kehidupan pantai dan laut, serta mempelajari kearifan budaya lokal tentang menyelamatkan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya pula, masyarakat daerah gunung berapi belajar tentang lingkungannya seperti belajar tentang gunung berapi aktif, prosedur evakuasi, dan juga cerita-cerita legenda atau teori-teori ilmiah.&lt;br /&gt;Dalam hal gempa misalnya, para siswa perlu diajarkan tentang bagaimana bila terjadi gempa di rumah, di sekolah, di tempat umum. Apa yang harus dilakukan bila semua itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi kini, masyarakat mudah “lupa” akan fakta bahwa dari Sumatra hingga Flores adalah daerah rawan gempa. Di TV bahkan disebutkan bahwa seluruh Indonesia rawan gempa, kecuali beberapa daerah di Kalimantan dan Papua (Metro TV, 18 Desember 2006, 18:20WIB, wawancara dengan BMG). Kita mungkin bereaksi cepat akan musibah tsunami dan gempa itu. Sayang, tepat atau tidaknya reaksi itu, nantinya masyarakat akan tahu setelah peristiwanya terjadi, bukan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kita diselamatkan oleh kebetulan semata-mata. Kebetulan ada anak yang pernah mendengar cerita tentang tsunami, sehingga semua orang selamat karena naik ke atas gunung. Kebetulan pernah membaca di internet tentang cara berlindung ketika gempa terjadi, sehingga seseorang selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mengubah serba kebetulan ini menjadi sesuatu yang terencana dan ter-sistem. Itulah salah satu tugas institusi pendidikan formal atau sekolah. Bukan hanya bereaksi terhadap bencana, tetapi juga merancang dan bersiap jika hal itu terjadi. Lebih dari itu, dengan memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah, kita menjadikan ancaman bencana sebagai bagian nyata dari hidup. Apabila terjadi, para siswa tidak perlu panik menghadapinya. Mereka tahu apa yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa kesiapan menghadapi bencana, kesulitan hidup, dan mengatasi masa-masa kritis adalah sebuah kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori gempa, tsunami, gunung meletus, dan sebagainya idealnya diajarkan di sekolah sesuai dengan kebutuhan lokal. Kiat-kiat atau “resep” menghadapinya pun perlu dirumuskan, sehingga para siswa dapat membagikan itu kepada keluarganya, lingkungan rukun tetangga, desa, hingga seluruh wilayah dalam radius bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin beberapa sekolah mengambil jalan pintas seperti melatih siswa, membuat evakuasi buatan, atau memasukkan unsur-unsur pengenalan lingkungan itu ke dalam mata pelajaran yang sudah ada. Namun, latihan yang sifatnya kadang-kadang dan hanya prosedural saja, tidak memberikan wawasan kepada siswa tentang apa yang sebenarnya dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasukkan informasi tentang tsunami atau gempa ke dalam mata pelajaran dengan tujuan memperkaya wawasan siswa, juga hanya membuat siswa mengerti setengah-setengah atau hanya sampai tataran teori karena pastilah jumlah jam pelajaran untuk itu sangat terbatas.Jika sekolah mempersiapkan siswa untuk menghadapi dunia nyata, bekerja, dan meraih karir, semestinya juga sekolah menyiapkan siswa untuk bagaimana hidup di lingkungannya. Oleh karena itu, mata pelajaran semacam pengenalan terhadap lingkungan dan budaya di sekitar kita perlu ada dan dipelajari sejak anak di usia dini. Kita membutuhkan mata pelajaran bencana untuk menghadapi bencana. (Sigit Setyawan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-2857011567607693272?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/2857011567607693272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=2857011567607693272' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2857011567607693272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/2857011567607693272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2007/09/bencana-dan-mata-pelajaran-bencana.html' title='Bencana dan Mata Pelajaran Bencana'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-5204192571651397333</id><published>2007-09-13T04:13:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T20:29:30.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Ujian Nasional: Derita Batin Para Guru</title><content type='html'>Guru yang berhasil adalah guru yang dapat membawa siswanya lulus sekolah dengan nilai Ujian Nasional yang memuaskan. Guru tersebut layak mendapat pujian dan penghargaan. Guru yang para siswanya tidak lulus, meskipun para siswanya berbudi baik dan kreatif, sebaiknya dievaluasi karena membuat malu nama sekolah dan membuat siswa baru tidak yang mau mendaftar ke sekolah tersebut. Setujukah kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju atau tidak setuju, pada kenyataanya dunia pendidikan dasar dan menengah kita saat ini membawa guru pada pemikiran seperti itu. Meskipun tidak sampai ditegur, dievaluasi, atau dipecat, tetapi di dalam hati para guru, kegagalan siswa dalam Ujian Nasional juga telah menjadi ketakutan baru.&lt;br /&gt;Mulai dari kurikulum yang berubah seiring dengan perubahan kabinet, tuntutan kuliah S1, membuat silabus, mencari materi, hingga memastikan para siswanya lulus Ujian Nasional, sempurnalah “penderitaan” para guru. Seolah-olah, ujung dari jerih payah mereka dinilai “hanya” dari lulus tidaknya siswa mereka berdasarkan Ujian Nasional. Maka, tidaklah naif jika banyak guru berkesimpulan bahwa segala daya upaya, jerih lelah, lembur membuat silabus, dan sebagainya itu adalah untuk sebuah Ujian Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan seorang guru yang dengan penuh dedikasi mengajarkan anak didiknya menuangkan gagasan dan opini mereka dalam esei yang kritis dan kreatif. Guru ini memeriksa setiap esei siswanya hingga larut malam, memberikan komentar dan saran perbaikan. Hasilnya, siswa tersebut mampu membuat opini dengan bahasa yang bagus dan di pelajaran lain mereka mampu menganalisis permasalahan dengan lebih baik. Guru memberikan nilai sembilan dari skala sepuluh kepada siswa yang bersangkutan. Nilai itu adalah akumulasi hasil dari kegiatan belajar mengajar di kelas, meliputi aktivitas diskusi, mengutarakan pendapat di kelas, pekerjaan rumah, nilai latihan, ulangan, dan ulangan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, di akhir tahun sang siswa gagal dalam ujian nasional. Pikiran seperti apakah yang muncul di benak sang guru?&lt;br /&gt;Mungkin dia mengira bahwa dia telah salah menilai siswanya. Lihat, betapa salah dia memberi skor sembilan dari skala sepuluh, padahal pada kenyataannya siswa didiknya mendapat nilai kurang dari lima di Ujian Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan dilakukan sang guru di tahun berikutnya adalah hal yang menjadi kegelisahan kita semua. Bagaimana dia akan menilai si anak tersebut di tahun berikutnya ketika guru bertemu muka dengan siswa di kelas yang sama. Masihkah dedikasi tahun lalu itu dipertahankan, atau dia akan berubah menjadi guru yang semata-mata “mengejar” target: yang penting lulus Ujian Nasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mempertanyakan Peran Guru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita masih kita ingat Ki Hajar Dewantara sebagai guru yang patut ditiru. Ia mengajarkan kepada siswanya bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga karakter. Siswa dibawa pada pengalaman belajar menjadi manusia yang utuh, yaitu ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Pada titik tersebut, dua elemen penting dalam diri manusia disatukan, yaitu rasio dan hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidik bukan hanya menransfer ilmu tetapi juga memimpin siswa dengan memberikan contoh atau ing ngarsa sung tuladha. Guru harus berani menjadi role model karena para siswa, yang adalah para remaja itu, selalu membutuhkan sosok idola. Bukan hanya itu, pendidik juga mendampingi para siswa ketika mereka melakukan kesalahan atau membantu mereka membangun kreativitas atau daya cipta, Dewantara menyebutnya sebagai ing madya mangun karsa. Dan supaya kelak siswa dapat menghadapi kehidupan nyata, para guru mengawasinya dari belakang dan menegur selagi sempat, memberikan semangat agar mereka berjuang, itulah tut wuri handayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, filosofi pendidikan seperti itu tidak terlalu tercermin dalam pendidikan kita sekarang. Siapakah guru profesional itu, seperti apakah wujud peran guru di masa mendatang, apakah seperti Dewantara?&lt;br /&gt;Inilah derita batin para guru Indonesia, di satu sisi digembar-gemborkan sebagai pahlawan yang mendidik anak orang lain, di sisi lain disibukkan dengan mencari penghasilan tambahan untuk menyambung hidup anaknya sendiri. Di satu sisi direpotkan berbagai aturan dan administrasi, di sisi lain dituntut untuk mencerdaskan siswanya lahir batin. Sementara itu, peran guru memberi penilaian kepada siswa yang dikenalnya selama beberapa tahun, tidak mampu berbuat banyak untuk menentukan lulus tidaknya siswanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Ujian Nasional toh akhirnya datang juga, guru hanya bisa mengelus dada dan berharap bahwa anak didiknya lulus. Kita berharap, pemerintah memperhitungkan peran guru ini dalam sistem penilaian akhir para siswa. Jadi, sebagai pendidik, guru mengajar di kelas untuk memerdekakan siswa dari kebodohan dan membentuk karakter mereka menjadi matang untuk berperan di tengah masyarakat, bukan cuma mengejar target nilai Ujian Nasional semata-mata. Tapi, itu mungkin masih menjadi utopia untuk mengobati hati guru yang menderita. (Sigit. blog)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-5204192571651397333?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/5204192571651397333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=5204192571651397333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5204192571651397333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/5204192571651397333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2007/09/ujian-nasional-derita-batin-para-guru.html' title='Ujian Nasional: Derita Batin Para Guru'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4131866651347608774</id><published>2007-09-11T19:58:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T20:31:20.283+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Ujian Nasional Membingungkan</title><content type='html'>Belum setahun para guru dibingungkan dengan perubahan kurikulum dan Ujian Nasional (UN) 2005, Depdiknas akan “memodifikasi” lagi di 2006 ini bekerja sama dengan BSNP dan Depag. Simpang-siur dan berubahnya UN membuat masyarakat bingung. Tidak heran jika kita kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Tidak heran pula kalau sekolah internasional menjadi sangat laku di Indonesia. Juga tidak heran orang memilih sekolah ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengusulkan kalau UN seperti itu dihapus saja. Depdiknas sebaiknya mengeluarkan beberapa kurikulum untuk dipilih oleh sekolah-sekolah. Yang mampu melaksanakan KBK, biar memilih KBK. Kalau ada yang memilih CBSA, boleh juga. Untuk mengujinya, pihak yang mengeluarkan kurikulumlah yang menguji. Misalnya di Depdiknas ada Divisi KBK, maka merekalah yang membuat kurikulumnya, memantau, dan mengujinya.&lt;br /&gt;Depag juga dapat membuat Kurikulum untuk Pesantren, memantau, menguji, dan memberikan sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan kualitas, biar publik yang menilai. Kualitas kurikulum itu dengan sendirinya akan muncul ke permukaan. Kurikulum yang baik dan berkualitas nantinya pasti akan dipilih oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Nantinya, yang berkualitaslah yang akan bertahan.Kebijakan UN sekarang ini menyedot energi dan dana siswa dan sekolah tidak sedikit jumlahnya, belum lagi kalau gagal, kita ini sepertinya dianggap sebagai orang bodoh. Kemampuan seseorang seolah-olah hanya pada skor UN. Semoga ada perubahan supaya pendidikan kita kompetitif dan menghasilkan manusia Indonesia yang mampu bersaing di tataran global. (Sigit Setyawan, Kompas 18 Januari 2006).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4131866651347608774?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4131866651347608774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4131866651347608774' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4131866651347608774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4131866651347608774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2007/09/ujian-nasional-membingungkan.html' title='Ujian Nasional Membingungkan'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7770499036949377958.post-4558841724395595366</id><published>2007-09-11T18:34:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T20:32:24.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei Pendidikan'/><title type='text'>Sertifikasi Guru, Kualitas atau Legalitas?</title><content type='html'>Konsekuensi dari diundangkannya UU Guru dan Dosen, salah satunya adalah perlunya sertifikasi bagi para guru. Masyarakat masih menunggu, seperti apa nantinya bentuk sertifikasi tersebut. Jangan-jangan kebiasaan berpikir bahwa semua harus seragam dan semua harus sama, membuat kita terjebak dalam legalitas dan sikap asal-asalan. Budaya “beli” atau “asal dapat”, bahkan korupsi, dikhawatirkan akan muncul demi keluarnya sebuah sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak dapat menutup mata bahwa di satu sisi, sertifikasi tersebut merupakan beban baru bagi para guru. Apakah sertifikasi itu akan menjadikan tolak ukur kompetensi guru ataukah hanya semacam alat untuk melegalkan sebuah profesi, masih menjadi pertanyaan kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, apabila sertifikasi hanya dikeluarkan oleh pemerintah dan guru diharuskan datang mengikuti kelas untuk sertifikasi itu, suatu pertanyaan muncul, apakah guru memiliki kesadaran untuk meningkatkan kompetensi mengajarnya ataukah justru tidak mau karena merasa telah mampu?&lt;br /&gt;Alih-alih meningkatkan kompetensi, sertifikasi berdasarkan kehadiran di dalam kelasakan memunculkan sikap yang penting datang, duduk, diam, dan dengar. Guru juga kadang tak kuasa menahan jenuhnya kelas, maka bila perlu ngobrol dengan teman atau membaca buku yang menarik untuk membunuh kejenuhan di ruang kelas. Apakah sertifikasi dengan cara semacam ini yang kita butuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lazim juga bahwa pada acara seminar atau workshop, banyak orang mencari sertifikat semata. Hal itu telah membuat acara seminar, workshop, bahkan loka karya menjadi kehilangan maknanya. Padahal, inti dari acara tersebut adalah munculnya sebuah wawasan atau menambah kompetensi guru. Namun, pertanyaan yang muncul dari calon perserta biasanya adalah, “Dapat sertifikat nggak?” Bagaima jika itu terjadi dalam program sertifikasi guru?&lt;br /&gt;Begitu pentingnya sebuah sertifikat membuat orang menjadi lupa akan tujuan diadakannya sebuah program. Mungkin itulah yang akan terjadi apabila kata “wajib” diartikan sebagai “sama” atau “seragam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya jika pemerintah mengembalikan kualitas guru dan sekolah kepada masyarakat. Demikian pula, regulasi sertifikasi guru juga dapat dilakukan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat. Jadi, bukan hanya pemerintah saja yang mengeluarkan sertifikasi atau kalayakan seorang guru untuk mengajar.&lt;br /&gt;Ikatan-ikatan sarjana-sarjana, organisasi pendidikan, dan organisasi keagamaan, misalnya saja, dapat memberikan sertifikasi untuk para guru. Tinggal, pemerintah mengeluarkan aturan supaya yang mengeluarkan sertifikasi tersebut disertifikasi lebih dahulu oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persatuan atau organisasi guru yang telah ada pun akan baik apabila dapat memberikan sertifikasi. Dangan cara seperti itu, organisasi yang bersangkutan justru akan lebih peduli pada kualitas guru yang disertifikasi dengan mengontrol dan mengevaluasinya, karena jika tidak, maka kredibilatas organisasi menjadi taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya nanti, apakah seorang guru layak mengajar atau tidak, kepala sekolah atau komunitas sekolah yang akan merasakan secara langsung. Karena bagaimanapun, anak didiklah yang sebenarnya paling tahu dan merasakan kualitas sang guru. Maka, dalam hal ini, sekolah harus juga dilibatkan dalam memonitor kelayakan mengajar seorang guru. Idealnya, sekolah dapat memberikan report jika ada keluhan, sehingga organisasi yang memberikan sertifikasi atau pemerintah dapat menarik sertifikatnya atau memaksa guru yang bersangkutan berubah melalui prosedur tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma kalau sudah bersertifikat berarti beres juga akan menjadi batu sandungan bagi kualitas pendidikan kita. Sertifikasi haruslah berkala dan setelah mencapai tingkatan tertentu dan proses panjang, barulah guru yang bersangkutan ditetapkan melalui “certificate of excellence” berupa pengakuan oleh suatu organisasi atau pemerintah bahwa yang bersangkutan memang layak disebut sebagai guru. Proses pengakuan semacam itu haruslah melalui sebuah tahapan waktu dan membutuhkan rekomendasi oleh sekolah atau masyarakat melalui organisasi tertentu. Hal itu justru akan menjadi kebanggaan, baik bagi guru, sekolah, maupun anak didik. Bahkan, sertifikat semacam itulah yang dapat dipublikasikan sekolah untuk menarik simpati masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti seorang calon dokter yang baru lulus dari universitas harus berjuang untuk membuat dirinya layak untuk membuka praktik, demikianlah seorang guru harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari lembaga-lembaga sertifikasi supaya dirinya layak untuk mengajar.Pada akhirnya, akankah kualitas guru ditentukan oleh sertifikasi yang dikeluarkan atau sertifikasi hanyalah sebuah legalitas semata-mata, akan dibuktikan oleh waktu. Kita semua berharap, undang-undang dan sertifikasi ini kembali pada tujuannya semula, yaitu menaikkan kualitas pendidikan di negeri kita supaya sejajar bahkan lebih unggul dibandingkan dengan negara lain. (Sigit Setyawan, Kompas 3 April 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7770499036949377958-4558841724395595366?l=sigitspot.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sigitspot.blogspot.com/feeds/4558841724395595366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7770499036949377958&amp;postID=4558841724395595366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4558841724395595366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7770499036949377958/posts/default/4558841724395595366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sigitspot.blogspot.com/2007/09/sertifikasi-guru-kualitas-atau.html' title='Sertifikasi Guru, Kualitas atau Legalitas?'/><author><name>SIGIT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_MDIim4dapkQ/SyGJms5rmrI/AAAAAAAAAC4/o7NvH-yt3SA/S220/guelagi.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
